Senin, 10 Juni 2013

George not Josh

Sebenarnya aku enggan menuliskan ini. Tapi karena kamu memaksa jadi kutuliskan juga.

Aku mengenalmu baru hari ini. Saat matahari mencoba berpendar lebih temaram lagi. Saat itu aku sendiri sedang memayungi hati yang dirundung hujan semenjak pagi.

Kamu ulurkan tanganmu sambil berkata "josh". Tadinya kupikir kau salah orang, namun saat tangan yang kau ulurkan mendekati bahu tangan dan berdiam lebih lama, aku baru sadar bahwa kau mengajakku berkenalan.

"Dara" ujarku sambil tersenyum dan menjabat tanganmu. Ada rasa aneh saat kau hanya pandangi diri ini tanpa penjelasan lanjutan. Jadi kuputuskan untuk diam dan membuang jauh pandangan ke depan. Kali ini gedung-gedung pencakar langit jadi sasaran utama bagi pandangan. Bukannya aku bermaksud untuk mengacuhkanmu, hanya saja aku bingung harus bicara apa lagi. Bahasa Inggrisku tak terlalu bagus lagi pula kau terlalu asing untuk kuajak bicara.

Matahari sedikit-sedikit mulai turun dari pandangan. Sebentar lagi sepertinya magrib. Sesaat aku menoleh padamu. Ternyata semenjak tadi pandanganmu tak berpaling.

"Maaf, ada apa ya?" Hanya itu yang mampu aku ujarkan karena jujur, aku merasa risih. Seketika kau tersenyum lagi. Malah kali ini senyumanmu lebih lebar dari sebelumnya. Bingung, hanya itu yang menggandrungiku kini.

"Sepertinya kamu tak bosan lihat ini, kamu sedang membaca alam?" Ujarmu lalu melempar pandangan pada gedung yang tadi kutatap. Bahasa Indonesiamu cukup bagus, mungkin kau sudah lama tinggal di sini. Ada sedikit kelegaan, ternyata kamu bisa bercakap dengan bahasa ibuku.

"Hello... why you keep silent?" Ujarmu yang membuyarkan lamunanku dalam berjeda.

"Oh iya, membaca alam lebih membuatku tenang. Lagi pula aku bisa apa?" Jelasku sekenanya.

"Aku pamit, sudah sore" ujarku lagi dan sedikit memberi salam lewat anggukan kepala. Kupikir kau akan beranjak, nyatanya kau mempercepat langkah dan menyusulku dalam jejak.

"Aku belum selesai membaca kamu, may I..." belum sempat kamu melanjutkan rentetan kalimatmu aku sudah geregetan memotongnya.

"Please, speak in bahasa" jelasku menyindir dan kamu mengangkat kedua tanganmu. Seolah menyerah lalu mengangguk tanda setuju.

"Iya, aku minta maaf, aku coba bicara dengan bahasamu. Tapi, lambatkan jalanmu" ujarmu memberi usul dan aku mengangguk mengiyakan lalu membuat langkahku melambat seperti kura-kura. Sayangnya aku tak membawa tempurungku.

"Aku tertarik sama kamu, boleh kita berteman lebih dekat." Ujarmu membuat langkahku berhenti. Aku mendongak ke arah matamu. Mencoba melihat lebih dalam bola mata berwarna biru. Rambut pirangmu yang tersiram sisa-sisa sinar matahari kini membuatmu lebih matang.

"Jangan hanya diam, beri jawaban segera. Aku butuh kamu untuk menolongku membaca alam, mungkin melaluimu, tolonglah." Kau memohon dengan wajah memelas. Tak pernah sedikitpun terbentang sebuah khayal bahwa mahkluk bumi dari belahan dunia lain meminta bantuanku untuk membaca alam. Sejenak aku berpikir, kita ini asing. Bagaimana mungkin aku yang lebih terasing membantumu membaca alam. Jawababku tadi hanya asal.

"Kau mau kuajari membaca yang bagaimana?" Tanyaku akhirnya belajar memahami maksud dan menyelami pikiran lewat kosa katamu.

"Sebentar lagi, sebentar lagi... dengarkan ini." Ucapmu kemudian menarik lengan bahuku. Bergegas aku mengelak, kau membuatku kaget! Sungguh.

"Lepas, jangan tarik tanganku"
"Ssshhhh" desismu sambil mengacungkan jari telunjuk ke mulutmu dan melempar tatapan padaku. Kamu menyuruhku diam. Aku menurut.


Semenit, dua menit, sampai akhirnya tiga menit kita berada dalam kebisuan yang bagiku sungguh membingungkan.

Allahhuakbar... Allahuakbar...
Kebisuan itu pecah. Matamu memberi isyarat agar aku lebih tenang mendengarkan. Aku mengangguk dan paham.


Hingga lantunan penyeru Tuhan diperdengarkan sampai habis, barulah matamu penuh tanya memojokkan diri meminta penjelasan.

"Itu azan" jelasku
"Ya aku tahu, tapi aku tak tahu artinya, can you... ehm maksudku terjemahkanlah dalam bahasa." Ujarmu begitu bersemangat.


"Bukankah kau punya itu, kamu bisa mencari dalam dunia maya penjelasannya" ujarku sambil menunjuk tablet yang semenjak tadi kau genggam erat.
"Tidak, benda ini tak bisa membaca alam seperti dirimu, jadi kumohon beritahukan padaku." Kau memohon lagi. Akupun menyerah, dan menjelaskan satu persatu arti dari lantunan azan, kulengkapi dengan cara menjawab saat azan dikumandangkan.


"Indah... kau paham sekali. Apa semua orang Islam sepertimu paham, bahwa Tuhan berbaik hati memanggil sehari lima kali? Sebaik itu panggilannya, tiada dua. Indah! Aku tak punya kata-kata lain untuk beri ekspresi selain kata sempurna" jelasmu bersemangat. Entahlah kata-katamu begitu menarik perhatianku. Aku tergugu saat penjelasan darimu terujar dengan begitu sederhana yang mengena.

Aku hanya bisa tersenyum dan sedikit meratapi kata-katamu.
"Hey... ayo kita salat itu akan lebih indah lagi" ajakku padamu dan kau mengangguk setuju.


"oh iya, namaku george bukan josh" jelasmu tersenyum sambil mempersilakan diri masuk lift. Aku membalas simpul.

Langkah-langkah kaki, tertatih di masjid. Kamu akan meyembah Tuhan yang satukan? Tanyaku  dan kau mengangguk berkobar



Published with Blogger-droid v2.0.4

1 komentar: