Sabtu, 23 April 2011

tentang kamu part 3 ending

Bismilah…
Aku tulis ini sebagai bentuk akhir realisasi pikiranku tentang kamu… kenapa aku bilang akhir? Ya karena kupikir inilah saatnya mengakhiri segala kisah-kisah tentang kamu… setidaknya ini bisa dijadikan sebagai pengalaman dan titik tolak dari kekecewaan yang akhirnya kamu tunjukkan untukku. Kamu sakit, iya menurutku kata sakit adalah kata yang pas ditujukan untukmu. Bukan kata aneh lagi. Terakhir kita bertemu, kamu masih seaneh biasanya dengan sifat kaku dan segela keterbatasanmu yang lebih banyak kamu tunjukkan untukku. Tidak tahukah kamu, hubungan pertemanan yang awalnya kamu bilang pyur berlandaskan atas dasar sahabat antara kamum adam dan kaumu hawa bagiku hanya omong kosong semata. Toh semua perkataanmu waktu itu menjadi boomerang untuk dirimu sendiri. Kamu yang berucap dan kau pula yang berkhianat.
Kamu bilang akan menikahiku setelah aku lulus nanti, perkataanmu yang meyakinkan dan berulang secara terus menerus secara tidak sadar menumbuhkan rasa percaya dalam hatiku. Kamu bahkan tak pernah tahu itu bukan? Aku sudah pernah bilang padamu agar jangan pernah memberi harapan padaku tapi apa, nyatanya yang kamu buat justru berbalik 180 derajat kini. Kamu tahu, pernyataanmu yang berulang itu secara sadar maupun tidak membuatku sedikit melambung. Tapi untungnya aku masih terikat pada tanah saat itu, jadi setidaknya aku masih belum terbang bebas dan jauh.
Bagiku kini kamu hanyalah sekadar debu… yang dengan mudahnya bisa aku hapus kapan saja aku mau. Rasanya terlalu lama kamu melekat dalam pikiran dan keseharianku. Kini saatnya untuk membuangmu… tempat seharusnya kamu dibuang. Aku sudah tidak peduli lagi atas segala cerita dan harapan-harapan yang menurutku palsu yang dengan setia masih kamu tunjukkan untukku. Aku tidak silau lagi olehmu…
Kamu tiba-tiba saja hilang hampir selama sepekan ini… tak ada kabar bahkan aku menghubungimu saja sulit. Kamu yang mulai masuk dalam hatiku dan secara diam-diam kamu pergi begitu saja tanpa salam perpisahan atau sekadar berpamitan. Maksudmu apa? Kamu bilang kamu tidak pernah main-main dengan ucapanmu… kamu bilang hanya aku yang bisa merajut lukamu saat kamu terjatuh dulu… aku masih ingat kata demi kata yang terucap lancar dari bibirmu saat itu. Bahkan aku hapal setiap jeda yang kamu alihkan saat kamu menyeruput tehmu untuk melanjutkan kalimatmu lagi yang saat itu kupikir bertujuan untuk meyakinkanku atas keputusanmu. Tapi apa… semua itu hanya semu kini. Pernahkah kamu sadar betapa aku selalu berusaha mengerti keadaanmu bahkan aku selalu berusaha untuk memberimu sedikit perhatian atas kondisimu.
Kamu sakit… sepertinya kejiwaanmu sedikit terganggu… apa yang kamu pikirkan tidak sesuai dengan apa yang kamu ucapkan dan yang kamu lakukan. Awalnya aku berpikir kamu benar-benar lelaki baik-baik… yang mencoba menjadi sempurna dengan caramu sendiri. Tapi ternyata dugaanku salah… salah besar… dan aku akan belajar dari kesalahanku ini… berhati-hati dan selalu waspada terhadap setiap kaum adam… terlebih oleh adam sepertimu. Ambisimu terlalu menakutkan… obsesimu terlalu besar… tanpa pikiran matang dan ke depan kau menghalalkan segala cara untuk mendapatkannya. Kau gila… kau sakit… setidaknya aku bersyukur tidak terperangkap dalam kegilaanmu dan kesakitanmu terlalu lama….
Kamu laki-laki kaku tanpa ekspresi yang berani mengungkapkan kegilaan dan perlakuan biadabmu terhadap orang yang kamu kehendaki. Aku tersedak hari itu, tersedak dengan perubahan gaya penampilanmu yang menurutku bukan kamu. Biasanya kamu begitu rapi dan cakap mengenakan batik atau hem lengan pendek untuk menemuiku… tapi saat itu kamu lain kamu berbeda… kamu asing… dengan kaos oblong berwarna merah menyala dan dengan balutan jeans kamu menemuiku secara mendadak… kacamatamu kamu lepas dan kamu ganti dengan  softlens… dan kamu bilang “aku sekarang bukan aku yang dulu”. Aneh… aku masih setia menyebutmu dengan kata itu… kata setiaku yang kutunjukkan dari awal pertemuan kita hingga saat itu ya hingga saat itu saja. Titik.
Saat aku tanya kamu kenapa… kamu malah tertawa… kamu bilang kamu sudah mendapatkan apa yang kamu inginkan… kamu bilang semua berjalan sesuai dengan rencanamu… semua berjalan mengikuti targetmu dan kamu sendiri juga bilang semua ini memang takdir Tuhan. Tapi sungguh aku nggak ngerti apa maksudmu saat itu… Aku masih mengatakan kamu aneh…sangat aneh dan benar-benar aneh. Tapi kata-kata anehku akhirnya terhenti dengan sendirinya… sampai akhirnya kau memberikanku sebuah amplop. Amplop setebal 5mm kurasa dengan bentuk persegi panjang berwarna coklat muda, lembut, dan terkesan hangat. Saat aku tanya ini apa kamu hanya tersenyum dan menyuruhku membuka amplop itu… dan dengan cepat akupun segera mengikuti perintahmu. Membuka amplop itu.
Kelu lidahku… tercekat dalam rasa kaget. Hingga akhirnya kuteguk esteh manis beraroma melati dengen tergesa dan terburu-buru. Kau masih mentapku saat itu dan aku merinding. Merinding karena kamu… keanehanmu. Aku masih diam membaca itu. Surat undangan pernikahan. Namamu tertera di sana dengan bentuk huruf modifikasi seperti kaligrafi… dan di bawahnya tertera nama seorang perempuan… tapi bukan namaku…(kamu tidak pernah tahukan bahwa sedikit demi sedikit kalimatmu yang mengajakku untuk menikah setelah aku lulus nanti secara perlahan masuk ke lubuk hati dan jujur membuatku benar-benar berharap).
Entah kenapa saat itu aku biasa saja… sedikit kesal memang tapi untungnya aku tidak menangis karena sedih… aku tidak menangis karena benci atau merasa tertipu olehmu… ini semua berkat benteng dalam hatiku yang selalu berkata bahwa kalimatmu saat itu hanya selingan canda walaupun terus menerus kamu ucapkan. Walaupun pada akhirnya kalimat ajakanmu saat itu memang berhasil membuatku berharap. Tapi sungguh aku menjadi sangat takut dengan kamu… laki-laki yang mulai memunculkan ekspresi dengan berbagai tindakan.
“Ini perempuan yang waktu itu kamu certain bukan?” ucapku pada akhirnya bertanya juga. Dan dengan tersenyum kamu mengangguk dan mengiyakan. Belum sempat aku mempertanyakan “kok bisa?” dengan lancar kamu bercerita… bercerita tentang apa yang kamu lakukan… perbuatan konyol, bodoh, dan menjijikanmu… sungguh kamu di luar dugaan dan melesat jauh dari nalar logikaku. Kamu seperti bukan kamu yang aku kenal.
“aku pernah bilangkan ke kamu bahwa aku adalah orang yang ambisius… dan aku mendapatkan apa yang aku mau. Mungkin kamu bilang aku psikopat, tapi itulah aku. Kamu tahu… aku mendapatkan dia juga pada akhirnya…” ucapmu saat itu dan aku masih tercekat merasa was-was dan ingin cepat beranjak darimu.
“Aku miliki dia malam itu…dan itu membuatnya bertekuk lutut.” Ucapmu… Deg! Saat itu jantungku berdegub dua kali lebih cepat dari biasanya. Aku takut dengan kata-katamu. Ingin rasanya aku mempertanyakan dengan rinci maksud perkataanmu. Tapi rasanya cukup. Kamu sakit!
“Itu undangan buat kamu… aku sih berharapnya kamu mau datang. Tapi terserah juga. Setidaknya aku udah ngasih tahu ini. Sorry banget udah sering ngusik hidupmu selama hampir tiga bulan belakangan ini. Maksih banget udah mau nemenin aku.” Ucapmu kembali lugu dan polos seprti bukan kamu yang biasanya dan aku saat itu hanya tersenyum kecut dan masam.
Tanpa ba.. bi... bu… be… bo… lagi aku berjalan meninggalkan rumah makan tempat biasa kita bertemu setelah sebelumnya aku meninggalkan beberapa dua lembar uang sepuluh ribuan di meja itu. Jalanku percepat… walau suara teriakanmu masih terasa ditelinga memanggil-manggil namaku. Aku tahu kamu mengejarku saat itu, tapi beruntung… aku terselamatkan oleh angkutan berwarana biru kelabu.
Kamu tidak tahu, tidak peka, atau benar-benar tidak punya perasaan sih… demi sebuah targetmu untuk menikahi wanita yang telah bersemayam dihatimu selama hampir dua tahun di tahun 2011 ini sampai membuatmu gelap mata. Membuatmu gila tindakanan. Kamu telah mampu membuatku merasa jijik, takut, dan was-was. Kupikir setelah penolakan itu kamu akan tersadar bahwa dia bukan jodohmu atau apalah tapi kamu malah bertindak nekat dan ngawur. Kamu benar-benar sakit… dengan enteng dan mudahnya kamu cerita tentang perlakuan biadab yang kamu lakukan ke dia. Kamu perkosa dia… sungguh kamu biadab…
Aku menangis di dalam angkutan kelabu yang entah akan membawaku kemana… untungnya hanya ada tiga orang dalam angkutan itu, setidaknya suara isakku tidak terlau jelas terdengar karena tersamar oleh suara angkutan lain yang juga berlalu-lalang. Seorang ibu-ibu… yang duduk di sebelahku sempat menanyakan kondisiku, tapi dengan  segera aku menjawabnya tidak apa-apa. Aku bohong… biarkan saja toh ibu-ibu itu tidak perlu tahu apa yang aku rasakan.
Pikiranku tentang kamu yang dewasa, baik, dan berpikir panjang runtuh seketika. Kamu sakit… aku tahu rasanya jadi dia… bahkan aku berani bertaruh dia mau menikah denganmu juga kerena terpaksa karena perbuatanmu. Entah apa yang ada dipikiran dia sampai mau juga menikah denganmu terlepas dari apa yang telah kamu lakukan kepadanya. Kalau aku yang ada di posisinya saat itu (nauzubilah) aku pasti sudah membunuhmu… dengan tanganku sendiri. Sumpah… kalaupun tidak bisa membunuhmu aku pasti akan lapor polisi atau apalah. Mungkin pikiranku egois… tapi sungguh akan kulakukan itu. Sedangkan dia… mungkin pada akhirnya mau menikah denganmu kerena ia berpikir panjang. Takut dan mungkin malu atas aib yang kamu lakukan dan akan menimpa keluarganya terlebih jika dia sampai hamil. Entahlah… jawabannya hanya dia yang tahu. Yang jelas kamu benar-benar sakit dan untukku kamu berhasil membuatku kecewa. Selamat!
Bukan aku namanya kalau hanya karena keadaan seperti ini menyerah, pasrah atau terkungkung dalam kesedihan yang begitu mendalalam. Sakitku cukup sehari titik. Kisah tentangmu cukup sampai disini… memang akhir bahagia dan sempurna yang sepertinya dari awal aku harapkan tidak terealisasi. Kamu sudah mati bagiku… ya mati.. Tapi setidaknya… kamu memberikan suatu pengalaman dalam hidupku untuk belajar mengenal pribadi manusia yang “aneh dan sakit” sepertimu. Kupikir cerita-cerita tentang pribadi manusia yang ambisius dan psikopat biasa saja karena aku terbiasa menemukannya dalam cerita. Tapi ternyata aku menemukan hal itu dalam nyata melalui kamu… orang yang hampir dua tiga bulan ini mengisi keseharianku. Diam yang dingin, diam yang kelabu. Diam yang kaku, diam yang sakit.
Saat ini aku bersiap untuk memulai melanjutkan kembali jalan hidupku yang kurasa akan menarik dan penuh dengan kejutan nantinya. Sungguh aku percaya bahwa aku adalah perempuan baik-baik yang nantinya akan mendapatkan lelaki baik-baik juga. Dan tentu saja bukan kamu orangnya… tapi mungkin kamu yang lain… yang entah sekarang sedang apa dan di mana … yang jelas suatu saat nanti kamu yang lain akan menemuiku… amien

                                                                                                                                   Depok 23 April 2011

Tidak ada komentar:

Posting Komentar