Kamis, 22 Agustus 2013

Tentang Ayah

Ayah…

Tulisan atau kisah ini saya dedikasikan untuk kedua saudara kandung saya yang seayah dan seibu.

Pagi tadi sekitar pukul 06.30 WIB ayah datang ke kosan. Beliau tergopoh-gopoh karena lelah habis menempuh jarak panjang menggunakan kapal. Setelah mandi ayah bergegas merebahkan diri di kasur depan. Aku menawari ayah minum teh dan dia mengangguk setuju.

Setelah kusuguhkan teh di meja samping kasur ternyata ayah tengah tertidur. Padahal tehnya hangat pas jika diseruput dengan cermat. Namun sepertinya lelah lebih menggugah jiwa ayah untuk melabuhkan raga di kasur tercinta.

Kutinggalkan ayah dengan aktivitas seperti biasa yang kulakukan selama di kosan. Ayah Bangun setelah azan zuhur berkumandang. Tahukah kalian apa yang ayah ucapkan? Tangan kanannya sakit. Katanya terkilir. Waktu kulihat memang benar adanya. Tangannya bengkak sepertinya memang ada urat yang beranjak.

Tangannya bergegas kupijat lembut. Meski tak ahli tapi katanya pijatanku lumayan mumpuni. Tapi tetap saja kata ayah “Sakit”. Aku tertawa saja melihat ayah meringis kesakitan. Aku bilang padanya itu tanda jika Tuhan ingin lihat tangan ayah istirahat dan tidak sibuk telepon atau smsan. Maklum… dua ponsel tak pernah lepas dari genggaman.

Aku bilang lagi ke ayah kalau sakit itu bisa mengugurkan dosa. Ayah meringis tersenyum sambil menganggukan kepala. Aku menatap layar ponselku. Kulihat kakakku sedang online. Kubilang pada ayah kalau kakak online. Ayah bilang disapa aja. Tenyata kakak balas dan bilang kalau dia sedang bekerja. Yaiyalah jelas-jelas nyapanya sekitar jam 14.00 waktu Hongkong pastinya sedang bekerja.

Setelah makan siang dan salat zuhur ayah minta padaku agar tangannya diolesi balesem. Sambil memijatnya perlahan aku mengajak ayah mengobrol banyak hal. Obrolan kami ngalor ngidul tanpa aturan. Dari mulai kerjaan menulisku sampai rencana-rencana ke depanku. Secara gantian ayah pun berlaku demikian. Membicarakan usaha yang tengah dilakukannya hingga menghabiskan banyak waktu dan tenaga bahkan sampai rela meninggalkan keluarga dalam waktu yang cukup lama.


Obrolan akhirnya tersudut pada situasi lebaran kemarin. Aku menanyakan tentang keluarga ayah dari mulai kakak sampai adik kandungnya. Dari sembilan bersaudara tinggal enam yang masih bernyawa termasuk ayah salah satunya. Dari kesemuanya hanya tiga yang tidak aku temui di lebaran kemarin.


Pertanyaanku akhirnya berlabuh pada kabar  adik kandung ayah yang sudah lebih dari tujuh tahun tak aku temui. Waktu aku tanya kabar paklekku itu muka ayah berubah masam. Kutanya kenapa?  ayah bilang “gitu-gitu aja”. Tak begitu paham aku mencari tahun kapan ayah bertemu dengan dia. Ayah bilang sudah lebih dari tiga tahun tak bertatap muka dengannya.

Aku mengusulkan pada ayah untuk menghubunginya lebih dulu. Namun ayah menggeleng bilang tidak mau. Kata ayah harusnya dia yang menghubungi ayah karena posisi ayah adalah kakak kandungnya. Aku memberikan pendapatku terkait hal itu. Aku bilang pada ayah bahwa mungkin saja ia rindu dengan ayah dan ingin ayahlah yang menghubunginya duluan. Namun sepertinya ayah tetap kekeuh bahwa yang mudalah yang harus mendatangi/menghubungi yang tua. Padahal menurutku tidak harus seperti itu.

Aku tahu ada hal lain yang disembunyikan ayah. Kutanya lebih dalam akhirnya aku dapat sebuah alasan. Ada sikap tidak enak dan tidak pantas yang diterima ayah dari keluarga paklek (Bukan pakleknya ya). Sikap itu juga dirasakan oleh beberapa kakak ayah lainnya. Jadi intinya ada kesan kalau keluarga ayah seolah “calon parasit”. Ih amit-amit dah kalau sampai berpikiran seperti itu. Nauzubilah. Soalnya ada beberapa kejadian yang pernah dirasa hingga memunculkan hal semacam itu.

Ayah bilang agak malas menghubungi atau bahkan menemui adik bungsunya itu. Malas karena agak risih jika dianggap nantinya sebagai “calon parasit”. Kata ayah… “aku tuh inginnya dia bilang ke ayah kalau rindu sama ayah. Sekadar ingin ketemu. “ Aku tahu sekali ayah sangat sayang pada adiknya ini. Namun memang keluarga mempunyai pengaruh besar terhadap keberlangsungan suatu hubungan. Lagian juga ayah tidak akan pernah selamanya masuk dalam kategori “calon parasit” dia itu kangen adiknya. Sama sekali nggak silau sama harta adiknya. Berani sumpah deh aku. Lha wong dia ayah kita pasti kita lebih tahu dia seperti apa.

Sayang namun sayang… sepertinya keluarga adiknya tidak punya rasa PEKA atau sekadar SADAR bahwa  bagaimana pun juga keluarga tetaplah keluarga. Adik tetaplah adik dan pun halnya kakak tetaplah kakak. Saling menyayangi dan menghormati.

Suatu saat nanti jika kita semua tengah berkeluarga semoga kita benar-benar merasa dan memang harus menjadi bagian dari keluarga itu sendiri. Jika ada yang jatuh  kita harus  saling topang dan membantu. Bukan saling curiga atau mencederai hati saudara sendiri. Ingat saja bahwa kita berasal dari rahim dan mengaliri darah yang sama. Dan aku senantiasa berdoa bahwa pasangan kita nanti memberi pengaruh yang baik bukan malah sebaliknya! Aamiin

Dan satu lagi… jangan hanya mengandalkan bahwa yang tua selalu harus dikunjungi atau dihubungi yang muda ya. Kadang yang muda juga ingin dikunjungi atau dihubungi oleh yang tua. Biar adil. Sama persis seperti yang masih kita lakukan sampai saat ini. Jangan sampai berubah. Okeh!

Kisah berlanjut…

Setelah cerita banyak hal ayah merebahkan diri di kasur lagi. Ayah tidak tidur kok hanya tidur-tiduran sambil meringis menahan sakit. Iseng… aku membacakan sebuah buku kesehatan buat ayah. Tumben loh ayah mendengar dengan baik dan menanyakan secara rinci terkait informasi kesehatan yang kuberi. Dari mulai cara mengunyah makanan yang baik sampai menjelaskan berbagai jenis makanan yang baik dikonsumsi terutama makanan pokok atau beras. Ternyata beras yang baik itu dimakan dengan sekamnya. Itu loh bungus cokelat yang membungkus beras putih. Kalau zaman dahulu sih kata ayah padi itu ditumbuk dan dimakan dengan sekamnya atau istilahnya bekatul.

Pengetahuan baru bagiku dan juga diskusi ringan bagi ayah. Aku masih dalam posisi duduk bersandar pada kasur yang ayah tiduri. Aku memberikan informasi terkait pembunuhan masal di Suriah. Ayah ternyata baru tahu karena memang beritanya tidak tersebar luas di televise. Aku ceritakan pada ayah bahwa pembunuhan masal yang terjadi di Suriah menggunakan bom kimia. Korbanya sekitar 1300 jiwa dan kebanyakan anak-anak. Ayah menebak apakah itu dilakukan syiah di sana? Aku mengangguk karena memang setahuku begitu.

Setelah itu sore menjelang. Tak lama adikku datang. Tadinya ayah mau ke warnet cari bahan untuk tulisannya. Namun urung dilakukan karena di kosan kan ada internet milikku. Ayah mencari bahan hanya sebentar karena tidak begitu kuat menahan rasa sakit pada tangan kanannya. Padahal tadi sudah kupijat dan kuoles lagi dengan balsam. Sepertinya tak juga mempan. Tak berapa lama tukang pecel lewat . Secara serempak ayah dan adik bilang mau makan. Belilah mereka sepiring pecel lalu dibagi dua. Aku tidak ikutan karena masih terlalu kenyang.

Hei tahukah kalian bahwa ayah tak bisa menggunakan tangan kanannya untuk makan. Jadilah aku sore tadi menyuapi ayah meski sebentar.Rasanya giman gitu. Biasanya aku dan kalian yang disuapi pepaya oleh ayah. Namun kali ini gantian aku yang menyuapinya. Ah sudahlah tak bisa diungkapkan oleh kata-kata.

Setelahnya aku membantu ayah mengenakan kemeja karena ayah mau salat. Agak kasihan melihatnya dan akhirnya aku mengusulkan ayah untuk pakai tukang pijat. Tak tahunya tukang pijat dekat kosan masih belum balik dari mudik. Nasib… jadi kasihan sama ayah.

Tadi setelah selesai salat magrib aku mengaji. Dan seperti biasa aku melakukan ritual ngajiku yang memang jitu memberikan inspirasi buatku. Aku membuka Al-Quran secara acak. Kudapati surat Al-Isra hingga pada ayat 23-24.

“Dan Tuhanmu telah memerintahkan agar kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah berbuat baik kepada Ibu-bapak. Jika salah seorang diantara keduanya atau kedua-duanya berusia lanjut dalam pemeliharaanmu maka sekali-kali jangan engkau mengatakan kepada keduanya perkataan “ah”  dan jangan engkau membentak keduanya dan ucapkanlah kepada keduanya perkataan yang baik.

Dan rendahkanlah dirimu terhadap keduanya dengan penuh kasih sayang dan ucapkanlah “Wahai Tuhanku! Sayangilah keduanya sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku pada waktu aku kecil.”

Bukankah dalam hidup ini tidak ada yang kebetulan?

Aku menelepon mama setelah itu. Menanyakan mama sedang apa. Ternyata mama mau ke bekasi selama dua hari. Aku diminta ke rumah mama. Namun aku jelaskan pada mama bahwa ayah lagi di kosan. Lagi sakit. Mama paham dan akhirnya membiarkan aku. Lagi pula beberapa hari ke depan aku ada acara dan kegiatan. Cie

Setelah salat Ayah  meminta padaku untuk memijat tangannya. Aku jadi teringat dulu saat kita bertiga berebut naik ke punggung ayah untuk diinjak-injak. Hehehehe.

Karena masih lapar akhirnya ayah dan adik berinisiatif untuk membeli martabak telur. Adiklah yang berangkat. Kami pun makan bertiga. Beli terlalu banyak jadi ada beberapa sisa. Lalu apa yang dilakukan dengan sisanya? Seperti biasa ayah memanggil kucing-kucing di sekitar kosan. Kata ayah bagi-bagi rezeki sambil memberi makan kucing dengan tangan kiri. Aku tertawa saja.

Baru saja aku dipanggil ayah untuk merebus air. Tangannya mau direndem pakai air hangat dengan campuran garam. Aneh memang tapi kata ayah lagi agak mendingan.

Kisahnya sampai sini saja ya. Ini sudah hampir lima lembar. Kapan-kapan aku ceritakan lagi kisah tentang ayah. :D

Semoga ayah lekas sehat karena kasihan jika ia lanjutkan petualangan dalam keadaan demkian. Aamiin


 
Ayah

Rabu, 21 Agustus 2013

"Kak... kamu itu..."

Dua tahun yang lalu cepat berlalu. Masih saja puing kisah itu terngiang. Bukan perihal waktu yang singkat untuk sekadar diingat. Hanya saja di tempat ini dua tahu yang lalu seseorang secara sederhana datang menemuiku dengan setangkai bunga mawar.

Tak pernah ada sedikit sangka maupun sepercik duga bahwa akan ada yang hadir secara spesial memberikan ucapan selamat. Di tengah hiruk pikuk para keluarga yang elok berfoto bersama dengan bersahaja dia meminta izin untuk sekadar menemui. Tadinya beberapa jam lalu panggilan masuk telepon dari seseorang menyatakan menunggu semenjak tadi di tengah bundaran. Pikiran sederhana ada orang iseng yang ingin mengerjai dengan acara seperti ini. Namun semua meleset ketika dia datang menemui diri.

Statusnya masih mahasiswa yang tergolong baru. Dia masih dua tingkat di bawahku. Saat itu ia begitu senada dengan kemeja bergaris coklat seperti kebaya yang aku kenakan. Hanya senyumnya yang berbeda dari biasanya. Di antara sekian banyak yang diwisuda dia datang menemuiku. Entahlah apa maksudnya yang pasti saat itu aku mersa tersanjung karena diperhatikan secara berbeda dibanding teman-teman lainnya. Tak banyak cakap yang diucap. Pun halnya denganku yang hanya mampu menaruh senyum mewakili rasa terima kasihku karena menyempatkan hadir di hari kelulusanku.

Kami berpisah tanpa banyak kata. Om tanteku selaku orangtua yang hadir di wisudaku sudah lelah sehingga mau tak mau aku harus kembali bersama mereka. Sebelumnya sempat kami berpose dua kali selebihnya kami hanya menukar senyum. Setelahnya aku pamit pergi dan dia mengangguk. Selebihnya tak ada. Oh ada… beberapa bunga dari sahabat dan setangkai mawar darinya. Masih kugenggam erat saat itu.

Kini di tempat yang sama namun dengan situasi yang cukup berbeda. Dia yang kini diwisuda. Lucu rasanya jika mengikuti kejadian ini. Tak ada sedikitpun rasa berbeda dibanding saat itu. Bedanya kini aku yang akan melihat dia bertoga dan mengucapkan selamat padanya.

Beberapa waktu lalu tiba-tiba ponselku berdering. Sebuah pesan masuk dari nomor yang tak kukenal mengabarkan bahwa seseorang yang mengirimi pesan tersebut tengah merampungkan sidang skripsinya dan akan diwisuda. Secara tersurat ia mengundang aku untuk berkenan hadir di hari bahagianya. Awalnya aku menimbang namun karena ingat masa di dua tahun yang lalu maka aku mengiyakan.

Kini aku berdiri di tengah lautan manusia bertoga. Aku mengenakan terusan biru senada dengan jilbabku. Aku hanya perlu menunggunya di sini. Tempat di mana dulu aku berdiri. Meski aku tak yakin dia bisa melihatku yang bertubuh tak terlalu tinggi ini. Namun pesan terakhirnya berbunyi seperti itu.

“Kak… tunggu di tempat dulu kita bertemu ya. Nanti aku yang cari kakak”

Aku menurut saja. Kuperjelas sekali lagi bahwa bagiku dia sudah seperti adikku sendiri. Entahlah aku juga tidak tahu mengapa merasa agak sebal jika teman-temanku yang lain menggoda saat tahu aku menghadiri wisuda adik kelasku itu. Semua itu tak lebih dari rasa senang dan bergembira karena dia pun berlaku hal yang sama di saat wisudaku dulu.

Aku terdiam sambil tersenyum mengamati para wisudawan lainnya. Terngiang lagi olehku masa dua tahun yang lalu. Ah sudahlah. Dalam situasi yang tak cukup panas aku masih setia meneteng tiga tangkai mawar putih yang terangkai indah. Tadinya aku mencari mawar kuning namun tak kudapati. Tapi yasudah… mungkin rangkaian bunga ini yang terbaik untuknya.


Hampir setengah jam aku berdiri namun dirinya tak juga kudapati. Mungkin dia tengah sibuk dengan keluarganya seperti yang tengah kulakukan dulu. Tapi… ah sudahlah keberadaanku di sini hanya sebagai pemegang dan pelaksana janji. Aku tak ingin jika janji itu yang memberatkanku nanti.

“Kak…” Suara lelaki agak berat seolah memanggilku. Aku menoleh ke arah kanan dan kudapati dirinya terengah-engah setengah berlari menghampiriku. Mukanya belepotan tepung terigu. Awalnya aku agak susah mengenali karena postur tubuhnya bertambah tinggi. Namun senyumnyalah yang mengindentifikasi bahwa dialah memang orang yang ingin kutepati janji.

“Maaf ya lama… tadi dikerjain sama temen-temen. Dilempar pakai tepung” Ujarnya tersenyum sementara aku hanya mengangguk lalu membalas senyumnya.

“Ini… selamat ya” Ujarku lalu menyerahkan mawar putih padanya. Dia tersenyum lebar seolah mendapat hal yang memang dia inginkan.

“Wah… makasih kak. Eh sebentar ya kak… ada Ibukku” Ujarnya pamit lalu melesap begitu saja dari pandanganku. Padahal sebelumnya aku ingin memberikannya tisu.

Tak berapa lama dia datang dengan seorang Ibu. Ibunya mengenakan kebaya sederhana berwarna senada denganku. Aku menyalaminya. Tapi anehnya ia memelukku dengan erat.

“Sama ibu aja?” Tanyaku mencoba bertanya.

Dia menggeleng sambil tersenyum sementara mawar putih erat digenggam di tangan kirinya.

“Lalu? Sama siapa lagi?” Tanyaku mencoba memastikan siapa saja keluarganya yang turut hadir di wisudanya.

“Sama kakak.” Dia tersenyum meringis. Terlihat manis meski banyak tepung di pipi kanan dan kirinya. Aku membalas senyumnya perlahan. Tak ada kata-kata lain selain itu dan semua sekejap berlalu ketika dia mengajakku berpose bersama.

“Kak… kamu itu kakaku. Kita bersaudara. Kita satu bapak lain Ibu” Ujarnya di jepretan pertama. Aku terdiam seribu bahasa. Dia berucap sambil terus memperhatikan kamera. Temannya yang mengambil gambar untuk kami berdua. Sementara Ibunya menatap kami secara seksama.

Aku menatapnya. Sementara temannya berucap agar aku menatap ke arah kamera. Gambar akan diambilnya sekali lagi. Masih dalam keadaan shok perlahan aku menengok ke arah kamera.

“Aku selalu ikutin kamu kak. Karena kamu kakakku. Idolaku.” Ujarnya lagi dijepretan kedua.

“Kamu adikku beneran?” Tanyaku berusaha mendapat kepastian.

Dia mengangguk perlahan. Memastikan bahwa kata-katanya adalah benar. Entahlah berolah rasa menggugah dijiwa. Komplit semua. Antara kaget setegah tidak percaya bahwa ternyata kami ini adalah saudara. Kami satu Bapak lain Ibu. Pernah aku mengamatinya secara seksama ada sedikit kemiripan di wajah kami. Namun aku tidak pernah berpikir sejauh itu. Dan hebatnya dia bisa menyimpan dan membongkar ini semua tepat di hari ini.

“Aku nggak tahu kalau ayahku punya anak lagi. Maaf ya… kenapa baru beritahu sekarang? Kenapa tidak dari dulu saat ayah tiada?”

“Nggak apa-apa kok kak. Yang penting aku lega. Kakak mau hadir diwisuda aku. Aku senang. Oh iya… itu kakaknya mama. Aku manggilnya Ibu. Mamaku sudah nggak ada setelah ngelahirin aku.” Jelasnya sambil menunjuk Ibu yang tadi memelukku erat.

Ada banyak tanya yang menggantung dalam benak. Namun semua terjawab secara perlahan ketika dia bercerita panjang lebar. Ternyata aku tidak sendiri. Kupikir setelah Ibuku tiada ayah tidak menikah lagi. Namun ternyata dugaanku salah. Aku tidak pernah tahu bahwa ayahku punya putra. Nasib kami berdua pun hampir sama. Ditinggal Ibu setelah berjuang melahirkan kami.

“Panjang kalau kuceritakan jika kakak mau tahu bagaimana caranya aku bisa sampai mencari dan menemuimu kak. Bahkan berkuliah di kampus yang sama denganmu. Yang pasti aku sayang kamu kak” Ujarnya menjawab pertanyaan yang kuajukan setelah kami foto bersama.

 “Kalian kok mirip sih” Ujar temannya sembari memperhatikan foto yang baru saja diambil melalui kamera digitalnya.

“Dia adikku…” Ujarku tersenyum  menatap orang yang belepotan tepung di wajahnya.

“Dia kakakku…” Ujarnya membalas lalu merangkul pundakku erat.

* tamat*



Dua Sisi

Dua Sisi

Matahari masih terik menyinari. Namun suasana saat ini tengah dirajam sepi. Pembantaian yang dilakukan oleh manusia-manusia berkedok pemerhati keadilan di Rabiah kemarin seolah menjadi penggugah rasa akan kesemerawutan di depan mata.

Mesir berdarah oleh tumpah darah militer yang merah. Entah makhluk macam apa yang menghinggapi jiwa mereka ataukah mereka hanya semacam robot yang digerakkan oleh remot dibawah kendali atasan semata?

Tahukah kalian apa yang mereka lawan? Ketakutan terhadap diri sendiri dengan modal berbagai senjata salah satunya senapan aktif laras panjang.

Senapan itu siap membedil siapa-siapa saja yang menghadang. Tak pandang asal usul dan latar belakang semua ikhwan yang berjenggot ditangkap dengan asas praduga bersalah. Bahkan anak-anak kecil sekalipun turut menjadi  korban kebiadaban  yang semestinya tak dilakukan.

10… 100..200?Salah! hampir lebih 6000 jiwa yang telah tiada. Dibantai secara habis dengan cara yang bengis. Dibakar secara hidup-hidup…  bahkan jasad para syuhada dibakar untuk sekadar menyembunyikan angka kematian sebenarnya.

Apa salah bagi mereka yang berdemo damai? Hingga halal darahnya untuk dibunuh? Demokrasi dinegeri ini memang lucu. Orang-orang yang berlainan pendapat harus menemui ajalnya dengan cepat.

Aku masih memandang jalanan yang sepi. Jauh di sebrang sana tragedi itu terjadi. Sementara aku pelajar Indonesia di sini hanya bisa menyusun doa dan menguntainya untuk mereka semua. Memberi kabar secara  nyata terhadap apa yang terjadi di sini. Tempatku menuntut ilmu. Mesir…

Aku… tidak tahu apa yang akan dilakukan negeriku melihat negara sahabatnya kini porak poranda. Terlebih situasi ini menjelang detik-detik kemerdekaan negeriku yang jelas bisa merdeka oleh pengakuan dari  negara sahabatnya yang kini tengah dirundung duka.

Entahlah… semoga negeriku tidak menutup mata… Bahkan kalau perlu aku berharap negeriku menjadi garda terdepan dalam memperjuangkan  “kemerdekaan” yang sesungguhnya . (pelajar Indonesia di Mesir)

                                  ****
Detik-detik jelang kemerdekaan Indonesia. Setiap ruas jalan digang-gang sempit kini berhias dua warna dominan. Merah dan Putih.  Ada sebuah acara yang katanya hebat dan tak salah jika dilangsungkan. Perayaan hari kemerdekaan. Entah kemerdekaan mana yang digunakan. Dan entah pula merdeka untuk siapa? Dan oleh apa? Penjajah? Sudah pasti telah pergi di usir habis oleh pahlawan negeri.

Namun penjajah di dalam negeri sendiri tetap bercokol bahkan hidup subur dan makmur. Hanya orang Ngelantur yang bilang bahwa merdeka sudah benar-benar berterima dan di depan mata. Sudah! Lupakan saja kemerdekaan dalam arti sebenarnya. Kemerdekaan sekarang masih semu dan abu-abu jika putra bangsa tak tahu malu menggerogoti Ibu pertiwinya sendiri.

Masih banyak rakyat dipelosok yang terus memekik kemerdekaan meski tak merasakan kemerdekaan yang sesungguhnya. Tapi jiwa mereka masih merah dan putih.

Tak ada yang salah jika merayakan kemerdekaan terutama jika kita mendoakan manusia-manusia yang punya andil dibalik kemerdekaan yang kita punya. Mendoakan para pahlwan Indonesia pun juga mendoakan negara-negara yang mengakui kedaulatan NKRI.

Namun apa? Perayaan itu masih tetap sama dari tahun ke tahunnya. Melaksanakan upacara kemerdekaan dengan gegap gempita dihadiri ratusan atau ribuan manusia-manusia rapi dengan pakaian elok nan bersahaja. Melancarkan tembakan ke udara. Lalu bersikap hormat dengan Sang saka merah putih!

Sedih…  Sayangnya tidak ada yang tahu kalau Merah Putih kita saat itu hanya ingin dikibarkan setengah tiang. Turut berduka atas gejolak yang terjadi pada negara sahabat di sana. Negara pertama yang mengakui kedaulatan NKRI.

Sedih…  Sayangnya tidak ada yang tahu kalau Burung Garuda kita di saat itu ingin mengudara membantu Burung  Elang Saladin yang tengah berusaha memadamkan bara yang tengah menyala di sana. Namun sayang lambang negara kita begitu tersemat kuat di dada para pejabat. Tersemat karena terpaksa diikat hingga tak ada rasa bebas mengudara menolong sesama.

Mesir… Merah putih hitam… kini menetes darah. Sementara kita tetap membahana menyanyikan lagu-lagu perjuangan dengan suara lengkingan dan dentuman senapan. Bukan sebagai perjuangan tapi hanya sebagai penanda dalam acara upacara protokeler semata.

Tidakah malu dengan para pahlawan di waktu dulu? Kita merayakan kemerdekaan kenegaraan sementara negara sahabat yang mendukung kemerdekaan didera lara yang kian memanjang.

Seandainya wajah ruh para pejuang kita  bisa dilihat dan dirasa. Mungkin mereka malu melihat tingakah dan polah semcam itu. Atau bahkan mereka sudah tidak punya wajah untuk sekadar dikenakan?

Tunggu… jangan berkecil hati pada negeri sendiri…

Mungkin iya… para pejabat di atas sana lupa dengan budi…

Tapi tidak untuk kita… sebagian rakyat yang masih ingat sejarah dan punya hati nurani.

Terlepas dari mereka muslim atau tidak… karena di sini saya nyatakan sebagaian rakyat Indonesia. Tentu lagi-lagi saya ingatkan yang punya mata… hati… telinga dan ingatan.

Mereka merayakan kemerdekaan dengan mengadakan salat bersama. Dilanjutkan dengan doa untuk para pahlawan kita dan para masyarakat Mesir di sana.  Mereka menyuarakan kepeduliannya terhadap negara sahabat tercinta. Mereka melakukan AKSI damai solidaritas peduli Mesir. Mereka merayakan kemerdekaan dengan cara yang lain. Cara yang indah! Cara inisetidaknya mampu membuka dan menyejukan hati para pahlawan kita terdahulu.

Kami tidak akan lupa dengan sahabat yang selalu memotivasi

Kami tidak akan lupa dengan sahabat yang selalu bersanding di kanan kiri.

Dalam perayaan kemerdekaan yang ini… untaian doa mengakar kuat dibawa oleh sang Garuda untuk menemui Elang Saladin di sana. (saya)


Doa selalu untuk rakyat Indonesia dan rakyat Mesir.


Selasa, 20 Agustus 2013

Mari Doakan Mereka






Setiap 17 Agustus, seperti  tahu-tahun sebelumnya kami tidak libur. Pekerjaan sebagai petugas penjual karcis di jalan tol Cikampek membuat kami senantiasa terjaga meski badan semenjak beberapa hari sebelumnya lelah digempur. Seperti biasa... setiap tanggal 17 agustus akan ada sedikit perbedaan dengan tangga-tanggal lainnya. Yap... hari kemerdekaan Republik Indonesia tercinta. Kibaran bendera merah putih mungil akan senantiasa berada di meja kami yang kecil. Sebagai hiasan sekaligus pendanda hari jadi negara tercinta. 

Rani teman seprofesiku biasanya mempunyai kebiasaan berbagi di setiap hari kemerdekaan. Tahun lalu dia membagikan setangkai bunga plastik kepada seluruh rekan sejawat yang bekerja. Bunga plastik tersebut berdaun merah putih kecil.  "ini hari baik... kita harus semangat bekerja" Ucap Rani senantiasa memotivasi kepada kami semua sembari menyerahkan bunga tersebut. Tentu dengan senang hati... aku dan tiga rekan lainnya menerima. 

Tak hanya kami yang dibagi... para pengguna jalan tol pun kerap kali mendapat sovenir tersebut. Tentu saja mereka akan merasa bahagia. Aku saja berbahagia saat menerimanya. Apalagi mereka. 

Namun untuk tanggal 17 Agustus 2013 kali ini sungguh berbeda. Sejak pagi tadi sebelum mulai bekerja Rani sibuk dengan empat buah kantung plastik hitamnya. Ketika kutanya dia tersenyum menjawab “Kamu harus bantu aku ya”. Tidak tahu apa maksudnya aku hanya mengangguk saja mengiyakan.

Setelah berganti pakaian kerja bernuansa biru muda Rani bergegas menghampiriku. Ia menyerahkan sebuah kantung plastik berwarna hitam yang tadi dibawanya.

“Aku minta tolong… bagikan ini kepada pengguna jalan tol. Sambil bilang…Mari berdoa untuk mereka” Ujar Rani menatapku serius. Awalnya aku masih bingung apa maksudnya. Namun rasa bingungku terjawab sudah ketika kantung kresek hitam ini kubuka.

Kantung tersebut berisi ratusan stiker bertuliskan “Pray Egypt” Aku paham sekali dengan maksud Rani. Sejak beberapa hari yang lalu setelah usai tunaikan tugas bekerja, aku dan Rani beserta teman sejawat lainnya rutin menyaksikan berita tentang Mesir. Pak Suryitno selaku kepala seksi kami memberikan wawasan yang diketahuinya tentang bagaimana serta alasan-alasan keadaan Mesir hingga sampai seperti itu.

Satu hal yang baru kami ketahui bahwa Mesir merupakan negara terdepan yang mengakui kemerdekaan negara Indonesia. Lalu muncul pertanyaan Pak Suryitno yang membuat semua terdiam. “Negara kita bisa diakui kemerdekaannya salah satunya berkat Mesir. Lalu di saat kondisi Mesir seperti sekarang ini Negara kita bantu apa? Beberapa hari lagi hari kemerdekaan. Saya mau tahu… pemerintah kita punya tindakan apa?” Pertanyaan Pak Suryitno mengantung begitu saja dibenaku. Namun tidak untuk benak Rani. Ia justru berbuat sesuatu!

“Mari kita doakan mereka” Ujarku mantap sembari menatap Rani. Ia tersenyum mengangguk kemudian memberikan dua kantung kreseknya kepada dua temanku yang lain. Sebelum memulai bekerja seperti biasa kami berdoa bersama. Namun doa kali ini berbeda. Ada doa tambahan untuk negeri tercinta Indonesia dan juga doa untuk masyarakat di Mesir sana.

“Lakukanlah apa yang bisa kamu lakukan”

Sembari melayani pengguna jalan tol. Selain memekik salam merdeka kami menyelipkan rangkaian kata-kata “Mari doakan mereka” sembari menyerahkan stiker tersebut dengan ucapan terima kasih sebagai penutup. Kami berharap agar setiap pengendara/pengguna jalan tol turut merangkai untaian doa untuk saudara-saudara di Mesir sana.

Aamiin




Bertemu laki-laki spesial

Bertemu dengan beliau cukup membukakan mata dan pikiran
Banyak kisah yang dibagi hingga menjejak di hati 18 Agustus 2013

Kisah tentang sejarah kali Angke yang berarti kali merah kecil yang ternyata mengandung banyak sejarah terhadap pendekan Tionghoa yang membantu kemerdekaan Indonesia.

Kisah tentang Cina yang kini mampu menjulang tinggi dibanding negara-negara lainnya akibat kemauannya untuk berubah.

Kisah tentang 1600 mahasiswa yang dikirim ke berbagai negara untuk belajar dan kembali ke negara asal untuk membangun Cina.

Kisah tentang mafia di Indonesia yang merajarela dengan berbagai hal prilakunya.

Kisah tentang bagaimana ia berbakti pada Indonesia melalui pendidikan.

Berbagai kisah lainnya yang pada akhirnya membicarakan mimpi yang harus direalisasikan menjadi nyata.
Meski kami berbeda baik dari segi keturunan maupun keyakinan namun di antara kami semua terjunjung rasa toleransi yang tinggi. hingga pada akhirnya menelurkan kasih sayang yang teramat dalam.

Semoga engkau selalu sehat... Eyang...




Keluarga kami

Tak akan banyak kata yang akan ditorehkan
Biarlah berbagai gambar yang bercerita.
Tentang sebuah keluarga yang semoga bisa menjaga bahagia
Meski terkadang dirundung duka dan sedikit nestapa
Keluarga tempat berpulang kapan dan di mana saja..
selamat melihat mengamati dan semoga tak ada yang memungkiri
Bahwa kami adalah keluarga


orangtua


Para cucu




keluarga besar




















Minggu, 18 Agustus 2013

Agustus nano-nano

Selamat sore:D

akhirnya waktu kembali ke Jakarta tiba juga. Yap hari ini perjalanan menuju tanah kelahiran. Tidak dapat tiket kereta, bus malam pun jadi pilihan.

Terpaksa...

Padahal diri benar-benar tak suka naik bus, terutama untuk perjalanan jauh dan malam hari. Entah kenapa rasanya trauma...


selama perjalanan

Memang tidak pernah dan jangan sampai terjadi hal yang tidak diinginkan atau apapun namanya, namun dulu pernah sampai tak bisa memejamkan mata karena bus yang ditumpangi nyalip sana sini dengan lincah dan semuanya. Yasudah

dan kali ini... Taraaaaaa terpaksa naik bus... Tidak mungkin menunda pulang beberapa hari ke depan. Maklum beberapa tanggal di bulan agustus ada yang spesial. Sudah banyak janji yang digantung dan tak mungkin dibiarkan tergeletak begitu saja. Harus ditepati dan dilaksanakan kesemuanya, InshaAllah.

Weitss memang selain momen lebaran ada momen bahagia apa lagi di bulan perjuangan ini?

Yap, selain lebaran dan hari kemerdekaan juga ada acara  wisudaan dan pernikahan teman. Semuanya sudah diatur sedemikian rupa hingga penuh jadwal di minggu terakhir bulan agustus.

Selain hari penuh bahagia, ternyata di bulan ini kesedihan juga menempa seluruh umat muslim dunia termasuk Indonesia.

Yap terkait Mesir, negara terdepan yang mengakui kemerdekaan Indonesia itu kini tengah dirundung duka.  Hal ini semua masih terkait dengan penggulingan presiden Mesir yang dikudeta oleh militer. Meski emang udah curiga sih dibalik ini semua ada campur tangan orang yahudi yang memang memusuhi umat Islam dengan teramat sangat.

Sudahlah, tak usah merutuki hal seperti itu, Sa. Lebih baik kita mendoakan saudara-saudara kita yang dizolimi di sana. Palestina, Syiria, dan Mesir.

Allah sudah menyiapkan syurga untuk para syuhada yang hak dan kebebasannya dirampas dan diinjak dengan semena-mena.

Allah nggak tidur dan aku percaya dari serangkaian hal yang terjadi di timur tengah tentu ada hikmah yang bisa diperoleh.

#saveEgypt #StopMassacre

oke sementara nunggu bus berangkat sekian dulu ya, nanti malam disambung lagi. Muehehehehe

:):D;)

Published with Blogger-droid v2.0.4

Sabtu, 17 Agustus 2013

Merayakan keMERDEKAan


Hei kamu...

Iya kamu...

Lama tak mampir...

Ya karena lama juga kau tak menulis.

Alasan-alasan yang ingin dikemukakan.


Setiap mau menulis pasti ada saja halangannya. Yang masih sibuk silahturahmilah, sibuk jajan sana sini, ke sana sini, tuh kan alasannya banyak sekali. Pastinya terlalu banyak rasa malas yang dihadiri dan berbagai alasan tadi adalah TAMENG dari kesemuanya.

Ups... Merdeka itu jujur pada diri sendiri.

Yap hari ini bertepatan dengan hari kelahiran Indonesia 17 Agustus. Bagaimana cara memperingati kemerdekaan itu? Dengan upacarakah? Ikutan berbagai lomba? Ah bagi saya tidak seperti itu.

Saya merayakan kemerdekaan pagi ini dengan pergi ke pasar. Saya membeli buku tulis, pulpen, pensil, dan beberapa peralatan sekolah lainnya. Lalu? Yap, bagi saya merdeka itu memberikan fasilitas untuk belajar bagi adik saya. Saya punya adik lain Ibu yang saat ini sedang menempuh pendidikan di sekolah dasar.

Melihat dirinya membuat saya terbang ke masa-masa sekolah dasar saya waktu di desa Tumpang. Memang kenapa?

Saat saya sekolah di sini berbagai kendala dalam menyelami pendidikan saya temui. Semuanya bersumber dari peralatan sekolah yang saya punya. Saya memang punya buku, pulpen, pensil, dan semuanya tapi terbatas. Malah saya sering kehabisan.

Kalau sudah kehabisan buku atau pulpen sedih rasanya. Mau beli saja susah karena uang yang dimiliki tidak berlebih. Mau tau apa yang saya lakukan? Pergi ke rumah saudara hanya sekadar meminta uang. Malu? Sudah pasti tentu. Tapi... Kalau tidak meminta ke mereka, bagaimana saya dan adik saya bisa melanjutkan sekolah.

So... Momen kemerdekaan ini saya gunakan sebagai momen berbagi alat-alat sekolah. Agar adik saya bisa menempuh pendidikan sebagaimana layaknya melalui peralatan sekolah lengkap yang dimilikinya.

Bahagia itu sederhana, merdeka itu sederhana yang penting memiliki makna secara mendalam dan medobrak belenggu-belenggu yang menghadang. Lewat pendidikan salah satunya dengan cara yang saya lakukan.

Malamnya... Yihaaa... saya bertemu dengan sepupu (Gita dan Fahmi). Bertemu dengan mereka mengingatkan saya akan almarhum ayah mereka yang tak lain adalah adik dari ayah saya. Kalau tidak ada ayah mereka... mungkin dulu spp saya akan menunggak. Dan mungkin saya tidak akan memiliki peralatan sekolah yang baik. Yap... Ayah merekalah yang begitu berjasa memberikan kasih sayang kepada saya dan adik seperti anak mereka sendiri.

Dunia ini berputar... saat kau memberi saat itulah kau menerima.

Saya dan adik mengajak mereka makan bersama di luar. Seperti itulah yang dulu sering dilakukan Paklek saya yang tak lain adalah ayah mereka. Saya bisa menikmati makan enak dan di luar memang saat diajak oleh paklek. Ini bukan masalah utang budi... tapi seperti itulah memang rasanya. Bukankah hidup saling mengisi dan berganti? Alhmadulillah mereka senang dan suka meski saya tidak bisa memberikan banyak seperti apa yang dulu ayah mereka berikan untuk saya dan adik. Namun melihat senyum merekah di wajah mereka membuat saya tetap yakin bahwa mereka bahagia meski hidup sederhana saja. Seperti halnya saya...

Makan bersama di malam merdeka

Semoga kalian tetap bahagia... aamiin :D
Merdeka... 






Published with Blogger-droid v2.0.4

Selasa, 13 Agustus 2013

Saya, bagian dari Martodiredjo

Selamat sore

terlalu banyak hal yang saya tinggalkan salah satunya memperbaharui tulisan di blog ini. Sebenarnya banyak hal dan alasan yang dapat saya kemukakan kenapa hal ini bisa terjadi, namun lagi-lagi saya tak akan memakai tameng alasan sebagai pemebaran janji yang saya buat dan langgar sendiri.

Setelah merayakan hari kemenangan bersama keluarga dan sanak famili dari satu daerah ke daerah lainnya banyak hal baru yang saya ketahui.

Saya termasuk keturunan keluarga Martodiredjo yang mempelopori pendidikan di daerah Lumajang hingga meluas ke mana-mana. Bahkan foto mendiang buyut saya mirip sekali dengan foto Ki Hajar Dewantara.

Dari kumpul keluarga besar yang berasal dari darah kakek saya alm. Mbah Kung Herry Soekrisnoto, saya banyak mendapatkan informasi yang bagi saya amatlah penting.

Saat pertemuan berlangsung, adik kandung mbah Herry Soekrisnoto yang saya panggil dengan sebutan mbah Min dan Mbah Kadir menceritakan kisah tentang mbah martodiredjo baik mbah kakung maupun mbah putri.

Mbah kakung yang tak lain adalah ayah dari kakek saya adalah seorang pencatat buku harian yang handal. Beliau rajin menulis buku harian setiap hari. Bahkan buku hariannya ditulis amatlah detail.

Saya jadi menyadari bahwa yang dilakukan buyut saya sama seperti apa yang saya lakukan. Ternyata memang ada yang menurunkan.

Satu lagi kisah yang saya tahu, bahwa buyut saya yang laki-laki gemar bercerita. Memupuk tinggi mimpi dan cita-cita hingga menjadi nyata. Meski mbah buyut putri tidak bisa membaca dan menulis namun dia adalah sosok Ibu yang patut ditiru dan dibanggakan. Kalau tidak ada beliau, para mbah-mbah yang sekarang mungkin tidak bisa mengcap pendidikan sampai ke negeri Belanda.

Yap... Mbah-mbah kami adalah orang yang memberantas kebodohan di mana mereka tinggal. Termasuk mbah kakungku tercinta Herry Soekrisnoto, yang mengabdi menjadi guru saat ia tinggal di desa Tumpang.

MashaAllah, ternyata orang-orang hebat ada dalam keluarga saya dan darahnya pun mengalir dalam diri saya.

Kakak dan Adik dari Mbah Kakungku :D (keluarga Martodiredjo)

Hebat di sini saya artikan bermanfaat bagi orang banyak. Senantiasa berbagi ilmu di mana pun dan kapan pun.

Satu hal lagi yang senantiasa saya ingat dari kata-kata mbah buyut putri yang disampaikan oleh mbah-mbah saya, yakni kalau kau tidak tahu, bersyukurlah karena banyak hal yang bisa kau ketahui setelah bertanya. Gusti sudah kasih mulut untuk kita pakai, jangan takut tersesat, cari tahu semua dengan teliti.

Salam cinta untuk semua orangtua yang begitu mencintai anak-anaknya dengan cara yang baik, mendidik! bukan sekadar belajar atau asal mengajar.

Saya jadi termotivasi untuk rajin dan disiplin dalam segala hal, terutama menulis.

Oh iya, sekadar info saja: Di Tumpang saar ini suhunya 16°C lho. Berasa banget ademnya... Mantap

:D:)

Published with Blogger-droid v2.0.4

Kamis, 08 Agustus 2013

Semangat untuk Ima

Happy Ied Mubarok


selamat kembali ke jiwa dan hati yang fitri. Semoga senantiasa saling memaafkan.


Hari ini sudah keliling keluarga dari suami mama yang di brebes. Alhamdulillah sambutan yang luar biasa meski saya tak terlalu banyak kenal dengan mereka.


Dari sekian banyak saudara dari suami mama yang saya temui, saya berkenalan dengan seorang gadis bernama Ima.


Dia adalah anak dari adik suaminya mama. Jadi secara nggak langsung sepupu juaauh. Meski baru kenal beberapa jam, namun kami sudah merasa dekat. Dia memanggil saya dengan sebutan teteh.


Senangnya dipanggil demikian, berasa jadi orang sunda. Hihi


Disaksikan hamparan bintang di langit saat malam takbiran, ima bercerita banyak hal. Terutama dalam kegalauannya melanjutkan hidup pasca SMA.


Ima memang bukan berasal dari keluarga ekonomi mampu. Namun tekad dan semangatnya perlu diadu. Ia berencana kuliah di tahun depan. Selesai SMA ini ia ingin bekerja untuk mengumpulkan uang.


Hal yang membuat dia galau adalah pekerjaan yang dilakukannya. Antra menjadi seorang guru les privat atau menjadi buruh di pabrik.


Banyak pandangan yang saya berikan dan semuanya saya jabarkan secara objektif. Jika dia memilih untuk menjadi guru selama mengisi waktu setahun, ia bisa sembari menyicil belajar. Toh dengan mengajar yang diandalkan adalah pikiran. Jadi tenaga yang lebih banyak digunakan adalah otak. Terlebih yang diajar adalah anak-anak sehingga cara mengajar kreatif tentu diperlukan.


Namun, jika ia memilih untuk kerja di pabrik, bisa juga ia belajar untuk membuka wirausaha nantinya. Menambah pertemanan dengan berbagai macam orang dengan berbagai karakter, tapi yang memang diandalkan adalah tenaga fisik. Kesempatan belajar untuk persiapan ujian tidak sebanyak saat memilih pekerjaan sebagai guru les. Karena setelah bekerja seharian pasti menguras tenaga dan lebih membutuhkan istirahat agar lelah segera hilang.


Pilihan ada ditangannya. Tadinya Ima bercerita juga bahwa dirinya sering menemui masalah. Setiap manusia hidup itu memang dihadapkan untuk menyelesaikan masalah yang dihadapinya. Tentunya kita tidak perlu risau dan khawatir selama kita berpegang teguh pada Allah swt.


Allah itu tempat kita bergantung, kapanpun, di mana pun, dalam kondisi apapu. Yakinlah bahwa tiada daya dan upaya yang kita lakukan selain dengan pertolongan Allah. :)


ayo semangat meraih mimpi dan cita-cita. Satu bintang di langit adalah satu impian/cita-cita kita. Kalau banyak bintang, tentu banyak cita-cita yang harus kita mimpi dan wujudkan


perjalanan lanjut ke Malang, Bismillah�


Published with Blogger-droid v2.0.4