Kamis, 18 April 2013

Lele... bagaimana bisa aku bersahabat denganmu?

Selamat malam. Selamat menikmati hujan dengan secangkir teh mint hangat racikan saya sendiri. Rasa manis dengan hangat dan mint yang menyengat membuat tubuh lebih bersemangat menuliskan kisah di hari ini.

Lele... bagaimana bisa aku berkawan denganmu?
Setiap manusia pasti mempunyai segala sesuatu yang disukai ataupun tidak disukai. Begitupun aku. Hari ini aku telah bertaruh melawan ketakutanku yang sebenarnya tidak aku ketahui bermula kapan dan di mana. Pastinya sejak aku tahu ada makhluk yang bernama lele aku benar-benar tidak suka baik itu dari segi melihat menyentuh atau bahkan menyantap.

Alasannya? Tidak ada. Seperti rasa suka yang muncul tiba-tiba hal tidak sukapun demikian terjadi. Aku benar-benar akan merinding jika bertemu dengan lele. Mungkin sama kasusnya dengan orang yang akan merinding atau geli jika bertemu dengan kucing. Tapi aku suka kucing (meski nggak suka-suka banget). Nah balik lagi ke hewan bertubuh lunak dan lembut ini ( kenapa aku tahu?) terpaksa hari ini aku harus menyentuhnya dan "berkawan" dengannya.

Ini Chia


Kok bisa? Bagaimana tidak bisa. Hari ini aku bersama Chia berdua saja di rumah. Chia adalah sepupuku yang berusia empat tahun. OM dan Tante (mama dan ayah Chia) hari ini tidak berada di rumah. Om biasalah bekerja sedangkan tante hari ini ada ujian di Hotel Kartika Chandra terkait Notarisnya. Biasanya Chia bersama Budeku... karena bude berada di Malang jadilah aku yang menjaganya. Biasa saja sih tidak ada yang luar biasa. Aku sudah terbiasa masak makanan untuk adikku itu. Tapi... aaaaa Tidak *Lebai* eh beneran ini. Tadi pagi aku bertaruh pada diriku sendiri untuk mencoba "berkawan" dengan Lele.

Chia sedari kemarin merengek terus minta makan lele. Otomatis hari ini lele tersebut harus menjadi lauk makanannya. Om tante yang tahu bahwa aku "ngeri" sama hewan lunak itu hanya cengangas cengenges saja. Baiklah demi kamu Dek... demi kamu...

Jam delapan pagi saat aku hanya berdua dengan Chia bergegaslah aku menuju pasar. Membeli lele sebagai lauknya. Dengan tegas aku berpesan pada abang-abang ikan untuk sekalian mencucikannya. Aku benar-benar minta tolong. Dia alhamdulillah mau. (Makasih Bang). Chia senang sekali melihat hewan itu berenang-renang di kolam. Sementara aku hanya cengar cengir ketakutan. Takut ada yang loncat.

Setelah membeli lele dan membeli sayur mayur bergegaslah aku pulang. Selama perjalanan aku memegangi plastik yang kadang-kadang masih bergerak-gerak. Aku bergidik. Ngeri membayangkan bagaimana nanti aku mencuci lagi dan menggorengnya di rumah. Tarik napas

Segala peralatan kupersiapkan. Penggorengan berisi minyak panas serta bumbu ulek bawang putih yang sudah bercampur garam dan ketumbar untuk dicelupkan di lele tersebut. Aku pakai penjepit makanan untuk mencelupkan dan menggorengnya. Berhasil. Bahagia luar biasa meski masih ngeri-ngeri tanpa arti.

Setelah agak kecoklatan aku mengangkatnya. melihat bentuknya yang sedikit meliuk membuatku geleng-geleng sendiri. Parah. Sementara Chia melihat kelakuanku hanya cengar cengir tak karuan --". Maklumlah... aku merasa heboh sendiri memang. Lele matang... Chia siap makan. Aku berdoa dia mau memakan lelenya sendiri. Tapi aku juga mikir pasti Lele itu ada durinya. Baiklah... lagi-lagi aku berurusan dengan hal yang tak kusukai. Aku menggunakan garpu serta sendok untuk mengambili daging lele yang kupikir sangatlah sedikit. sementara Chia mengambil hasil korekanku dengan tangannya. Sungguh aneh. Geregetan karena lele gorenganku sedikit melengkung jadi agak susah payah membaliknya (mengambil bagian daging yang lain) akhirnya aku menggunakan tangan. N A S I B

Merinding tak karuan. Tapi sekali lagi ini demi kamu Dek. Dan menyesalnya aku karena tidak sekalian menggoreng lele itu dua. Aku lupa kalau ada makan sore menjelang malam yang berarti aku harus berurusan dengan lele lagi saat menggoreng. Baiklah-baiklah. Aku sudah tidak takut lagi. Pemaksaan yang kulakukan pada diriku sendiri membuatku berhasil mengahalau rasa takutku.

Om dan tante bergantian menelepon. Menanyakan Chia dan tentu saja perjuanganku dalam berurusan dengan lele. Mereka tertawa puas sekali seperti mengerjai tapi aku di sini terpaksa menikmati. Ya baiklah... ada kalanya kita tak boleh membenci sesuatu secara berlebih karena ditakutkan kejadiannya seperti aku. harus berurusan dengan hal yang tak kusuka.

Hore.... tepuk tangan untuk diriku sendiri. Berhasil "berkawan" dengan lele. Meski kupastikan aku tetap tak bisa "bersahabat" dengannya. Percayalah tak ada penjelasan untuk hal itu. Malam ini... lele itu sudah berada dalam perut Chia. Chia sudah kenyang... alhamdulillah. Baru saja cangkir teh mintku diseruputnya. 


NB: Maaf aku tidak bisa menampilkan gambar lele... karena aku sendiri masih ngeri-ngeri nggak jelas melihatnya. Tapi sudah sedikit beranilah :)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar