Minggu, 24 Februari 2019

NHW 4 Mendidik dengan Kekuatan Fitrah

Materi ke empat kelas Matrikulasi tentang "Mendidik Anak dengan Kekuatan Fitrah"

Materi ini secara jelas membeberkan tentang fitrah yang sudah disematkan kepada anak-anak oleh Allah SWT. Fitrah yang harus diasah dan ditumbuh kembangkan oleh orang tua agar anak menemukan potensi, bakat, dan jati dirinya serta misi spesifik dalam menjalani kehidupan di dunia untuk mencapai akhirat.

Mendidik dengan kekuatan fitrah sejatinya merupakan proses untuk membangkitkan dan menyadarkan, dan menguatkan fitrah anak itu sendiri. Tidak mudah memang ya, tapi mabun harus belajar terus untuk mendidik anak-anak (Awan dan Angkasa) agar fitrah-fitrah mereka terawat dengan baik dan berusaha untuk tidak mencederai agar mereka tumbuh menjadi anak-anak yang tangguh, salih, dan paham bahwa mereka punya peranan penting di muka bumi ini.
Lalu kita berlanjut ke NHW 4, ini semua sepertinya memang memiliki benang merah dari NHW 1. Yasudah.... Berikut NHW yang sudah saya kerjakan dengan semaksimal mungkin (Minggu ini benar-benar luar biasa)
Bismillah...

a. Mari kita lihat kembali Nice Homework #1 , apakah sampai hari ini anda tetap memilih jurusan ilmu tersebut di Universitas Kehidupan ini? Atau setelah merenung beberapa minggu ini, anda ingin mengubah jurusan ilmu yang akan dikuasai?

Wow.... Pertanyaannya ini semakin mengukuhkan bahwasanya jurusan ilmu BudanTriha (Ibu Teladan Istri Soleha) menjadi pilihan yang mantap surantap dan terpatri di jiwa sehingga tidak akan goyah untuk berubah jurusan ilmu di Universitas Kehidupan.

b. Mari kita lihat Nice Homework #2, sudahkah kita belajar konsisten untuk mengisi checklist harian kita? Checklist ini sebagai sarana kita untuk senantiasa terpicu “memantaskan diri” setiap saat. Latih dengan keras diri anda, agar lingkungan sekitar menjadi lunak terhadap diri kita.

Alhamdulillah sejauh ini semua berjalan sebagaimana mestinya. Tetap terchecklist setiap selesai melakukan indikator harian baik sebagai individu, istri, maupun ibu. Memang kadangkala rasa malas lebih besar daripada niat akan tetapi demi kehidupan yang lebih baik saya sering menangguhkan diri saya untuk menjalani itu semua dengan suka cita karena ini akan berdampak besar bagi diri, keluarga, dan lingkungan sekitar saya. Saya merasa jauh lebih disiplin. Meski jujur saja ada beberapa yang tidak dicheklist karena lupa 😅 jadi begitu ingat baru deh. Karena indikatornya di tempel di kamar jadi semua bisa lihat termasuk anak.


c. Baca dan renungkan kembali Nice Homework #3, apakah sudah terbayang apa kira-kira maksud Allah menciptakan kita di muka bumi ini? Kalau sudah, maka tetapkan bidang yang akan kita kuasai, sehingga peran hidup anda akan makin terlihat.

Ya, saya merasa bahwasannya Allah menghadirkan saya dimuka bumi ini sebagai inspirator lewat mendidik anak-anak (baik anak sendiri maupun anak orang lain). Saya senang sekali mengajar dan memberikan semangat anak-anak untuk terus belajar. Saya ingin menjadikan anak-anak saya sebagai generasi salih sukses dunia dan akhirat. Selain itu, menjadi istri Soleha juga merupakan bidang yang ingin saya kuasai. Kenapa? Karena menjadi istri Soleha merupakan tiket untuk masuk ke dalam surgaNya. Bidang ini memang tak ringan tapi saya akan berusaha terus mewujudkannya.

Misi hidup: Memberikan inspirasi dan kebermanfaatan hidup bagi keluarga dan masyarakat.
Bidang : Pendidikan anak dan Istri soleha
Peran : Pendidik yang menginspirasi


d. Setelah menemukan 3 hal tersebut, susunlah ilmu-ilmu apa saja yang diperlukan untuk menjalankan misi tersebut.
Untuk menjadi ahli yang memasteri bidang pendidikan anak dan istri Soleha tahapan ilmu yang harus saya kuasai adalah sebagai berikut:

1. Bunda Sayang     : Ilmu-ilmu seputar pendidikan anak, komunikasi efektif dengan buah hati, pengelolaan emosi.
2. Bunda Cekatan   : Ilmu-ilmu seputar manajemen pengelolaan diri dan rumah tangga.
3. Bunda Produktif : Ilmu-ilmu seputar kemandirian finansial melalui literasi yang berkaitan dengan pendidikan anak dan istri soleha.
4. Bunda Shaleha    : Ilmu tentang berbagi manfaat kepada banyak orang (pendirian sekolah)

e. Tetapkan Milestone untuk memandu setiap perjalanan anda menjalankan Misi Hidup

Saya menetapkan hari ini sebagai KM 0 . Di usia 31 tahun kurang 5  bulan ini. saya mampu berkomitmen untuk mencapai  10.000 (sepuluh ribu ) jam terbang  di bidang yang telah ditentukan, agar lebih mantap menjalankan misi hidup. Sejak hari ini saya akan berusaha setiap harinya  mendedikasikan 8 jam waktu untuk mencari ilmu, mempraktekkan, dan menuliskannya bersama dengan anak-anak.  Semoga dalam jangka waktu kurang lebih 4 tahun, sudah bisa melihat hasil yang dinginkan.

Berikut ini milestone yang saya  tetapkan :
KM 0 – KM 1  (tahun 1 - usia 31 hingga 32) : Menguasai Ilmu seputar Bunda Sayang - bisa menjadi ibu teladan yang sayang anak dan suami. Mendidik buah hati sepenuh jiwa raga.
KM 1– KM 2 (tahun 2 - usia 32 hingga 33) : Menguasai Ilmu seputar Bunda Cekatan - bisa menjadi ibu yang lebih kreatif dan inovatif dalam mengurusi keluarga dan rumah tangga.
KM 2 – KM 3 (tahun 3 - usia 33 hingga 34) : Menguasai Ilmu seputar Bunda Produktif - bisa menuju kemandirian finansial melalui bakat dan minat, seperti mengajar, berdagang, dan menulis.
KM 3 – KM 4 (tahun 4 - usia 34 hingga 35) : Menguasai Ilmu seputar Bunda shaleha - bisa mendidik atau mendirikan sekolah untuk anak-anak usia dini atau bahkan mendirikan yayasan untuk pendidikan dari jenjang paud- SD. Allahuma aamiin aamiin aamiin YRA.




F.Koreksi kembali checklist anda di NHW#2, apakah sudah anda masukkan waktu-waktu untuk mempelajari ilmu-ilmu tersebut di atas. Kalau belum segera ubah dan cantumkan.

Saya sudah mencantumkan beberapa waktu untuk mempelajari ilmu tersebut antara lain, membaca buku/artikel yang berkaitan dengan bidang yang ingin saya kuasai, menulis terkait pendidikan anak dan istri Soleha. Mungkin beberapa akan saya tambahkan nantinya.



G.  Lakukan, lakukan, lakukan, lakukan.
Karena perjalanan ribuan mil selalu dimulai oleh langkah pertama, segera tetapkan KM 0 anda. Bismillah... Semoga saya bisa melakukannya. Aamiin


Mabun NusaNTara
Reisa Dara Rengganis

Sabtu, 23 Februari 2019

Jemput Mama

Tanggal 20 Februari mama pulang suluk di MZHK Purwokerto. Letaknya di desa Gandatapa dekat Purbalingga. Kami dari ciloninng berempat (Mabun, Yayah, Awan, dan Angkasa) naik motor tahun 1992, menuju sana menempuh 5 jam perjalanan berangkat. Maklum demi keselamatan kami semua jadi pelan-pelan. Lalu akhirnya mama kita bawa ke rumah. Naik mobil mereka sih. Sampai rumah besoknya kami bawa mama hepi" ke kemit. Ngilangin kangen cucu sekaligus jalan" Deket tempat wisata yang jaraknya cuma 7 menit dari Rumah.


Ini dia penampakannya. Hehehe





Itu tadi penampakan kami semua. Heheheh masuk Kemit Education hanya 5ribu perak saja per orang. Jarak Kemit dari Rumah hanya 7 menit saja sekitar 1,5KM.


Demikianlah kisah kami yang penting udah bawa mama ke rumah dan ngajak jalan-jalan yang bikin hepiii. Siangnya mama dan rombongan cuss lanjut pulang ke Jakarta.

Minggu, 17 Februari 2019

NHW 3 Rumah Tangga Sebagai Tonggak Peradaban

Yap, judul yang dirasa tepat untuk mengerjakan NHW di Minggu ketiga ini. Setelah materi "Membangun Peradaban dari Dalam Rumah" terpaparkan dan didiskusikan dengan baik di WAG Matrikulasi IIPB Banyumas Raya saatnya saya mengerjakan tugas ciamik ala IIP. Apa itu?

Pertama tugas menulis surat cinta untuk suami terkasih. Sebelum menulis saya kembali merogoh memori hampir 4 tahun lalu. Saat saya menerima surat cinta dari suami tercinta di hari pernikahan kami. Yap, di hari bahagia itu seluruh tamu undangan yang hadir sekaligus pengantinnya wajib memberikan saya surat cinta. Rasanya bahagia sekali mendapat surat cinta dari seluruh rekan, sahabat, dan keluarga. Saya memang suka sesuatu yang beda karena itu akan menjadi kenangan seumur hidup saya. Toh, para tamu undangan juga mendapatkan surat cinta juga dari saya berupa cerpen perkenalan saya dan suami sampai menikah sebagai sovenir. Saya masih simpan semua surat cinta itu sampai sekarang dan menjadi salah satu hiasan di dalam rumah.

Surat cinta dari tamu undangan pernikahan kami 4 tahun (lebih) lalu 

Dan hari ini saya pun mulai mengerjakan NHW di poin A, yakni menulis surat untuk suami tercinta. Wew, menantang sekali ya. Dari kemarin sudah dipikir-pikir mau menulis apa. Akhirnya di malam hari saat suami Salat isya di Masjid dan yasinan (malam Jumat) saya pun punya kesempatan untuk menuliskannya pada 3 lembar kertas daur ulang yang saya ikat dengan pengikat bungkusan tempe. (Kalau di desa tempenya dibungkus daun terus diikat dengan tali dari bambu yang diserut) Saya pakai cara yang beda karena ini spesial untuk suami terkasih. Terlebih suami pecinta tempe jadi ini akan menarik sekali baginya. Ini dia penampakan suratnya.


Halaman 1

Halaman 2
Halaman 3
Wuih, selesai nulis surat cinta, langsung saya letakkan di atas bantal suami. Eh jam 21.00 suami pulang dan melihat ada surat di atas bantal kesayangannya. Apa kalimat yang terlontar?

"Mabun nulis surat buat Yayah? Yayah jadi malu" hihihi saya pun melanjutkan aktivitas mendongeng karena jam 21.00 saatnya Awan tidur ganteng. Suami langsung membaca surat itu sambil senyam-senyum senyum nggak jelas. Padahal dalam hati saya yang dag dig dueeerrrr. Selesai dibaca, saya pun selesai mendongeng. Apa responnya? Mas Suami bilang sangat bahagia lalu memeluk Awan yang belum tidur dan berlanjut memeluk saya. Alhamdulillah dapat bonus cium pipi kanan kiri :). Kira mah sudah selesai sampai situ. Ternyata oh ternyata, suratnya langsung digantung di lemari baju dekat dengan tasbeh hitam favoritnya. Waktu ditanya sama Awan kenapa ditaruh disitu jawabannya bikin saya mau terbang tapi gak bisa karena gak punya sayap (apasih) 

"Karena Yayah bahagia, mau lihat tulisan mabun terus setiap hari" Cesss saya udah mau netes air mata tapi saya bilang kalau udah ngantuk sampai keluar air matanya, malu ada Awan kalau ketawan mewek :P

Alhamdulillah saya bahagia sebahagia Yayah yang dapat surat cinta.


Lanjut ke potensi yang dimiliki anak.

Afdiaz WirA Nusa (Awan)



Amurwa Angkasa Tara (Angkasa)

Angkasa dan potensi kekuatan saat ini

Amurwa Angkasa 9Month


Potensi dan kekuatan diri saya (mabun Reisa)





Lingkungan tempat tinggal dan tantangan

Saya dan keluarga kini tinggal di sebuah desa di kab. Cilacap tepatnya Desa Karanganyar. Tantangan yang saya lihat dan hadapi antara lain: Masyarkat yang masih memiliki stereotipe berpikir bahwa yang muda harus bekerja di kota sementara anak-anak dititipkan pada nenek dan kakeknya. Itu hal yang ingin saya ubah dengan cara saya dan suami tinggal dan bekerja di desa. Meski potensi pekerjaan tidak sebanyak di kota tapi entah kenapa kami ingin sekali membangun desa ini. Meski secara terperinci belum jelas gambaran yang akan kami lakukan. Selain itu saya ingin mendidik dan terus membersamai anak-anak saya meski banyak masyarakat yang menyinyir terkait gelar sarjana yang tak saya gunakan untuk bekerja tapi malah mengurus anak. Mengubah pandangan mereka memang tak mudah tapi saya akan menunjukkannya.

Selain itu, tingkat pendidikan anak-anak di sini masih rendah. Mereka cenderung berpendidikan hingga SMP-SMA lalu memutuskan untuk bekerja atau menikah. Hal yang lebih menantang lagi bahwa masih banyak anak-anak sekolah yang lebih memilih untuk bolos sekolah dan berkumpul bersama rekan-rekannya untuk sekadar merokok dan itu terjadi di tempat tetangga saya sendiri. Hal itu menjadi pemandangan yang negatif bagi anak-anak saya yang saat ini sedang memiliki impian untuk bersekolah (karena baginya sekolah adalah hal yang menyenangkan) tapi begitu melihat anak-anak berseragam banyak yang bolos menjadikan pertanyaan besar dalam dirinya. Saya terus berusaha untuk membentengi dan memberikan penjelasan pada anak saya yang InsyaAllah taun depan akan bersekolah.


Saya sudah berusaha membuka perpustakaan mini untuk anak-anak di desa sini namun memang beda anak kota dan desa. Anak desa cenderung pemalu sehingga sampai saat ini jarang sekali yang datang untuk sekadar membaca. Padahal saya ingin sekali berbagi ilmu lewat buku untuk mereka. Semoga suatu saat nanti keinginan saya terwujud agar mereka lebih suka membaca buku daripada bermain ponsel atau berkumpul tanpa jelas tujuannya.

Demikian tugas NHW 3 ini saya kerjakan. Mencicil sedikit demi sedikit Alhamdulillah selesai.

Mabun NusaNTara
Reisa Dara Rengganis


















Selasa, 12 Februari 2019

Kesederhanaan Yayah

Yayah Awan dan Angkasa

Hidupmu yang sederhana dan bahkan terlalu sederhana kadang membuatku menitikkan air mata.

Bagaimana tidak? Alas kaki yang kau gunakan dalam menjemput rezeki sudah koyak. Sol bawahnya sungguh tak layak, bagian atas sobek berarak. Tak satu tapi keduanya.

Berkali-kali kuingatkan gantilah sandal. Jawabanmu selalu sama. Itu masih bisa digunakan. Bisa dimanfaatkan.

Padahal jauh dalam lubuk hati yang paling dalam sesungguhnya engkau tak mau menghamburkan uang jika bukan untuk keperluan anak dan istrimu.

Apa yang kau hamburkan Yayah? Tidak ada! Kau kesampingkan semua kebutuhanmu demi kami. Padahal bagi kami sandalmu sudah perlu diganti.

Setiap kutawarkan membeli sandal baru kau selalu menggeleng dengan senyum. Uangnya buat beli beras. Uangnya buat belanja, uangnya buat nabung, dan rentetan alasan yang kau siapkan untuk menjawab keinginanku.

Padahal ingin ku hanya satu, gantilah sandalmu yang lebih layak. Yang akan membuatmu merasa lebih nyaman dalam menjemput rezekimu.

Percayalah Yayah, mungkin sampai detik ini kita masih di sini. Masih meraba menemukan kehidupan kita yang terbaik. Ini proses kita, mungkin sekarang kita di bawah tapi ingatlah Yayah Allah selalu adil dan sesuai prasangka kita. Percayalah kelak kita akan berada dalam karunia-Nya yang sempurna. Saat ini toh kita senantiasa diberi kelimpahan rezeki. Rezeki tak melulu materi bukan. Kesehatan, anak-anak yang salih pun rezeki luar biasa yang telah Allah berikan pada kita.

Yayah selalu mengingatkan bahwa sederhana dan rasa syukurlah yang membuat kita selalu merasa cukup. Cukuplah Yah, keterkaitan dengan alas kaki pun dirasa cukup. Menggantinya dengan yang baru/lebih baik bukan berarti mengabaikan kesederhanaan itu sendiri.
Semangat terus yayah



Ket: harga sandal baru 35k, mungkin dulu bagi kita apalah artinya segitu. Tapi saat ini pun tetap hadirkan rasa itu karena itu untuk kenyamananmu dalam menjemput rezeki bagi kita sekeluarga.

Kamis, 07 Februari 2019

Indikator Profesionalisme sebagai Individu, Istri, dan Ibu



Masuk Minggu kedua saatnya mengerjakan Nhw 2. Setelah materi Menjadi Ibu Profesional Kebanggan Keluarga  terpaparkan dan didiskusikan secara menarik akhirnya sampailah kita pada tahap pengerjaan tugas.
Bunda, setelah memahami tahap awal menjadi Ibu Profesional, Kebanggaan Keluarga. Pekan ini kita akan belajar membuat Checklist Indikator Profesionalisme Perempuan

1. Sebagai individu
2. Sebagai istri
3. Sebagai ibu

Kunci dari membuat indikator kita singkat menjadi SMART yaitu :
SPECIFIK (unik/detil)
MEASURABLE (terukur, contoh : dalam 1 bulan, 4 kali sharing hasil belajar)
ACHIEVABLE (bisa diraih, tidak terlalu susah dan tidak terlalu mudah)
REALISTIC (berhubungan dengan kondisi kehidupan sehari-hari)
TIMEBOND (berikan batas waktu)

Itu dia tugasnya. Sebenarnya tugas yang diberikan mudah tapi tak mudah. Apasih. Mudah di sini karena sebagian sudah menjadi pedoman saya. Saya sudah terbiasa melakukan checklist harian berdasarkan agenda yang telah saya buat seperti ini:




Nah sekarang disuruh buat indikator. Gak jauh beda sih tapi yang bikin beda karena saya harus bertanya apa yg membuat suami dan anak bahagia. Kalau Indikator individu, Alhamdulillah lancar jaya tak ada kendala. Kok bisa? Karena itu bagian dari perbaikan dan kebahagiaan diri sendiri. Sedangkan indikator sebagai istri dan ibu dirasa tidak terlalu mudah karena harus bertanya pada pelanggan rumah tangga yakni Yayah sebagai suami dan Awan Angkasa sebagai anak. Tentu saja hal ini akan memantik diri untuk menjadi lebih baik dan membuat mereka bahagia terhadap diri menurut versi mereka masing-masing. Sudah ditanyakan ke Suami? Sudah! Ke Awan? Sudah juga. (Kalau Angkasa gak ditanyakan, tapi lebih ditangkap bahasa tubuhnya terkait kebahagiaan apa yang dia rasakan terhadap perilaku mabunnya.


Jujur jawaban Yayah di luar ekspektasi. Kirain mah dia bahagia kalau mabun bisa masak enak, bisa merapikan rumah secara maksimal dll. Tapi ternyata tidak! Yayah bilang yang terpenting Mabun senyum, ceria, dan tidak marah. Wow! Ternyata bagi Yayah gak masalah kalau masakan sederhana saja karena memang Yayah suka masakan mabun apa adanya. Sedangkan kalau rumah berantakan baginya pun gak masalah karena emang bocah-bocah masih kecil. "Akan ada masanya nanti rumah bersih dan rapi, Bun sekarang kita nikmatin aja berantakan ini. Toh mabun juga sudah berusaha berbenah setiap hari. Mungkin nanti kalau anak-anak sudah besar rumah bisa bersih dan rapi." Cesss...
Dari sini dapat ditarik kesimpulan bahwasannya kita emang gak bisa berasumsi atau menyimpulkan sendiri tentang rasa bahagia suami yang didapatkan dari kita. Memang perlu ditanyakan! Begitu pula dengan Awan. Ternyata dia lebih bahagia kalau mabunnya mau bersabar menghadapinya dan tidak marah-marah. (Ya Allah, anak usia 3,5th bisa buat kalimat yang emaknya meleleh) oke-oke lebih banyak ke perbaikan sikap ternyata. Tapi jujur dalam indikator yang saya buat selain perbaikan sikap ada juga bahasa tubuh mereka yang saya tangkap terhadap hal yang saya lakukan dan itu membuat Yayah, Awan, dan Angkasa terlihat serta terasa bahagia. Lah kelamaan prolog! Yaudah ini dia indikator yang telah saya buat. Sila dicek!

Berikut checklist Indikator Profesionalisme Perempuan

Sebagai Individu
Keterangan: * artinya dilakukan minimal seminggu 3x.
Individu





Sebagai Istri

Istri



Sebagai Ibu


Nah Semuanya ini saya buat berbatas waktu, dicoba dululah sampai 100 hari biar menjadi kebiasaan. Semoga bukan sekadar tulisan saja namun juga dikerjakan dengan sepenuh hati dan sungguh-sungguh.
Demikian NHW 2 saya

Mabun NusaNTara

Reisa Dara Rengganis

Jumat, 01 Februari 2019

NHW 1 BudanTriha






Kalau ditanya tentang jurusan ilmu yang akan saya tekuni di Universitas Kehidupan ini jawaban saya adalah menjadi BudanTriha singkatan dari Ibu Teladan dan Istri Soleha. Pertanyaan yang cukup sederhana namun tak ringan juga dalam menjawabnya. Tapi, saya mantap menjawab demikian. Ini jawaban dari apa sih? Ini lho, saya sedang mengerjakan tugas NHW (Nice Home Work) yang diberikan oleh Institut Ibu Profesional. Saya sudah orat-oret membuat jawaban ini menjadi impian. Impian itu untuk apa? Untuk diwujudkanlah. Masa hanya dilamunkan saja?

Alasan kuat apa yang membuat saya memilih jurusan ilmu tersebut? Banyak sekali alasannya. Pertama karena saya makhluk ciptaan Allah. Tentu terciptanya saya di dunia ini memiliki tujuan. Bagi saya menjadi seorang BudanTriha merupakan salah satu jurusan ilmu yang akan membawa saya ke Allah sebagai tujuan dengan segala bentuk pertanggungjawaban besar. Apalagi jika saya sudah benar-benar menjadi BudanTriha Allah akan ridho ke saya. So, kelak saya akan masuk ke dalam surgaNya dengan rasa bahagia luar biasa.

Kedua, karena keluarga. Yap sekarang saya berpredikat sebagai seorang istri. Tentu saya tidak mau menjadi istri yang biasa-biasa saja. Saya ingin sekali menjadi istri Soleha seperti tuntunan Al-Quran dan hadits. Apalagi tugas seorang suami amatlah tak ringan, yakni menyelamatkan keluarga dari siksa api neraka. Saya ingin sekali membantu meringankan tugas suami saya salah satunya dengan menjadi Istri Soleha (Jadi pengen nangis karena sampai saat ini belum soleha seutuhnya 😭 . Selain berpredikat sebagai istri saya juga sudah berpredikat sebagai seorang Ibu alias Mabun (ini panggilan saya bagi dua anak saya). Saya juga tak ingin predikat sebagai ibu ini hanya biasa-biasa saja. Saya mau jadi ibu teladan bagi mereka. Ibu yang selalu membersamai, mendidik, dan membuat mereka menjadi generasi salih aamiin. Sebab, yang saya ketahui ibu merupakan tombak peradaban. Ibu juga sebagai madrasah utama bagi anak-anaknya.

Catatan saya


Ketiga, jurusan ilmu tersebut belum ada di universitas yang ada sekalipun bergengsi. Hanya ada di universitas kehidupan. Jadi, dalam menjalani kehidupan inilah saya akan terus belajar agar impian saya menjadi seorang BudanTriha terwujud. Aamiin Dengan mengambil jurusan BudanTriha saya berharap akan ada perubahan diri menjadi lebih baik lagi karena saya belum punya ilmu dan bekal sepenuhnya dalam menjalani hidup sebagai seorang istri dan ibu. Semua masih meraba dan menjalani saja dengan berusaha maksimal. Meski yang saya sadari bahwasanya menjadi seorang ibu harus ada ilmunya.

Dulu saya seorang guru yang mengajar murid dan harus berpredikat sarjana dengan menempuh pendidikan S1 selama 4 tahun. Padahal saya hanya mengajar mereka beberapa jam saja. Apalagi menjadi seorang ibu yang harus mengajar, mendidik, membersamai anak dari lahir sampai mereka dewasa kelak tentu saya harus terus banyak belajar lebih dari S1. Meski tidak melulu mengejar gelar tapi ilmulah yang harus dikejar dan diamalkan. Terlebih saya masih punya pr yang tak ringan dalam menjalankan peran sebagai seorang ibu sekaligus istri dari mulai pr mengelola emosi, mengelola hati, mengelola keuangan dan lain sebagainya sehingga peran tersebut kurang maksimal dikerjakan. Oleh karena itu, jurusan ilmu BudanTriha amatlah penting buat saya.

Keempat, jurusan ilmu BudanTriha merupakan jurusan yang menurut saya multitalenta! Predikatnya memang satu tapi bisa mengerjakan banyak hal. Bahkan menurut saya bisa memenuhi kebutuhan berkeluarga dan bernegara. Seorang BudanTriha bisa menjadi apa saja yang dia inginkan dan sukai. Tak akan menghambat prestasi dan passion dan justru menjadi teladan bagi semua. Rasanya jika lulus dari jurusan ilmu BudanTriha bahagia dunia akhirat. Allahuma Aamiin.



Strategi menuntut ilmu yang saya rencanakan dalam bidang tersebut antara lain:

1. Mendekatkan diri pada Allah. Saya merasa ilmu tersebut tidak akan masuk jika dengan Sang Empunya Kehidupan tidak dekat. Beribadah kepadaNya melalui berbagai cara akan saya lakukan. Saya sadari kedekatan bersamanya kurang. Padahal Dia sudah memberikan saya waktu 24 jam. Saya merasa kurang dekat selama ini karena selalu saja ada alasan dan godaan.

2. Meluruskan niat dan hanya berharap Allah ridho dengan saya agar semua berjalan secara harmoni, selaras, dan mudah bagi saya dalam mewujudkan impian menjadi lulusan BudanTriha.

3. Saya akan mengedepankan akhlak agar dalam menuntut ilmu tersebut berjalan sebagaimana mestinya. Akhlak mulia merupakan kunci utama dalam menuntut ilmu. Beberapa akhlak mulia yang harus saya tanamkan dan tumbuh kembangkan dengan subur di dalam jiwa antara lain, sabar, syukur, rendah hati, disiplin, tidak marah, patuh pada pemimpin, bersuka cita, tidak mengeluh, mudah memaafkan, mengakui kesalahan dan lain sebagainya. (Kalau nulisnya gampang banget rasanya tapi prakteknya tidak mudah tapi harus dimulai!) Dengan akhlak mulia ini tentu semua dapat dikerjakan dengan baik terutama dalam menuntut ilmu. Selain itu akhlak mulia akan berperan penting sebagai jalan yang akan mengantarkan saya mewujudkan impian untuk menjadi BudanTriha. Terlebih jika akhlak mulia dalam diri ini terwujud tentu akan menjadi duplikat bagi buah hati saya. Karena anak itu cenderung meniru.

4.  Mulai menata diri dengan mengelola waktu semaksimal mungkin. Menjalankan manajemen waktu yang sudah saya buat baik melalui agenda harian. Saat waktu 24 jam saya penuhi dengan berbagai hal-hal bermanfaat tentu hal ini akan membuat saya merasa nyaman menjalani kehidupan.

5.  Mencari ilmu dalam menjadi seorang ibu teladan sekaligus istri Soleha salah satunya dengan mengikuti Institut Ibu Profesional, berbagai kuliah WA ataupun seminar yang berkaitan dengan cara mendidik anak dan menjadi istri Soleha (ilmu kepatuhan, ilmu tentang memasak, manajemen keuangan keluarga dll) Mengembangkan minat dan bakat saya di dunia menulis dan dunia pendidikan anak sebagai kunci bagi saya dalam mewujudkan impian bermasyarakat salah satunya untuk mewujudkannya mimpi saya membuat taman kanak-kanak sebagai wadah aktualisasi diri.

6. Membaca buku-buku yang menunjang ilmu jurusan BudanTriha. Mencatat kembali, serta mengaplikasikan dalam kehidupan berkeluarga dan bermasyarakat.

Berkaitan dengan Adab menuntut ilmu, perubahan sikap apa saja yang saya perbaiki dalam menuntut ilmu?

Wow banyak sekali! Ini agaknya menyentil saya agar senantiasa mendahulukan Adab dalam menuntut ilmu itu sendiri. Saya senang menjalani segala sesuatu dengan disiplin oleh karena itu kekenduran sifat disiplin saya dalam menuntut ilmu baik dalam dunia nyata maupun onlie akan saya ketatkan lagi. Saya akan hadir lebih awal ketimbang guru saya.

Sebelumnya tentu saja meluruskan niat untuk mendapatkan ilmu dan mengaplikasikannya dalam kehidupan sehari-hari. Selalu mengosongkan gelas saat akan menerima ilmu baru. Karena terkadang saya merasa sok tahu akan ilmu yang akan disampaikan. Sekarang akan lebih baik lagi agar ilmu yang dituangkan dalam diri saya tak luber dengan sia-sia.

Senantiasa menghormati guru tak peduli usianya lebih muda dari saya atau bahkan latar belakang pendidikannya lebih rendah di banding saya. Karena sekali lagi ilmu itu tak melulu soal gelar. Bahkan seorang tukang becak pun terkadang punya ilmu ikhlas yang lebih tinggi dari saya. Toh, semua orang bisa menjadi guru bagi saya. Bahkan ketika saya sedang mengajar pun murid saya adalah guru saya juga. Saya pun belajar!

Berkaitan dengan ilmu dari buku, saya yang terbiasa membawa buku ke kasur karena untuk dibaca di sela-sela membersamai bocah terkadang memang menyepelekan buku tersebut. Menyepelekan di sini maksudnya tidak menjaga dengan baik. Harusnya setelah selesai saya kembalikan ke rak buku dan menatanya dengan rapi. Bukan asal geletak begitu saja. Ini menjadi pelajaran berharga juga bagi saya :)

Demikianlah NHW 1 yang telah saya kerjakan dengan sungguh-sungguh dan sepenuh hati. Semoga tidak hanya menjadi tulisan lalu dilupakan namun justru menjadi pengingat dan penyemangat diri yang sering alpa kini. Allahuma aamiin.

Calon BudanTriha
Mabun NusaNTara
Reisa Dara Rengganis