Sabtu, 03 Maret 2012

sekolah

sore tadi entah sedang berimajinasi apa tahu-tahu saya sudah duduk manis di atas motor. pakaian tidur ditutup jaket dan jilbab ungu mengantar saya untuk menikmati sore hari. saya melaju ke arah nusantara. bahkan saya sendiri tidak tahu mau mencari apa. tapi yang pasti saya sedang mencari angin segar. meskipun angin segar sendiri tidak bisa saya ungkapkan seperti apa. yang jelas saya ingin menikmati sore. kecepatan motor tak lebih dari 40km/jam. tapi entah kenapa beberapa orang di belakang saya sibuk sekali mengklason. padahal kalau mau lewat bisa saya lewatin saya. entah tumben biasanya saya suka sensi kalau ada yang mengklakson tapi nggak jelas maunya apa tapi tadi saya santai sekali. sebodo amat lah istilahnya. yang saya tahu dan saya mau saya ingin menikmati sore. mungkin beberapa orang di sore tadi sibuk dan siap untuk menghabiskan malam minggunya ke luar rumah. entah sekadar jalan-jalan atau menghabiskan waktu bersama. sedangkan saya... bagi saya cukup puas menikmati sore dengan berkendara motor dan menghabiskan malam di depan layar sekadar untuk bercerita tentang apa yang saya pikirkan rasakan dan nikmati di malam ini.
saya... menghabiskan sore tadi di jalan. membelanjakan sedikit uang saya untuk membeli makanan pengganjal perut yang menarik mata saya. dari bakso... es kelapa muda... tahu jelotot... tahu bara... bahkan entah kenapa di akhir perjalanan saya membelokkan motor merah saya ke sebuah toko penjual cd bajakan. meskipun saya merasa ingin sepenuhnya berlaku idealis tapi entah kenapa untuk hal yang satu ini saya agak mentolelirnya. harusnya kan nggak boleh beli cd bajakan. tapi apa daya sekali lagi saya mengakui bahwa saya  bukan orang idealis. sederhana saja.
terlepas dari apa yang saya beli tahukah kalian... sejak awal berangkat sampai saya kembali ke rumah secara tidak sengaja saya berpapasan dengan tukang sol sepatu. ada sekitar 5 tukang sol sepatu yang saya temui. mereka semua terlihat lelah sekali. ya iyalah bayangkan saja mereka berjalan menggunakan ke dua kaki menyusuri kampung per kampung hingga perumahan atau beberapa cluster untuk mengais rezeki. mungkin di antara mereka ada yang beberapa sudah mengantongi lebar rupiah demi rupiah atau bahkan sama sekali mereka belum mendapatkan satu pelanggan pun. saya jadi melamun sendiri selama menyetir. membayangkan kehidupan mereka beserta keluarganya. meskipun saya tahu dan saya yakin... yakin sepenuhnya bahwa Tuhan saya pasti telah memberikan yang terbaik buat mereka dan keluarga mereka. tapi entah kenapa saya jadi kepikiran. pikiran-pikiran yang sebenarnya sedikit mendobrak hati kecil saya. mereka pasti punya anak. anak mereka sekolah nggak ya? atau mereka hanya berpikir sudah bisa makan saja bersyukur. oke-oke... ini semua terlepas dari kewajiban bersekolah yang diselenggarakan pemerintah ya... meskipun pemerintah menggembar gemborkan dana bos atau apalah. terlepas dari pendidikan sebagai alat untuk mendapatkan pekerjaan yang laik(bagi sebagian orang). terlepas dari itu semua. setidaknya pendidikan bisa membuat mereka "melek"  sekitar atau keadaan ya. saya jadi teringat ketika saya naik angkutan umum 04 di sekitar rumah saya. setiap di perempatan lampu merah ada beberapa anak jalanan yang sibuk bersiap menaiki angkot dengan okulele butut atau alat kecrekan dari botol sekadar sebagai alat pemuncul suara yang menemani suara mereka bernyanyi. meskipun saya sedih banget denger lagu-lagu yang mereka bawakan. karena melibihi usia mereka. atau lebih tepatnya lagu dewasa. lagu-lagu yang memaksa mereka untuk paham perasaan orang gede dan paling banyak berkaitan dengan cinta. entah kenapa lirik-lirik lagu seperti itu bagi saya justru mengajarkan mereka untuk menjadi dewasa secara paksa sebelum waktunya. oke terlepas dar itu semua ya... sebagian diantara mereka ketika saya tanya bersekolah atau tidak jawabannya selalu "tidak" padahal mereka pakai celana atau rok merah (seragam sd). oh iya di antara mereka ada yang perempuan juga lho. ketika saya lanjutkan bertanya lagi mengapa tidak bersekolah mereka menjawab nggak ada uang buat bayar lks. haduhhhhhhhhhh.... bener-bener dah. denger jawaban kaya gini bikin saya miris. iya katanya sekolah gratis ada dana bos.. tapi mereka dibebankan lks yang menurut saya nggak penting kali. ada-ada saja cara sekolah untuk memungut uang dari siswanya alias cari untung. padahal mereka sebagian besar berstatus pns. masih kurang aja ya uangnya? ini terlepas dari sekolah swasta ya. orangtua yang pekerjaannya sebagai tukang sol sepatu atau semacamnya yang awalnya merasa diringankan pemerintah karena adanya program yang membebaskan anak-anak mereka membayarkan spp tapi justru diberatkan oleh OKNUM sekolah yang mencari untung dengan mewajibkan anak-anak didiknya untuk membeli buku LKS. jadi ke mana-mana ya? biarlah. sekali lagi saya menulis apa yang saya pikirkan... rasakan dan nikmati.suatu saat nanti jika saya punya sekolah... semoga saya selalu berada dalam cita-cita luhur saya untuk benar-benar membuat sekolah yang benar-benar sekolah tanpa memberatkan siapapun. sekolah yang benar-benar untuk mentransfer ilmu atau hal-hal yang perlu diketahui pelajari dan pahami. bahkan untuk sekadar untuk paham untuk apa kita diciptakan di muka bumi ini.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar