Minggu, 25 Maret 2012

peka

ia tak bisa hadir dengan sendirinya
butuh proses panjang untuk mengenalnya
bahkan untuk sedikit paham dan tahu saja tak bisa dikira-kira
ia muncul atau hadir kadang tidak diduga
bisa saja dimulai dari janji yang tak ditepati
ketidakpercayaan
rasa bersalah yang besar
yang kesemuanya berasal dari lingkungan
kita... kamu... dia... mereka... kalian... dan kesemuanya
ada yang dengan mudah menemukannya
ada juga yang sulit bahkan tahu namanya pun tidak
sulit paham atau sulit tahu bukanlah kesalahan
hanya saja perlu untuk diingatkan
tapi... hanya untuk sesuatu yang salah paham perlukah sampai sebegitunya?
sepertinya tidak.
kalaupun memang ia... rasa-rasanya hatinya sedang dipebuhi oleh prasangka-prasangka
yang justru menyakitkan dirinya sendiri
terhadap yang lain menjadikannya zalim
peka...
akankah kami menemukanmu dalam keselarasan yang berjalan
bersama toleransi yang berkeadilan.
atau kami harus menutup mata untuk meraba-raba keberadaanmu?
berharap kamu muncul di waktu dan saat yang berkesesuaian.
sampai berapa lama kami harus menunggu?
butuhkah rasa sabar yang teramat dalam untuk sekadar menantimu?
ataukah kami harus membiasakan hidup tanpamu
yang akhirnya justru membangun amarah dan menceraikan diri-diri kami?
Peka...
semoga kamu selalu ada pada diri tiap-tiap manusia
karena dengan adanya kamu setidaknya kami bisa sedikit lebih bijaksana 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar