Minggu, 09 Juni 2013

kesenjangan

Absen sehari, kisah tiada henti

Setelah menjajal rumah Tuhan di depan tempat tinggal, ada sebilah kisah yang tertanggal.

Tentang perempuan tua pengguna mukena yang tergantung di sisi kanan masjid. Wajahnya bersinar terang meski dihujani lampu temaram.

Semangatnya terpancar dari suara tasbih menjelang azan subuh berkumandang.

Usai tunaikan kewajiban sayangnya kami tak sempat bersalaman. Ia hanya mengangguk lalu melesat pergi meninggalkan rumah Tuhan yang suci. Bergegas kami pun mengikuti untuk kembali ke tempat diri. Tanpa sengaja kami bertemu lagi. Hanya saja kini ia lebih berbeda. Sebuah kantung plastik hitam besar berada di genggaman kiri tangan, sedang di sebelah kanannya terlihat sebuah tongkat kayu penjapit barang-barang yang bagi manusia lain tiada lagi manfaat.

Sekilas ia tersenyum menatap kami yang masih terbalut pakaian putih. Lalu ia lanjut beraktivitas kembali.

Tak lama berselang, sebuah mobil merah berhenti di hadapan. Dalam langkah perlahan kami seketika menoleh.

Seorang perempuan cantik dengan rambut terjuntai sebahu keluar dari kendaraan. Hanya balutan minim berwarna hitam yang menghiasi sebagian dari bentuk tubuhnya. Sepatu dengan hak sepuluh centi menghias indah di kakinya, sayang! Kecantikannya tak mampu menyembunyikan wangi alkohol yang semerbak berkeliaran menyusuri penciuman kami yang hanya berjarak hasta.

Dengan gontai, sang perempuan menghampiri kotak yang bertuliskan tempat sampah. Ada bongkahan tisue yang dibuangnya ke arah kotak berwarna biru. Namun melesat dan mengenai punggung sang perempuan tua yang serius mengais seklumit harap dalam kumpulan barang yang disebut sampah.

Sang wanita cantik melesat masuk meninggalkan jejak yang tak lagi ingin dia lihat. Sang permpuan tua bergegas mengambil bongkahan tisue yang berjarak selangkah dari kakinya. Memungutnya dengan penjepit lalu memasukannya ke dalam kotak tempat sampah.

Kesenjangan di kala subuh lewat.
Perempuan tua datang selepas salat. Wanita cantik datang mungkin setelah pulang dari klub. Sementara kami kini, mengamati langkah perempuan tua yang pergi dengan sendal japit usang yang meninggalkan jejak sesungging senyuman


^_^

@taman rasuna

Published with Blogger-droid v2.0.4

Tidak ada komentar:

Posting Komentar