Senin, 20 Mei 2013

Berubah lebih baik lagi

Selamat Pagi


Ini kisah semalam.

Tadi malam, aku sekeluarga menghabiskan waktu luang bersama. Kami memilih makan malam di luar. Usai makan, mampirlah kami ke salah satu mal di Depok. Tidak, kami tak berniat sedikitpun untuk belanja. Hanya saja ingin mengantar Chia--sepupuku-- yang ingin potong rambut.


Saat mengantar Chia ke tempat potong rambut khusus anak tersebut, aku menunggu sambil  asyik bermain ponsel. Tak berapa lama kemudian, masuklah satu rombongan keluarga yang terdiri dari ayah, ibu, tiga orang anak lelaki, dan seorang anak perempuan. Ada yang menarik perhatianku saat itu. Anak lelaki yang kutaksir tengah duduk di bangku kuliah sepertinya aku kenal. Dengan postur tubuh yang tinggi dan berkacamata ia tengah sibuk mengajak anak lelaki kecil (sekitar usia 3 tahun bermain).


Anak kecil tersebut memanggilnya kakak, tak salah kalau kutebak bahwa mereka kakak beradik. Lagi pula tampang mereka mirip.


Awalnya aku hanya melihat sekilas, namun karena berada di depan mata jelas aku memperhatikannya secara saksama.


Dia berbalik menatapku. Sepertinya dia juga kenal aku. Tapi kok ya lupa di mana kita pernah kenal. Entah dia juga siapa, aku tak ingat.


Baiklah karena tidak ingin menerka maka pandanganku beralih lagi ke ponsel. Keluarga itu ternyata berniat memotong rambut anak lelaki yang paling kecil. Tak sampai 15 menit mereka selesai lalu keluar dari tempat yang masih kusinggahi. Dalam hati, aku membatin sendiri. "Pasti nanti bertemu lagi."


Selesai potong rambut Chia kami melangkah ke Timezone. Maklum, Chia merengek minta naik kuda-kudaan. Setelah antre beregegas ke sana ke mari mencari permainan. Ponselku mati, batrenya habis. Jadilah aku yang menemani Chia menghampiri beberapa mainan.


Chia memilih menaiki jungkat jungkit panda. Setelah menggesek kartu aku terus tertawa memperhatikannya. Saat aku tertawa, saat itu juga aku melihat anak lelaki tadi, tuh kan ketemu lagi. Ia sedang asyik bermain bola bersama adiknya yang kecil. Dalam keadaan terang dengan jelas kulihat wajahnya. Berasa kenal banget, tapi aku lupa dia siapa. Lagi pula ia berada lima langkah di depanku. Ternyata dia melihatku juga. Lalu tersenyum sambil mengangguk ke arahku. Akupun membalas senyumnya.


Pandanganku beralih ke Chia lagi.setelah selesai bermain jungkat jungkit, Chia mengajak beralih ke permainan bebek-bebekan yang harus dimasukan dalam sebuah ruang menggunakan tembakan air. Jarakku semakin dekat dengan anak lelaki itu.


Keluarga mereka rupanya telah selesai. Terdengar suara sang ayah mengajak mereka pulang. Saat itulah keluarga dan anak lelaki itu melewatiku. Antara hiruk pikuk suara permainan dan anak-anak yang bermain, kudengar anak laki-laki itu menyebut namaku " Kak Rei" aku pun menoleh ke arahnya cepat. Masih memastikan apakah memang namaku yang disebut ataukah aku salah dengar.


Dia menoleh ke arahku sepertinya menunggu sesuatu. Entah apa, mungkin menunggu aku menyahutnya. Tapi dia keburu berlalu.


Chia berlanjut memilih permainan lainnya. Akupun senantiasa menemani. Sampai akhirnya pukul 21.30 kami bermain, saatnya untuk pulang.


Hujan semalam turun deras, suasana macet sempat membuat hati mampet. Tiba-tiba ingatanku kembali ke tempat permainan tadi. Aku masih penasaran apakah iya tadi benar memanggil namaku.


Kami sekeluarga tiba di rumah saat hujan telah reda. Jam menunjukkan pukul 22.30. Saatnya mengecas ponsel. Kubiarkan ponselku dalam keadaan mati. Sambil menemani Chia menjelang tidur, aku dan keluarga menonton film Harry Potter. Belum selesai film habis mata sudah tak kuat berpendar lebih lama. kuputuskan ke kamar untuk istirahatkan badan.


Ponsel kunyalakan, tak berapa lama ada pemberitahuan dari FB bahwa ada pesan masuk. Nama yang sudah jarang sekali berhubungan denganku. Kurang lebih pesan itu berisi seperti ini.


"Kak Rei, apa kabar? Lagi di mana. Sepertinya aku lihat kakak di ***** Tapi aku nggak yakin itu kakak sih. Habis penampilannya beda. Tapi muka dan postur badannya mirip. Kalau itu beneran kakak aku mau nyapa. Tapi kayanya bukan deh. Kak minta no hp ya"


Walah, ternyata dia murid SMPku di tempat bimbel dulu. Hahaha kejawab sudah rasa penasaranku. Aku segera saja membalasnya.


Aku mengambil sebuah kesimpulan bahwa setidaknya dalam diriku ada perubahan. Hahaha. Jadi ingat dulu saat semester tiga aku mengajar bimbel di salah satu institusi. Aku selalu mengenakan celana jeans dengan robekan di dengkul. Haduh, dulu ternyata alay juga. Pantes muridku bilang beda sampai khawatir, salah mengenali. :D


Semua manusia pasti berubah. Selama berubah dalam ranah kebaikan kenapa tidak? Tapi pagi ini aku jadi bersyukur, kalau tidak ada kejadian itu pasti aku tidak akan berkomunikasi dengan muridku yang dulu. Saat ini dia duduk di semster 2, Dia bilang perubahanku beda. Dia juga berubah, tambah ganteng dan terlihat dewasa. Kupuji seperti itu lewat pesan dia menanggapi demikian "Beneran Kak, aku tambah ganteng? Kakak naksir aku nggak? Dulukan kakak jadi idolaku" Meski dia udah berubah juga tapi sikap banyolnya tidak. --" hahaha. Akhirnya minggu depan kami janjian bertemu, dia bilang mau cerita-cerita. Entah cerita apaan, aku hanya mengiyakan. Semoga tali silahturahmi tetap terjaga ^_^ aamiin.


Udah ah semangat pagi, semangat berubah menuju yang lebih baik lagi


Published with Blogger-droid v2.0.4

Tidak ada komentar:

Posting Komentar