ujaran ini tak pernah berhenti
bahwa sesungguhnya Kau yang selalu dan senantiasa kulemparkan
meski secara naluri dan hati tak merasa
biarkan kata-kata ini menikah dan saling bertalian
seandainya tak pernah lahir keajaiban ini
tentu saat ini diri tak lagi terkontaminasi
dengan bau-bau yang tak lagi merasuk asa
dan terbiarkan menari serta melenggang sepuasnya
ada satu racauan yang terus berulang jika masih saja kusebut nama itu
entah dalam hujan yang panas
atau bahkan dalam panas yang menghujan
sungguhpun itu terjadi
selalu dan akan terus ada payung-payung yang menaungi
bahkan saat isak ini berlarian mengejar Kau yang tak lagi pergi
tak sedetikpun ada niat kembali dalam gejolak
antara keajaiban dan kematian yang tak lagi bertalian dengan kata
pahamnya sudah dalam lingkup dewasa
meskipun raga tak lagi mampu dianggap muda
menilai dan menilai untuk memantaskan yang pantas
dan menyingkirkan yang tak sesuai
Tidak ada komentar:
Posting Komentar