Kamis, 12 September 2013

Ayo Terus Berpikir Positif... Reisa

Tenang dan damai lihat gambar ini 
Hai…
Ups… Assalamualaikum wr.wb
Itulah sebaik-baiknya salam yang harus diucapkan. Apa kabar hari ini? Semoga senantiasa berbahagia dan terus berpikir positif terhadap apapun yang ada di hadapan. Weits kok tumben? Iya hari ini agaknya saya sempat terjerumus dalam lubang picik dan menjengkelkan. Untung saja saya masih mempertahankan pikiran positif yang masih tertanggal (setidaknya)


Ada apa sih hari ini? Komplit! Seharian hampir eh salah sudah terjerumus dalam rasa “malas” dalam artian menghadapi segala sesuatu secara semaunya atau terpaksa. Susahnya menghadirkan keihklasan di tengah-tengah nol kegiatan yang biasanya dimiliki. Tapi yasudah toh pada akhirnya saya BERHASIL melawan diri saya sendiri. Ini maksudnya apa toh? Gagal paham dan mengerti (Hihihihihihihihi *tertawa Mak lampir di dramatisasi)


Jadi gini… seharian tadi saya beranggapan bahwa teman-teman saya tidak menganggap saya ada. Dalam artian saya tidak begitu dihiraukan dalam sebuah grup atau kelompok tertentu. Saya pernah menanyakan hal yang penting dalam grup tersebut. Namun sayang tak ada satupun jawaban atau bahkan tak ada sebuah respon dari mereka. Saya sedih sih… giliran teman-teman yang lain bertanya (bahkan pertanyaaan yang nggak penting sekalipun) mereka dengan mudahnya bahkan beramai-ramai menanggapi. (Kasihan deh saya) Eitssss kasihannya jangan pakai banget ya!


Sekali… dua kali… sampai tiga kali kejadian itu terus berulang. Sedih rasanya berada di kumpulan orang-orang yang kadang tidak peka/tidak mau belajar peka/ memang tidak punya kepekaan. Hingga pernah saya memutuskan untuk “out” berkali-kali. Saya berpikir dengan keluarnya saya tidak akan berpengaruh apa-apa. Toh saya juga merasa selama ini ada atau tidak adanya saya tidak akan berdampak apapun bagi kelangsungan komunikasi dengan mereka.


Ternyata pikiran saya salah. Dengan keluarnya saya justru malah memperkeruh keadaan dan memunculkan banyak pertanyaan dari mereka kepada saya. Hal tersebut justru menunjukkan seolah-olah saya sedang bermasalah dengan mereka dalam artian marah tanpa ada kejelasan. Padahal saya sudah pernah menanyakan secara baik-baik “kenapa setiap saya yang bertanya mereka selalu tak peduli?” Tapi toh tidak pernah ada jawaban memuaskan dari mereka. Atau lebih tepatnya tidak dijawab! (kasihan)


Mungkin terdengarnya di sini saya yang egois. Tidak mau paham terhadap rutinitas yang sedang mereka lakukan (dalam artian sibuk) berbeda dengan rutinitas saya di kala ini. Tapi jika kehadiran saya dalam kelompok tersebut tak membuahkan atau tidak mendatangkan kebermanfaatan bagi mereka ataupun diri saya sendiri… lalu buat apa saya terus bertahan ada di sana? Hingga pada akhirnya saya kembali lagi bergabung dalam kelompok tersebut karena permintaan beberapa dari mereka yang rupa-rupanya masih punya sedikit peduli (cihuyy)


Akan tetapi pada akhirnya… beberapa hari ini hal tersebut terjadi lagi pada saya. Di satu sisi saya butuh pencerahan atau penjelasan terhadap suatu hal dan lagi-lagi tak ada yang merespon. Awalnya saya terus berpikir positif pada mereka semua bahwasanya di antara mereka belum punya waktu atau kesempatan menjawab pertanyaan saya. Namun lambat laun pertahanan saya untuk terus berpikir positif terhadap mereka terkikis… terlebih setelah sebuah pertanyaan dan pernyataan TIDAK PENTING (bagi saya) muncul lalu tiba-tiba justru menarik perhatian mereka semua. Lagi-lagi saya merasa diabaikan (*Sambil mojok dan nangis sesengukan)


Oh oke… saya mencoba berdamai dengan hati dan pikiran saya. Bahwasannya semua orang tidak sesensitif atau sepeka saya. Rasa kesal/kecewa/marah/sedih/duka hingga pada akhirnya memuncak menjelang magrib tadi saya lampiaskan dengan melakukan serangkaian kegiatan yang bermanfaat untuk diri saya sendiri. Energi orang yang marah amatlah besar. Sayang jika tidak dimanfaatkan dengan baik dan benar. Lalu apa yang saya lakukan? Saya masak lalu mencuci lalu menyapu terus merapikan kosan saya sedemikian rupa hingga terlihat nyaman aman dan tentram. Hasilnya saya capek! Tapi manfaat! Lihat sekarang saya sedang selonjoran bersantai sembari menonton televisi dan mengetik tulisan ini. Kosan saya bersih… dan sedikit demi sedikit saya sudah melupakan kejadian tadi.


Setiap manusia punya masalah masing-masing  termasuk diri saya sendiri. Mungkin bagi sebagian orang masalah saya ini amatlah sepele. Namun tidak bagi saya. Setelah kejadian tersebut saya berusaha membangkitkan pikiran positif yang telah terkikis kepada mereka. Saya beranggapan bahwa mereka tak menggubris pertanyaan saya lantaran tidak tahu jawabannya atau saja mereka juga sedang mengerjakan pekerjaan lain sehingga lupa untuk menjawab atau sekadar memberi respon terhadap pertanyaan saya.


Tadinya saya mau mengasihani diri saya sendiri. Tapi saya pikir buat apa? Tuhan sudah banyak memberi kasih sayang buat saya. Bagi saya disayang Tuhan sudah cukup. Doa-doa saya direspon oleh-Nya pun sudah cukup. Meski saya tak lagi (saat ini) punya teman (manusia) untuk bercerita saya rasa tidak apa-apa. Kamu tahu kenapa? Karena saya punya Tuhan yang selalu ada kapan pun dan di mana pun. Dia bersedia mendengar keluh kesah serta rasa syukur saya.


Menuliskan hal ini pun salah satu bentuk saya bercerita padaNya. Dan ketenangan serta kelegaan hati yang saya dapatkan saat ini adalah salah satu bentuk jawaban dari semua pertanyaan atau penyataan yang saya utarakan kepadaNya. (Sembari lihat ciptaannya (meski berupa gambar) yang indah-indah)




AllahhuAkbar.
Saya tersenyum bisa melalui ini semua. Alhamdulillah J



Tidak ada komentar:

Posting Komentar