Selasa, 11 Juni 2013

George: Aku ikut pulang

"George" aku melafalkan namamu saat kau duduk manis di samping kiriku. Entahlah, apa yang kau lakukan sepagi ini. Bukankah seharusnya kau pergi bekerja? Namun pertanyaanku tak kuutarakan. Kupikir mengetahui pribadimu secara dalam bukan menjadi perhatian. Hanya saja, kenapa kau seolah mengikutiku. Aku tak bermaksud geer, namun itulah yang nyata kurasa.


"Kamu mau pergi? Ke mana?" Kau bertanya seolah mendapat persetujuan untuk tahu kegiatanku. Aku diam saja, malas menjawab bahkan memberitahu.


"If you still keep silent, ehm... i mean... sorry. Aku terus ikut kamu karena aku free." Jelasmu mencampur bahasa.


"Free?" Pertanyaanku kini hanya ingin memastikan apakah yang dimaksudnya adalah libur dari rutinitas kerja atau dia bebas melakukan apa saja. Entahlah, kamu hanya diam dan memberhentikan kata.

Kusimpulkan sendiri maksudmu apa.


"Aku mau pulang" ujarku akhirnya menyerah juga. Tatapannya tak bisa kutinggalkan terabaikan begitu saja.


"Tapi, di sini tempatmu. Apa tempatmu banyak?" Kau bertanya seolah bingung. Mungkin kau juga menafsirkan banyak makna terhadap kata pulang yang kuucapkan.


"Tuhan punya bumi yang luas george, selama masih berpijak pada bumi kepunyaanNya, tempatku di mana-mana" jelasku datar. Mataku kembali menyusuri jalan-jalan protokol Ibu kota. Sudirman!aku berburu angkutan berbadan besar dan beroda empat. Saat diri tengah berdiri kau menarik lenganku. Memaksaku untuk duduk dan melanjutkan penjelasan singkat tadi.


"Ada apa lagi? Aku sudah jelaskan semua" ujarku lalu kembali berburu angkutan.


"Boleh aku ikut kamu untuk pulang?" Tanyamu mencoba beroleh kepastian lewat tatapan bola matamu yang berpendar biru.


Aku hanya bisa menarik napas sejenak. Menghembuskannya perlahan lalu menggeleng. "Maaf" ujarku.


"Aku mau ikut pulang! Kamu menolak aku tetap akan ikut" Suaramu tegas memastikan kehendak. Aku tetap diam dan tak bergeming dengan ucapanmu.


Bus tujuan kepulanganku datang. Bergegas aku melambaikan tangan untuk menyuruh berhenti. Dengan sigap aku segera menaiki lewat pintu belakang. Meski aku tahu, aku meninggalkanmu begitu saja tanpa pamit dan permisi. Maafkan!


"Aku akan ikut kamu, pulang!" Ujarmu saat aku tengah duduk di tempat tiga bangku sebelah kanan.

"Kau ini benar-benar, kenapa ikut aku terus dan kenapa terus-terusan membuatku kaget." Ujarku setengah berteriak karena melihat sosoknya yang kini duduk manis di sebelah.


"Aku, ikut pulang" katamu lagi dan aku hanya mampu berdiam. Pasrah jika kau terus ikuti.


"George, jika kau sudah putuskan untuk ikut, jangan sekali-kali kau meninggalkanku!" Ujarku memberi syarat dan kaupun mengangguk tanda setuju


Published with Blogger-droid v2.0.4

Tidak ada komentar:

Posting Komentar