Jumat, 02 Agustus 2013

Allah memberi Rizki dari mana saja ^^

"Kamu ngapain sih dari tadi mantengin layar terus?" Tanya mama kepadaku yang semenjak tiga jam lalu serius menatap layar netbookku, tepatnya layar inbox pada gmail. 

Hari ini adalah hari yang kutunggu-tunggu. Biasanya orang setiap tanggal 1 menununggu gaji atas pekerjaan yang dilakukan selama sebulan. Aku pun berlaku demikian. Hanya saja bedanya aku menunggu kedatangan uangku yang memang rutin masuk setiap tanggal satu namun hanya seminggu waktu pengerjaannya.

Semenjak keluar dari rutinitas kantor, aku memilih pekerjaan sebagai penulis. Meski amatiran, beberapa orang banyak memberi percaya bahwa aku bisa menjadi seorang penulis handal. Caranya? Aku menjual karyaku kepada orang-orang yang membutuhkan. Kok bisa? Di dunia ini tidak ada yang tidak mungkin dan tidak bisa. Asalkan kita punya keinginan kuat semua pasti bisa di dapat. Semesta akan mendukung!

Bagaimana caraku mencari uang? Banyak hal! Aku akan jelaskan salah satu caranya.
Biasanya aku menjual karya terhadap seseorang yang memang ingin dibuatkan tulisan. Misal cerpen atau puisi tentang diri atau perasaannya. Aku hanya minta pakem kisah dari mereka, lantas pikiranku yang akan melebarkannya. Hasilnya? Setiap selesai, kukirim pada mereka yang memesan. Jika mereka puas dan suka segera mereka meminta nomor rekeningku untuk mengirim pundi-pundi rupiah. 

Sudah berapa yang didapat? Alhmadulillah  banyak. Tidak jauh berbeda dengan gaji yang kudapatkan dari sebulan bekerja. Hanya saja kalau menulis kerjanya tentatif, sesuka hati. Dan ini bagiku adalah suatu pekerjaan yang amat menjanjikan untuk kehidupanku seterusnya.

"Hei... ditanya mama malah ngelamun. Nunggu apa?" Mama membuyarkan aku yang terlarut dalam kisah barusan. Aku tersenyum menatapnya.

"Nunggu Rizki, Mah." Jawabku sekenanya. Mama mengernyitkan dahi, mungkin tidak begitu paham maksud perkataanku.

"Rizki kok ditunggu? Rizki itu dicari, Sayang" Mama kini duduk manis di sampingku. Aku tersenyum

"Sudah Ma... Aku sudah mencarinya. Ini tinggal nunggu hasilnya." Ungkapku jujur.

"Kadang kita tidak pernah bisa menerka atau menebak rizki yang datang kepada kita." Ujar mama seolah ingin memberiku wejangan. Mataku kini serius menatap mama. Ingin tahu dan paham maksud dari kalimat yang diucapkannya barusan.

"Iya... ini telepas dari kerjaanmu ya. Kan kamu sepertinya nunggu bayaran tulisanmu turun tuh. Kamu kan jagain sumber rizkimu dari situ doang. Percaya deh sumber rizki itu datang dari mana saja. Kamu nggak bisa nebak atau terka. Kamu nunggu rizkimu dari sini bisa aja rizkimu datang dari jalan lain. Allah kan Maha Kaya. " Ujar Mama menjelaskan dengan perlahan. Aku mencoba paham.

Ada benarnya juga yang dikatakan mama. Pagi ini aku terlalu serius berharap orang-orang yang memesan tulisanku membayarnya. Padahal aku tidak seharusnya berharap sedemikian rupa kepada mereka. Entahlah seperti orang yang lupa saja. Aku memang menggantungkan rizkiku hanya kepada Tuhan. Namun pagi ini sepertinya aku terlupa untuk melakukan ritual duhaku dan sibuk berharap rizkiku masuk dari apa yang aku usahakan. Harusnya aku tinggal pasrah saja dan doa. Toh aku sudah usaha dengan maksimal.

Sebenarnya pagi ini mama datang ke kamar untuk sekadar mengingatkanku melaksanakan salat sunah enam rakaat. Dan memang sepertinya aku harus segera mematikan netbookku ini. Aku melakukan salat duha seperti biasa. Tapi untuk urusan doa aku melipat gandakannya. 

Doaku...
Tuhanku Yang Maha Kaya. Sepagi ini seorang hamba menggantungkan rizkinya kepada Engkau Yang Segala Maha. Sudilah kiranya Engkau memberi sebagian rahmat dan Rizki dari seluruh alam sesesta yang kau punya untuk diri dan semua keluargaku, saudara-saudaraku, sahabat-sahabatku, dan seluruh manusia di dunia yang telah menempuh usahanya serta memaksimalkannya dalam bermunajat kepada Engkau...

Selesai mengaminkan doa yang kupanjatkan sendiri, bergegas aku merapikan mukena. Tiba-tiba, adikku ke kamar memberikan ponsel orangeku yang ternyata semenjak tadi berdering. Tahukah kalian itu nomor siapa? Itu adalah nomor seorang Laki-laki spesial (klik)yang kupanggil Eyang meski tak ada aliran darahnya yang mengalir dalam tubuhku.

Beliau menelponku untuk mengucapkan selamat berpuasa dan selamat bersiap menemui lebaran. Aku mengucapkan terima kasih atas perhatiannya yang begitu besar. Meski kami berbeda keyakinan namun beliau begitu peduli terhadap kegiatanku ramadanku. Di akhir kata-kata beliau berucap bahwa baru saja mentransfer sejumlah uang sebagai hadiah lebaran untukku dan adikku. Subhanallah. Hanya itu yang mampu keluar dari mulut dan hatiku. Lalu aku mengucapkan terima kasih kepadanya. Aku mendoakan agar beliau senantiasa sehat dan banyak mendapat rizki karena senantiasa mengingat aku dan saudaraku. 

Ingatanku di tahun 2012 muncul, aku jadi ingat saat aku ingin berangkat ke Malaysia untuk mengikuti kegiatan magang. Sebelum berangkat, orang yang kupanggil Eyang ini juga memberikanku sejumlah uang yang diistilahkan olehnya sebagai uang saku.(klik kisah 100.000 menjadi 1.000.000) Dan sekarang? aku sudah tidak menunggu rizki dari tulisanku lagi karena ada rizki dari tempat lain yang mampu menyangga kehidupanku untuk saat ini. Rizkiku sudah diatur oleh Nya. Aku pasrah saja karena toh sudah berusaha. 

Dan satu hal yang dapat kupetik dari semua kejadian ini adalah... seperti kata mama bahwa kita tidak akan bisa menebak atau menerka datangnya Rizki kita. Rizki Allah bisa datang dari mana saja. Allah Maha Kaya! Dia selalu menjamin rizki hambanya 


Tidak ada komentar:

Posting Komentar