Jumat, 23 Agustus 2013

Gosip...


Gosip
“Woi… ngelamun aja. Hati-hati ayam tetangga bisa mati” Andre mengagetkanku  yang tengah berlayar dalam lautan pikiran semenjak tadi. Aku tersenyum menatapnya. Ia kemudian duduk di sebelahku dan memesan minuman. Aku menyeruput habis air mineralku. Berusaha meredam panas di tenggorokan sekaligus mendinginkan pikiran yang agaknya mulai kacau.

“Lo nggak mau cerita sama gue? Mumpung kerjaan gue udah kelar nih.”Andre memancing lagi. Sudah semenjak kemarin Andre memintaku bercerita terhadap masalah yang aku temui. Aku tahu maksudnya baik. Tapi entah kenapa rasanya malas membicarakan atau sekadar mengklarifikasi hal yang tak perlu.

“Lo suka kan sama Tara? Udah deh. Nggak ada yang bisa Lo sembunyiin dari gue.” Andre menyenggol lenganku. Aku tertunduk sesaat. Sudah berapa orang yang menebak seperti ini. Namun sayang tebakannya selalu tidak tepat.

Aku menggeleng perlahan. Mencoba menjawab dengan yakin terhadap apa yang aku rasakan.

“Lo seriusan? Tapi gosip yang beredar menunjukkan bahwa orang yang lo taksir itu Tara.” Andre menatapku serius. Pada akhirnya aku hanya bisa membuang napas secara perlahan. Lingkungan di kantorku memang baik. Namun untuk urusan berita burung yang tersiar ke mana-mana selalu saja tak pernah akan baik. Namanya juga gosip. Cepat menyebar luas tanpa pernah jelas. Apakah berita yang beredar itu benar atau tidak. Namun lebih banyak yang bertolak belakang dari gosip yang dibicarakan. Lebih menyedihkan lagi… sahabatku Andre kini ikut-ikutan. Padahal dulu dia tidak seperti itu.

“Jangan kemakan gosip. Nggak bener tuh berita!” Aku menjawab dengan tegas. Andre kemudian mengangguk mencoba memahami rangkaian kata yang kuberi.

Harus kuakui beberapa minggu  belakangan ini aku sering berurusan dengan Tara. Bukan karena suka atau ada segenggam rasa. Tapi karena memang pekerjaan yang memaksa untuk lebih banyak berhubungan dengan dia. Itu pun kurasa hanya sekadarnya. Obrolan tak jauh-jauh dari proyek yang tengah kami kerjakan bersama. Bahkan terkadang beberapa kali kami sampai makan siang bersama. Mungkin kedekatan ini yang ditangkap beberapa pasang mata oleh rekan kerja lainnya dan ditengarai sebagai objek pemicu lahirnya kabar burung tak tentu itu.

Seandainya saja boleh memilih rekan kerja, pastinya aku lebih memilih dengan lelaki. Namun karena atasanku sendiri yang meminta, aku tak bisa mengelak atau menolak. Aku tak pernah memilih tempat sepi untuk sekadar membicarakan proyek dengan Tara. Agar tak timbul bisik-bisik dari mulut yang teramat lincah berulah. Namun ternyata dengan berdiskusi di tempat ramai dan terang justru memantik gosip yang lebih garang. Malah kemarin sampai terang-terangan “mereka” menyangka bahwa aku sengaja berlaku demikian untuk sekadar memamerkan.

“Tapi Gra… tadi siang Tara ngomong ke gue lho. ..” Andre mulai membuka kata-kata. Aku menoleh ke arahnya.

“Ngomong apa?” Tanyaku sekadar ingin tahu. Sebenarnya pikiranku berlayar ke tempat lain.

“Dia suka sama Lo... “ Ucapan Andre membuatku terdiam. Aku menghela napas perlahan. Kecurigaanku ternyata berbuah nyata. Memang agaknya ada yang berbeda dengan Tara selama kami bekerja bersama. Dia terlihat begitu perhatian meski menurutku berlebihan.

“Andre… ini sebenarnya yang juga lagi gue pikirin. Gue takut kalau Tara suka sama gue. Ternyata kejadian.” Ungkapku terlampau jujur. Mungkin saatnya aku bercerita semua.


“Loh… kalau Tara suka sama lo emang kenapa? Dia cantik… pinter. Pun halnya dengan Lo. Ganteng.. pinter. Cocoklah Lo berdua. Terus masalahnya apa? Lo nggak suka dia?” Pertanyaan Andre membuatku tersenyum perlahan.

“Ndre… ada yang mau gue kasih tahu ke Lo dan rekan-rekan lainnya. Harusnya nggak sekarang. Tapi berhubung Lo bilang kalau Tara tadi bilang ke Lo kalau dia ada rasa sama gue sepertinya hal ini harus gue kasih tahu ke Lo.” Ujarku memulai pembicaraan.

“Lo mau ngomong apaan sih? Kok jadi serius gini.?” Andre bertanya lagi.

“Lo tahu Mbak Wina?” Tanyaku dan Andre terlihat berpikir.

“Mbak Wina bagian adminstrasi yang keluar dua bulan yang lalu dari kantor kita?” tanya Andre mencari kepastian dan aku mengangguk mantap. “Kenapa sama dia? Jangan bilang lo suka sama dia?” Andre menebak dan aku mengangguk mantap.

“Lo serius?” Andre sepertinya tidak percaya dengan anggukan kepalaku.

“Tiga minggu lagi Insha Allah gue nikah sama dia. Gue rencananya baru mau nyebar undangan H- satu minggu. Tapi berhubung gosip yang menyebar udah cukup memekakkan telinga maka sepertinya akan gue percepat di minggu ini nyebarnya. Dia keluar dari kantor karena emang gue yang minta.

“Nugraha… Lo seriusan?” Andre setengah tidak percaya mendengar pernyataanku barusan. Namun mau gimana lagi. Jika Tara sudah mengatakan itu ke Andre biar tidak terlampau jauh dia berharap lebih baik diberitahu sesegera mungkin.

“Serius Gue.. Nah gue minta tolong sama Lo. Mungkin bisa bantu nyampein hal ini ke Tara. Biar dia nggak terlalu berharap lebih sama gue.” Jelasku perlahan

“Hmm… Tapi Gra… rasa suka itu kan hak setiap orang.”

“Iya… gue tahu… Tapi hal ini memang harus segera gue sebarkan. Demi kebaikan diri dan calon gue juga. Masa jelang pernikahan gue ada gosip santer kaya gitu. Ya udah… Lo doain gue deh.” Ujarku akhirnya lalu berdiri. Setelah membayar air mineral aku pamit ke Andre untuk kembali ke ruangan kerja. Andre menyusulku. Kami berjalan beriringan.

“Gra… kalau boleh jujur nih ya… Sebenernya gue yang suka sama Tara. Makanya pas denger gosip kaya gitu gue mau cari tahu ke Lo. Lagi pula Tara bilang kalau dia suka sama Lo. Eh ternyata Lo malah mau nikah sama Mbak Wina.” Andre bercerita saat di dalam lift. Aku tersenyum saja mendengarnya. Sebenarnya aku pun sudah menduga hal itu. Namun aku menunggu sampai Andre yang cerita sendiri.

“Yaudah Lo seriusin aja. Gue doain yang terbaik buat Lo.” Nasihatku lalu pintu lift terbuka.

Tara berada di depan kami kini. Ia tersenyum ke arahku lalu masuk. Kami bertiga kini berada di dalam lift.

“Kalian habis makan siang?” Tara membuka percakapan. Aku menggeleng sembari tersenyum. Sementara Andre menjawab pertanyaan Tara.

“Eh… semuanya gue duluan ya. Mau ke ruangan Pak Setyo. Mau minta izin cuti” Ujarku lalu keluar dari lift di lantai 6.

“Cuti? Dalam rangka apa? Mau jalan-jalan ya?” Suara Tara membuatku menoleh ke dalam lift yang masih terbuka. Mungkin ini saat yang tepat.

“Cuti nikah. Doain ya” Ujarku tersenyum lalu kembali membalikan badan. Terdengar suara pintu lift yang tertutup. Semoga ini yang terbaik.

*Tamat*




Tidak ada komentar:

Posting Komentar