Minggu, 25 Agustus 2013

Ayah 2


Aku :D
Baru saja aku menyendokan sesuap nasi berlauk telur mata sapi pada ayahku. Kami duduk berdampingan. Sambil merintih menahan sakitnya ayah mengunyah perlahan. Aku membuka cerita selepas salat magrib pada ayahku terkait kisah di hari ini. Bagiku bercerita adalah teman yang tepat di saat-saat seperti ini.

“Yah… tadi itu akad temenku keren deh. Akadnya di rumahnya. Sederhana sekali tapi khidmad luar biasa. Nanti kalau nikah aku mau setipe kaya gitu.” Ujarku sembari memotong telur dan menyuapkan nasi lagi pada ayahku. Sambil terus mendengarkan aku bercerita lagi.

Hari ini adalah hari spesial bagi sahabatku Samiah. Di hari ini ia resmi menyandang status sebagai istri dari seorang guru lulusan IPB. Aku… Rina… Inay … dan Nila mengambil bagian dalam acara sakralnya. Meski amatiran alhmdulillah Sami mepercayakan tata rias akadnya padaku dan Rina. Sementara Inay berperan sebagai fotografer dan Nila memiliki andil sebagai seksi penyalur dokumen adminstrasi antara mempelai laki-laki dan perempuan.

Acara di minggu pagi tadi sederhana sekali. Namun tak dapat kupungkiri justru kesederhanaannya itulah yang membekas di hati. Pernikahan sahabat kami seolah menjadi sebuah inspirasi bahwa menikah itu mudah. Tak serempong orang-orang yang menyiapkan lala lili yang kadang terlalu berlebih.

Hal yang paling membuatku menjatuhkan butir-butir air mata di minggu tadi adalah saat melihat ayah Sami yang biasa dipanggilnya dengan sebutan Bapak. Entahlah… saat melihat Bapak aku teringat ayahku.

Semenjak kemarin sore aku izin kepada ayah untuk pergi ke Depok guna menepati janji terhadap Sami yang memang meminta padaku untuk menjadi tata arias sederhana di acara akadnya. Ayahku masih sakit. Belum sembuh benar… tapi alhmdulillah beliau mengizinkan. Lagi pula aku sudah berjanji akan segera pulang cepat jika acara sudah selesai. Sebagai gantinya adikkulah yang bergantian menjaga ayah selama aku pergi.

“Ya… memang Islam itu tidak pernah ribet. Manusianya aja yang sekarang berlebihan. Sekarangkan banyak nikah mewah-mewah padahal dalam Islam sendiri nggak ada sunahnya merayakan secara berlebihan. Nanti kamu kalau nikah maunya di mana?” Ayah berkomentar dan melempar tanya padaku. Aku meringis lalu merajut pikiranku tentang pernikahan impian yang memang selalu kuinginkan sejak dulu.

“Aku maunya nikah di mesjid. Sekali aja selesai Yah. Yang penting ada anak yatim yang diundang.” Jelasku lalu menyuapkan nasi lagi pada ayah.

Ayah mengangguk. Sementara dalam hati aku mengaminkan sendiri.

Saat aku pulang tadi adikku melaporkan banyak hal. Sejak aku tinggal kemarin ayah tidak mau makan. Aku sih memang sudah curiga akan seperti itu. Soalnya ayah bilang sendiri kalau makan maunya aku yang suapin. Agak sebel sendiri awalnya karena alasan ayah kalau disuapin adik gak enak. Tapi aku mencoba paham. Mungkin memang berbeda rasanya. Tapi aku sedikit menarik napas lega karena meski tidak mau makan nasi… ayah masih tetap menjaga lambungnya agar terisi. Kata adik… ayah maunya makan es buah sama singkong goreng. Ya sudah alhmdulillah.

Aku tiba sekitar pukul setengah dua siang. Tadinya aku berniat merebahkan badanku sebentar. Maklum hari ini baru tidur selama tiga jam rasanya ngantuk sekali. Tapi berhubung melihat kondisi kosan yang agak berantakan jadilah aku bersih-bersih dahulu. Percaya saja kalau adikku tidak melakukan kegiatan yang biasa aku lakukan. Nyapu dan ngepel.

Selesai bersih-bersih aku segera salat zuhur lalu mencuci beberapa pakian kotorku dan ayah. Lumayan menguras tenaga. Tapi anehnya rasa kantuk hilang begitu saja. Ayah tertidur di ruang tengah jadi agaknya tidak menyadari bahwa semenjak tadi aku sudah pulang.

Saat ayah terbangun rupanya aku tengah tertidur. Lumayan sekita dua jam dapat waktu tidur yang kurasa cukup maksimal. Bangun tidur… ayah segera minta di sekoh alias di washlap. Di bersihin badannya pakai handuk basah maksudnya. Hehehe. Aku mengiyakan dan segera melakukan kegiatan rutinku. Rasanya selama tiga harian ini aku menjadi seorang perawat. Cieee

Selesai membersihkan badan ayah aku segera salat ashar. Aku baru sadar saat selesai salat bahwa kaki ayah kini agaknya membengkak. Rupanya saat aku tengah tertidur tadi ayah dan adikku pergi ke apotik untuk membeli obat. Ternyata oh ternyata… ayahku terkena asam urat.
Cess…

“Udah aku makannya” ucap ayah saat aku ingin menyendokan suapan nasi lagi.

“Habisin. Siapa yang mau makan coba?” Ujarku sedikit tegas dan ayah manyun. Biarin. Sekali-kali memang ayah perlu ditegasin seperti itu. Ayah lalu membuka mulutnya lagi. Alhmdulillah satu piring habis. :D

Selesai makan nasi aku menawari ayah untuk makan es buah. (Karena tahu ayah suka es buah… aku dan adikku membelikannya lagi)

“Aku maunya disuapin syaukat” Ujar ayah dan aku mengangguk-angguk sembari mengirim pesan kepada adikku untuk datang ke kosan. Kasihan sih sebenernya dari tadi dia udah bolak-balik. Tapi mau bagaimana lagi… kan ayah yang minta.

Adikku tak lama datang. Segera saja dia menuangkan es buahnya ke dalam mangkok dan kemudian menyuapi ayah.

“Aku maunya kalau makan disuapin Nines. Kalau makan es buah disuapin Syaukat” Ayah berkata-kata sementara aku dan adikku salng bertatap dan nyengir kuda. Kami sama-sama mengiyakan.

“Kalau sakit gini aku baru ngerasa kalau punya anak. Ada yang nyuapin… ngelapin badan…” Ujar ayah di tengah-tengah suapannya. Aku dan adikku saling pandang dan tertawa. Padahal sebelumnya aku sudah banjir air mata.

Menjelang magrib tadi aku menghubungi kakakku. Aku kabari saja keadaan yang sebenarnya. Pas lagi enak-enak berurai air mata eh… dia telepon. Aku berbicara sebentar sisanya aku kasih ke ayah. Setelah selesai bercakap-cakap aku bergegas ngibrit ke kamar mandi. Alasannya sih mandi… padahal mah… yah… tahu sendirilah…

Semoga sakit ayah menggugurkan dosa-dosanya. Semoga Allah segera angkat sakitnya dan memberinya sehat dengan cepat. Aamiin


*Saya bersyukur terlahir sebagai anak perempuan ayah :)*

2 komentar:

  1. syafakallahu untuk ayahmu ya, salam hormat untuk ayahmu. betapa bahagianya ayahmu punya anak shalihah seperti dirimu

    BalasHapus
  2. Allahuma aamiin mbak Linda. terima kasih atas doanya. semoga Mbak Linda senantiasa sehat sekeluarga. aamiin :D

    BalasHapus