Minggu, 30 Agustus 2020

Kira

Ketidak ridhoanmu sama sekali tidak berpengaruh dalam hidupku. 
Jika kau tidak menginginkan namun Allah dan suamiku meridhoi. Kau mau apa?
Apapun yg terjadi dalam hidupku sesungguhnya kau tidak berhak mengaturnya karena kau bukan Tuhan!
Bicaramu menyakiti, sikapmu tak mengandung empati dan simpati. Masihkah kau mengatakan bahwa kau ......ku?
-Kira-

Namaku Kira. Usiaku kepala 3 lewat lima. Baru 5 tahun menapaki rumah tangga. Namun ditangga ke-5 ini ujian bertubi-tubi tanpa ampun menghampiri. 
Dimulai dari kepergian putra sulungku yang berusia 3 beberapa pekan lalu karena kecelakaan. Ditambah kini anak keduaku terbaring sakit dengan selang infus yang tak kunjung lepas lebih dari 3 hari lamanya
Air mataku sudah habis tertuang hingga tak menyisakan ruang untukku menelan rasa asinnya.
Berat bagiku menerima kenyataan ini. Namun beban ini tak kutanggung sendiri. Ada suami yang senantiasa mengingatkan bahwa semua yang diberikan hanyalah titipan.
Suamiku begitu tegar meski kurasakan betapa berat dia menerima ujian ini. Belajar ikhlas dan sabar lebih dari sekadar mengucapkan kata itu sendiri amatlah tak mudah. Namun kami kembalikan lagi semua padaNya. Pemilik alam semesta beserta seluruh isinya.
Bismillah aku pasrah
Di tengah kepasarahan yang kami limpahkan kepada Rabbi lagi lagi ujian yang tak menyenangkan datang lagi. Dan lebih parahnya ujian ini datang dari keluarga dekat sendiri.
Ujian ini datang berupa lisan yang tak menyenangkan. Menyakiti hati lebih dari sekali. Di tengah luka yang masih menganga lisan menyakitkan itu seolah memperparah keadaan.

"ini semua gara-gara kamu gak becus ngerawat anak"
"dipikir jadi orangtua mudah?"
"Coba kalau waktu itu... Pasti gak akan gini kejadiannya"
Setiap bertemu kalimat" ini seolah sapaan wajar yang senantiasa ia lontarkan. Sekali dua kali kuanggap angin lalu yang kan berhembus jauh dan tak akan kurasakan lagi terpaannya.
Namun lambat laun ucapan menyakitkan itu menjelma bak racun yang membuatku mempecundangi diri sendiri bahwa semua yang terjadi karena salahku. Karena perbuatanku. Ya karena aku!
Aku tahu dia kehilangan cucu kesayangannya yang amat sangat dia banggakan. Namun tidakah dia tahu aku yang lebih kehilangan, seorang yang pernah satu tubuh denganku?
Sabar kujadikan perisai dengan diam sebagai tindakan. Suamiku selalu mengingatkan bahawa jangan pernah memasukan ucapan itu ke dalam hati. Tanpa dia ketahui ucapan menyakitkan itu telah merajam kalbuku dan membuatku jadi pesakitan.
Tapi semua kubungkus rapat. Seolah tidak apa-apa karena fokusku merawat si bungsu yang kini mulai berangsur membaik. Kesembuhan bungsu menjadi penglipur laraku. Penyembuh lukaku.
Sampai kesabaranku habis pada masanya. Diamku tak lagi menjadi senjata. Kujawab semua celotehnya dengan tetap menjunjung kesantunan dan meninggikan hormat.
Dia terdiam, nanar memandangku penuh ketidaksukaan. Setiap satu kalimat lemparannya kuterkam dengan penuh pamungkas dan rasenggan. Karena kemungkaran tak bisa serta merta didiamkan.
Dan aku bukan bonekanya!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar