Selasa, 27 Agustus 2013

Kisah Malang Melintang


Malang. Mendengar nama kota apel itu membuatku hatiku berbinar. Bagaimana tidak! Aku selalu memimpikan berada di kota tersebut. Penasaran dan tak sabar untuk melihat pemandangan Gunung Bromo serta wisata lainnya di sana. Impianku sebentar lagi akan terwujud nyata. Yap! Aku akan segera ke sana.
Liburan semester genap kali ini seolah menjadi peluang untukku membabat habis impian itu. Tiket kereta ekonomi ac Matarmaja sudah di tangan. Izin ayah bunda juga sudah dipegang. Ah, semakin tak sabar menghabiskan 24 jam lagi untuk menuju ke sana.  Besok keretaku berangkat jam 14.00. Mata ini seolah tak lelah padahal semenjak tadi sudah berolah melakukan packing. Jam berbentuk mawar sudah menunjukkan pukul 02.00. Tanganku masih asyik utak atik netbook. Melakukan browsing destinasi lebih lengkap sebagai persiapan lebih mantap.      
Backpacker sendiri kali ini memang membuatku lebih berantisipasi. Di sana aku punya Mas Fajri, sepupu yang kini berkuliah di Universitas Brawijaya. Rencananya dia yang akan membantuku selama aku berlibur di sana. Setidaknya dia bersedia memberi informasi selama aku di sana nanti. Meski dia belum libur kuliah, semoga tetap bisa menemani. Jika tidak, berarti benar-benar aku akan bertualang sendiri.
                                                ****
Pukul 11.00 aku sudah berangkat dari rumah menuju Stasiun Pasar Senen. Sebelumnya, hampir dua jam aku mendengar dan menyimpan ucapan berupa nasehat dari mama terkait perjalananku selama empat hari ini. Maklum, aku anak perempuan satu-satunya. Dua kakak laki-lakiku sudah bekerja dan berumah tangga. Sementara ayah berlaku seperti biasa tak menspesialkan diriku yang perempuan. Tapi, aku lebih suka diperlakukan seperti itu.
Pukul 13.30 aku tiba di Stasiun Pasar Senen. Pemandangan manusia yang duduk di depan pintu masuk seolah sudah menjadi biasa di depan mataku. Situasinya sama seperti waktu aku pergi ke Jogja di liburan smester lalu. Penumpang Matarmaja sudah dipersilakan masuk oleh petugas. Segera kupersiapkan KTP dan tiketku. Aku hanya membawa sebuah ransel dan tas kecil.
Kereta Matarmaja sudah dipersiapkan di peron jalur satu. Bergegas aku masuk dan mencari tempat duduk. Gerbong 6 no 4A. Dalam hati sebenarnya aku berdoa semoga orang yang akan duduk di sampingku nanti adalah anak muda seumuranku. Kalau tidak, ya minimal orang baik agar nanti perjalananku tidak kaku.
Ransel sudah kutaruh di atas. Kini hanya ada aku dan tas kecil berisi seluruh barang berharga. Meski sebenarnya aku juga menyimpan sebagian uangku di ransel. Jaga-jaga jika ada hal yag tidak diinginkan terjadi. Seorang lelaki tua berambut putih tergopoh-gopoh mendekat ke arah bangkuku. Mungkin beliau yang akan duduk di sampingku. Beliau menunjukkan tiketnya padaku. Aku mengangguk mengiyakan kalau benar bahwa nomor tempat duduknya tepat di sebelahku.
“Maaf Cu… boleh kakek tukar tempat duduk? Istri kakek duduknya beda dua bangku sama tempat duduk kakek ini. Jadi cucu duduk di tempat istri kakek” Ujar sang kakek penuh harap. Aku segera tersenyum dan mempersilakannya. Kuambil ranselku yang sempat kutaruh dan aku pun bertukar tempat duduk. Nenek dan kakek itu kini duduk bersama. Senangnya melihat kesetian kakek pada nenek itu.
Kini karcisku berubah menjadi nomor 1B. Otomatis aku berada paling depan. Depanku tak ada orang jadi, di hadapanku kini hanya dinding kereta berwarna hijau. Aku ingin sekali duduk di samping kaca. Untung penumpang 1A belum datang sehingga aku leluasa memilih duduk.
Sorry ini gerbong enam kan, ya?” Tanya seorang pemuda berkacamata  saat aku tengah asyik memperhatikan kerumunan orang lewat kaca. Segera aku menoleh dan menjawab dengan anggukan kepala. Cakep!
“Nomor tempat duduk saya 1A. Boleh saya duduk di bangku saya” Ujarnya sambil tersenyum sambil memperbaiki posisi kacamata. Lelaki ini memang memiliki paras yang dapat dikatakan luar biasa. Kulitnya putih dan memiliki senym khas yang entah kenapa membuat sedikit hatiku meletup. Namun ucapannya membuat moodku berkisut. Aku segera menggeser posisi duduk. Padahal aku ingin sekali duduk di samping kaca.
Pemuda ini segera menaruh ranselnya. Ternyata ransel kami mirip hanya saja berbeda warna. Ia duduk dengan tenang. Sementara aku terdiam. Tak lama ponselku berdering. Di layar tertuliskan “mama calling”. Bergegas aku mengangkatnya. Tak sampai tiga menit aku bercakap-cakap ponselku tiba-tiba mati. Bodoh! Semalam aku lupa ngecash.
Low batt?” Tanya pemuda di sebelahku setelah aku mengeluh karena ponselku mati. Aku mengangguk sambil tersenyum sekejap. “Kalau mau ngcash biasanya ada di restorasi.” Ujarnya memberi informasi.
“Boleh pinjem ponselnya? Saya mau sms mama saya. Mau ngasih tahu kalau ponsel saya mati. Takutnya orang rumah khawatir” Jelasku tanpa malu. Di saat seperti ini rasa malu sudah kulempar ke rel kereta. Lebih baik seperti ini daripada nanti mama heboh dan menyangka aku kenapa-kenapa. Pemuda itu segera menyodorkan ponselnya ke arahku. Segera saja aku mengutak-atik keypad huruf tersebut. Setelah asyik mengirim pesan bergegas aku mengembalikannya tentu dengan ucapan terima kasih. Tak berapa lama ponselnya berdering. Pemuda ini menengok ke arahku, lalu memberikan ponselnya. Mama menelponku.
“Makasih ya Mas. Sorry ngerepotin” Ujarku setelah selesai menerima telepon dari mama.
“Iya sama-sama. Santai aja. Btw kamu mau ke mana? Sendirian aja?” Tanya pemuda ini. Tak berapa lama kereta berjalan.
“Mau ke Malang. Iya sendirian aja.” Ujarku seadanya.
“Saya Diaz. Masih mahasiswa. Kamu?” Ujarnya memperkenalkan diri.
 “Beneran mahasiswa? Coba mana KTMnya?” Selidikku. Di mana saja harus waspada terlebih aku sendiri. Sejenak dia tertawa lalu mengeluarkan dompet di saku celana. KTMnya di sodorkan ke arahku. Fiuh lega. Ternyata dia memang mahasiswa dan tidak berdusta. Terlebih kartu mahasiswanya sama denganku. Sama-sama dari UI.
“Perlu di pamerin bukti lain? Ujarnya meledek sementara aku menggeleng.
“Syukur… ternyata beneran mahasiswa. Aman! Maklum saya sendirian. Jadi harus ekstra waspada. Iya, saya mahasiswa juga. Bahkan kita satu kampus. Saya Laras” Ujarku sambil meringis.
“Oh ya, coba lihat? Tantangnya gantian. Aku pun bergegas mengeluarkan KTMku di dalam tas kecil. Setelah kutunjukkan dia mengangguk-angguk seperti takjub. “Wah nggak nyangka sebangku sama anak UI juga. Jurusan apa? Angkatan berapa? Kalau saya Psikologi angkatan 2009” Jelasnya
“Angkatan 2010 jurusan Sastra” Jelasku lalu memasukan kembali KTMku. “Salam kenal Kak Diaz” Ujarku berusaha sopan karena ternyata dia angkatan senior.
Awal mula kami mengobrol kaku. Lambat laun mengobrol sampai tak tahu malu. Obrolan kami tak karuan ke sana ke mari. Sedikit ada kebahagiaan karena teman seperjalanan sungguh baik dan menyenangkan. Kami kenal baru beberapa jam tapi rasanya seperti kawan lama yang sudah tak lama jumpa. Aku jadi bersyukur karena bertukar tempat duduk. Kalu tidak mungkin jam segini aku akan garing dan mengering.
Saat malam Diaz mengajakku ke restorasi. Selain bertujuan untuk makan dan meluruskan kaki tujuanku ke sana juga untuk memenuhi batre ponsel. Kami banyak bertukar cerita. Dari soal kehidupan kampus hingga berbagai hal. Ternyata Diaz asli dari Malang dan kini akan pulang karena liburan panjang. Dari kisahnya aku tahu bahwa rumahnya di daerah Batu. Tak terasa kami mengobrol hingga larut malam bahkan terlampau pagi. Jam menunjukkan pukul 00.32 Diaz mengajakku kembali ke tempat duduk. Aku setuju karena batre ponselku sudah penuh.
“Kak Diaz… boleh tuker nggak?” Ujarku memelas berharap dia mengizinkan aku duduk di samping kaca. Dengan senang hati akhirnya dia memberi kesempatan itu. Sebenarnya tujuan utamaku adalah agar aku bisa tidur bersandar kaca.
Udara malam semakin dingin terlebih ac Matarmaja ini dekat dengan tempat duduk kami. Jaketku berada di ransel, seingatku berada pada bagian paling bawah. Tak mungkin aku membongkarnya. Diaz sepertinya tahu aku kedinginan lalu dia memberikan jaket kulit yang dikenakannya padaku. Tadinya aku menolak tapi karena dia memaksa jadi aku terima. Lumayanlah dari pada ribet bongkar-bongkar ransel.
                                                ****
Malang. Akhirnya aku menjejak juga. Keretaku tiba di Stasiun Malang Kota Baru tepat pukul 08.00. Mas Fajri sepupuku sudah datang menjemput. Bergegas aku pamit kepada Diaz. Entah karena terlalu senang atau karena sudah tiba di Malang aku sampai lupa meminta no ponsel Diaz. Diaz sudah keburu menghilang di telan kerumunan. Padahal jaketnya belum sempat aku kembalikan. Nasib!
“Heh! gimana perjalanan? Seru?” Tanya Mas Fajri sembari menarik ranselku mencoba mengambilnya. “Sini Mas bawain. Kasian nanti kalau sampai kamu tambah kurus bisa-bisa aku diceramahin sama Tante!” Jelas Mas Fajri lagi dan akhirnya aku menyerahkan ranselku padanya.
“Seru… seru banget. Malah aku dapat kenalan, Mas. Tapi, aku lupa minta nomor ponselnya. Jaketnya dia kebawa, Mas… Oon deh aku” Jelasku menyesal. Mas Fajri mengelengkan kepalanya. Sepertinya dia sudah hapal dengan watak sepupunya yang teledor plus ceroboh. Meski kami seumuran namun sepertinya Mas Fajri lebih dewasa dibanding aku.
“Ye… gimana sih kamu. Kebiasaan... Udahlah kalau jodoh nanti juga ketemu lagi. Eh iya nanti kamu tinggal di kosan temen mas Mas Fajri ya. Dia udah pulang kampung ke Makasar jadi kamarnya bisa kamu pakai. Udah izin juga kok sama ibu kosnya.” Ujar Mas Fajri memberi pengarahan dan aku pun mengangguk senang. “Btw rencana kamu ke mana aja nih?” Tanya Mas Fajri sambil megajakku keluar dari stasiun. Aku segera memberikan secarik kertas yang kukeluarkan dari tas kecil. “Daftar perjalanan Laras” Mas Fajri hanya geleng-geleng kepala membaca daftar perjalananku.
“Aku nggak bisa anter ke tempat ini full loh ya. Kan Aku udah bilang kalau belom libur. Jadi nanti beberapa tempat aja yang bisa aku anter. Sisanya… kamu jalan sendiri ya. Sorry banget” Jelas Mas Fajri sedikit menyesal. Aku pun mengangguk mengerti. Sudah banyak bantuan yang diberikan anak budeku ini bagiku sudah cukup dan aku sungguh berterima kasih.
                                    *****
Setelah salat Isya, Mas Fajri mengajakku ke Batu—setelah sebelumnya aku balas dendam hampir tidur seharian karena lelah tak karuan. Aku jadi ingat Kak Diaz… rumahnya kan di daerah Batu. Tapi nggak tahu Batu sebelah mana. Dia apa kabar ya? Pasti lagi asyik berkumpul dengan keluarganya.
“Woy… bengong aja. Nih, pakai!” Ujar Mas Fajri menyodorkan helem dan membuyarkan lamunanku. Aku cengengsan. Kami berangkat saat senja. Selama perjalanan sungguh kunikmati udara dingin yang menyeruak ke dalam tulang, padahal jaketku sudah dobel dua. Satunya jaketnya Diaz karena aku cuma bawa satu jaket.  Namun apa daya dingin tetap saja menusuk mungkin karena badanku terlalu kurus. Nasib!
 Sungguh keindahan kota Malang tergambar jelas di depan mata. Kami sampai sekitar pukul 19.00 dan kini aku berdiri di tempat paralayang biasa mengudara. Hamparan rumah-rumah dengan lampu-lampu terang terbentang seperti bintang begitu terlihat sempurna. Mas Fajri bilang ini tempat wisata Gunung Banyak. Memang banyak sekali gunung-gunung yang bertumpu meski samar terlihat. Banyak pemuda pemudi seusiaku yang menghabiskan waktu bersama di tempat ini. Hiy… mana rada gelap. Jadi ngeri sendiri.

Wisata Gunung Banyak

“Nih” Ujar Mas Fajri menyodorkanku secangkir cup kopi panas. Tanpa pikir panjang aku langsung menyeruputnya. Membuat badanku terasa hangat.
“Kak Fajri…” Tiba-tiba suara seorang perempuan dari arah belakang terdengar. Seketika aku dan Mas Fajri menoleh. Tepat di belakang kami kini berdiri seorang perempuan berjilbab senada seperti yang aku kenakan. Ia mengenakan kacamata putih. Cantik!
“Eh Ayu…lagi anter makanan ya?” Ujar Mas Fajri ke arahnya. Sepertinya dia temannya. Gadis itu mengangguk sembari tersenyum.
“Ras… kenalin ini Ayu. Junior Mas Fajri di kampus. Kita satu organisasi Bem.” Jelas Mas Fajri menjelaskan dan aku menyodorkan tanganku.
“Ini Laras sepupu saya. Lagi liburan dia. Jadi sebagai Kakak yang baik dan bertanggung jawab saya anter dia deh ke mana-mana” Jelas Mas Fajri memperkenalkanku. Aku menyenggol mas Fajri karena ledekannya.
Ayu menjabat erat tanganku disertai senyuman yang membuatnya nampak anggun. Kulitnya halus dan putih. Suaranya lembut sekali. Malam ini Ayu datang ke tempat ini karena mengantarkan makanan untuk warung yang buka di tempat wisata ini.
 “Kak Laras… ke rumah Ayu Yuk. Rumahku dekat sini. Sekalian makan malam.” Ajak Ayu tiba-tiba. Mas Fajri semangat mengompori. Dasar anak kost pasti mau numpang makan gratis. “Di rumah Ayu makanannya sederhana Kak. Tapi di Jakarta pasti nggak ada. Makanya kakak harus coba. Mau ya?” Pinta Ayu lagi merayu. Akhirnya aku mengangguk tanda setuju.
 Ternyata rumah Ayu benar-benar tak jauh dari tempat wisata tadi. Aku dan Ayu berjalan kaki sementara Mas Fajri di belakang membuntuti kami. Jalanan memang sedikit gelap dan sunyi. Tapi obrolan kami memecah semuanya. Dari kisahnya aku tahu bahwa Ibu Ayu penjual gorengan dan menitipkannya ke warung-warung. Salah satunya warung di tempat wisata tadi. Tapi aku salut karena meski demikian bagi kelurga Ayu pendidikan adalah nomor satu.
Rumah Ayu benar-benar sederhana tapi hangat. Terlebih kehangatan itu terasa saat aku bertemu dengan ibunya. Ibunya cantik dan ramah. Segelas teh panas disuguhkan untukku dan Mas Fajri. Tak berapa lama kami diajak duduk lesehan beralaskan tikar di ruang tengah. Makan malam.
Di depanku terdapat semangkuk makanan berkuah sepiring tempe dan kerupuk, sepertinya nikmat. Terlebih nasi yang disodorkan Ibu Ayu masih panas cocok di suasana seperti ini.
“Nak Laras, ini kalau di sini namanya “Jangan Lombok” Bahasa Indonesianya sih sayur cabe. Pokonya uenaaak… ya gini ini makanan orang ndeso” Ujar Ibu Ayu menjelaskan.
“Wah, ini udah seneng dan bersyukur banget diajak mampir terus ditawarin makan. Makasih banget loh Ibu dan Ayu. Ini menggugah selera. Aku memang suka sekali pedas” Jelasku tersenyum sembari menatap tebaran cabai rawit hijau di mangkuk sayur tersebut. Kami berempat pun makan bersama. Masakan Ibu Ayu benar-benar nikmat. Pedasnya Nampol.
“Ya ampun, bibir sampe merah gitu. Kebakaran Ras?” Ledek Mas Fajri saat melihat aku tengah menghabiskan sisa kuah di piring. Aku tersenyum meringis. Ayu dan Ibunya tersenyum senang. Selesai makan bersama kami melanjutkan obrolan di ruang tamu.
“Sekarang kuliah di mana, Nak Laras?” Tanya Ibu Ayu sambil memenuhi cangkir tehku yang sudah habis.
“Di Ui, Bu” Jawabku
“Wah sama kaya Mas Diaz dong? Kak Ayu kenal Mas Diaz nggak? Dia jurusan Psikologi angkatan 2009.” Ayu menyambar. Ucapannya membuatku tersedak.
Deg! Inikah yang dinamakan jodoh? Padahal tadi pagi aku berharap mendapatkan nomor ponselnya. Ternyata sekarang aku di rumahnya. Mas Fajri menyenggol kakiku.
“Ya ampun. Jadi Kak Diaz itu kakak kamu Yu? Tadi pagi itu aku sekereta sama dia. Baru kenal juga di kereta. Ternyata sekarang aku di rumahnya.” Ujarku menjelaskan. Seketika Ayu dan Ibunya saling bertatapan.
“Oh… jadi yang tadi diceritain Diaz itu, ternyata Nak Laras toh. Tadi sore itu Diaz cerita ke Ibu, katanya di kereta tadi teman seperjalanannya menyenangkan. Pas ibu tanya orangnya gimana-gimana eh dia ndak meneruskan ceritanya. Lha kok ternyata temannya sekarang di sini.” Jelas Ibu Ayu
“Tuh kan Ras… Mas bilang juga apa. Kalau jodoh pasti ketemu lagi. Jaketnya Diaz ini kebawa sama Laras, Bu. Kebiasaan teledor ini anak. Tadi pas distasiun dia kebingungan karena mau mengembalikan jaket. Orangnya udah nggak ada” Penjelasan Mas Fajri kali ini benar-benar membuatku malu.
“Nak Diaz lagi ke rumah temennya. Sebentar lagi juga pulang. Tunggu saja. Biar kejutan” Jelas Ibu ayu semakin membuat mukaku malu.
Benar saja kata Ibu Ayu. Tak berapa lama kemudia, Diaz datang dan kaget melihatku di hadapan. Kami seketika kaku. Aneh sekali meski sebenarnya secuil  hatiku bersorak karena bisa bertemu lagi dengannya. Ibu Ayu lalu menjelaskan semuanya. Wajah Diaz memerah kepergok karena tahu aku mendengar dari Ibunya bahwa dia menceritakan pertemuannya denganku di kereta.
“Mas Diaz… Kak Fajri ini sepupunya Kak Laras sekaligus senior Ayu di kampus.” Jelas Ayu dan  Diaz mengangguk-angguk mencoba paham. Akhirnya kami berlima mengobrol santai. Setelah mengobrol terlalu lama akhirnya aku dan Mas Fajri pamit.
“Oh iya… Laras tinggal sama Fajri satu kosan?” Tanya Diaz saat mengantar aku dan Mas Fajri ke teras depan bersama Ayu.
“Enggaklah… bisa dibunuh  aku sama tante. Dia tinggal di kosan temenku” Jelas Mas Fajri menyambar.
“Oh iya Kak Diaz… jaketnya kebawa aku. Ini aku pake buat dobelan. Gimana yak Kak?” Tanyaku jujur. Nggak enak sih sebenarnya pinjam jaketnya kelamaan lagian belum aku cuci juga.
Diaz tersenyum menatapku sesaat. Dia hanya mengangguk saja tanpa berkata apa-apa.
 “Besok rencananya saya mau ke Bromo sama Ayu. Kamu mau ikut?” Ujarnya mengajak tanpa mempedulikan pertanyaanku.
“Nah… Tuh Ras… pas banget. Lumayankan daripada kamu sendirian” Senggol Mas Fajri ke arahku. “Si Laras ini punya list perjalanan, Iaz… salah satunya Bromo itu.” Ujar Mas Fajri lagi ke arah Diaz.
“Asyik… Ayu ada temennya. Males soalnya kak kalau jalan sama Mas Diaz berdua doing. Orang suka nyangka kita pacaran. Hehehe. Kak Laras mau kan nemenin Ayu?” Tanya Ayu merajuk.
Aku pun akhirnya mengangguk setuju. Kesempatan ini tidak datang dua kali. Lagi pula jalan-jalan sendiri belum tentu lebih seru. Ternyata memang aku tidak diizinkan untuk bertualang sendirian. Buktinya Tuhan mengirim Diaz dan Ayu untuk menemaniku. Tak sabar rasanya menunggu esok.
                                                *****
Kini aku berdiri di ujung anak tangga depan Kawah Bromo. Perjalanan panjang nan indah serta menghibur mata menuju Kawah Bromo terlewati sudah. Kami pergi menggunakan mobil Jip sewaan. Kakiku kini sudah payah untuk melangkah lagi. Ternyata selain butuh kesiapan mental yang penuh persiapan tenaga lebih diperlukan. Nafasku terengah-engah benar-benar lelah.
Kak Diaz dan Ayu sudah berada di depanku. Ia bersandar pada pagar kawah dan sepertinya asyik menatapnya. Sementara aku kini terengah-engah menapaki anak tangga. Langkahku benar-benar terhenti. Sudah tidak kuat lagi.
“Ayo Kak Laras… sedikit lagi. Selangkah lagi” Semangat Ayu yang sudah selangkah mendahuluiku. Aku hanya mampu menjawab dengan senyuman meski setengah kupaksakan.
Aku membungkukkan badan sembari memegang kedua lututku. Aku menyerah. Aku berniat untuk duduk di anak tangga terakhir ini. Namun, belum sempat aku merebahkan diri seseorang menarik ke dua tanganku mengajakku untuk berdiri kembali. Ayu.
“Belum selesai, Kak. Bukan di sini istirahatnya.” Ujar Ayu membantuku berdiri. Dari depan kulihat Diaz menatap ke arah kami.
“Ayo Ras selangkah lagi” Ujar Diaz menyemangati. Ucapannya kali itu benar-benar membuatku bersemangat kembali. Hingga akhirnya kini aku berhasil berdiri di samping kawah. Pemandangan berasap putih dengan air kawah yang berwarna hijau memenuhi mata. Sungguh impaiku terlunaskan. Ini yang ingin aku lihat selama ini. Kawah Gunung Bromo yang sangat indah dan memukau. Terlebih aku menuntaskan mimpiku bersama orang-orang yang membuat hatiku senang dan tenang.
“Cantik…” Hanya kalimat itu yang keluar dari mulutku. Sepertinya rasa lelahku tersedot setelah melihat pemandangan itu. Ajaib.

“Secantik kalian berdua…semoga tetap istiqomah” Ujar Kak Diaz tiba-tiba membuat aku dan ayu menoleh ke arahnya. Bagi Ayu pujian itu adalah rasa sayang kakak terhadap adiknya. Namun bagiku pujian itu berarti lain. Entahlah…

Tidak ada komentar:

Posting Komentar