Kamis, 05 September 2013

Kisah Dinda 3

"Duh... perjalanan hidupmu itu keren banget sih Din. Aku jadi envy nih. Kamu selalu melakukan apa yang kamu suka. Dan yang kamu suka adalah menolong orang. Manfaat! Hidup itu kalau nggak manfaat buat apa lagi coba? Sia-sia? Betulkan?" Ujar Kak Selvi sambil mendengar ceritaku. Sabtu malam ini secara mengejutkan Kak Selvi dan Kak Ria sekeluarga datang. Katanya mau buat surprise. Maklum saja karena sebenarnya mereka janji akan datang hari minggu besok. Namun dipercepat karena katanya sudah kangen berat.

"Kakak diem dulu deh. Dinda belum selesai ceritanya. Itu nasibnya korban gimana? Dikembalikan ke negara asalnyakah atau mereka masih dinegara tempat mereka di jual?" Kak Ria yang memang senantiasa serius kalau mendengarkan cerita ingin mengetahui secara dalam.

"Alhmdulillah semua korban sudah dipulangkan ke negaranya masing-masing. Mereka juga dapat bantuan dari pemerintah setempat. Dinda juga dapat kesempatan mengantar beberapa korban kembali ke negaranya." Jelasku sembari menjelaskan terkait kasus Human trafficing yang kasusnya baru saja aku selesaikan bersama timku di negara Cina. "Para korban sampai saat ini juga masih dapat pendampingan akibat trauma yang mereka alami." Imbuhku lagi kemudian Kak Ria dan Kak Selvi mengangguk-angguk mencoba paham.

"Terus sekarang kamu di Indonesia ingin terus melakukan upaya yang sama?" Kak Ria semangat bertanya dan aku mengangguk mantap.

"Di Indonesia kasus seperti ini ternyata juga banyak Kak. Sekarang aku sama Timku akan fokus ke daerah Jawa Barat yang tinggi menelan korban." Jelasku. "Tapi... sekalian aku pulang sih. Lagi pula lebih baik menyelamatkan bangsa sendiri" imbuhku lagi lalu menggeser kursi rodaku mendekati meja. Ada kue cokelat kesukaan yang dibawa oleh Kak Ria. Aku memakannya perlahan.

"Ih aku tambah envy sama kamu Dindaaaaa" Kak Selvi mulai geregetan sembari mencubit kedua pipiku.

"Iri kenapa sih kak?" Tanyaku sembari tersenyum melihat Kak Selvi yang mulai gemas sendiri.

"Irilah sama kehebatan kamu. Kakak jadi mikir... apa yang kakak kasih untuk negara ini? belum ada. Kamu... udah berbuat bahkan untuk dunia. Keterbatasan yang kamu punya bukan penghalang untuk kamu banyak berbuat. Sementara kakak? Haduh maluuuu aku. maluuuu" Ujar Kak Selvi sementara aku tertawa melihat sikapnya yang menutup wajahnya dengan kedua tangan.

"Hei Kak... kakak itu membantu perekonomian rakyat di Indonesia. Kakak buat UKM-UKM maju. Itu produksi berbagai limbah yang kakak usung kan juga keren. Jangan selalu membandingkanlah Kak. Nanti kakak capek sendiri" Ujarku lagi sembari memakan suapan terakhir.

"Betul itu Dinda. Kak Selvi itu juga udah hebat. Masa masih kurang bersyukur sih. Kak Selvi ngggak lihat aku? Aku kalau begitu juga belum ada apa-apanya ya? Harusnya yang malu itu aku" Ujar Kak Ria mulai ikut-ikutan terpancing. Sementara aku hanya bisa geleng-geleng kepala. Mereka tetap tidak berubah.

"Kak Ria... nggak usah mulai ikut-ikutan Kak Selvi deh. Kak Ria tuh udah Subhanallah banget. Kak... kalau nggak ada guru semacam kakak maka nggak akan ada yang tercipta namanya dokter... insiyur... pengusaha... bahkan pengacara kaya aku tuh nggak akan ada. Kakak itu ilmunya bermanfaat."Ujarku sembari menjelaskan betapa mulianya menjadi guru seperti profesi yang dijalani oleh Kak Ria sampai saat ini.

Kak Ria dan Kak Selvi kemudian mengangguk-angguk paham. Secara serempak mereka berdua memelukku erat.

"Dinda... kata-kata kamu tuh dalem banget sih. Kamu tuh pinter banget. Kakak beruntung kenal dan jadi saudara kamu" Kak Ria berbisik di telingaku. 

"Kak Selvi juga seneng dan bahagia punya adik seperti kamu. Allah sayang banget ya sama kakak. Sangking sayangnya Dia kirim kamu sebagai adik kakak" Ujar Kak Selvi tak kalah. 

Kata-kata mereka berdua seolah menjadi penyejuk di hatiku.

"Alhamdulillah kalau keberadaanku ini bisa membuat kakak-kakak tercintaku berbahagia" Ujarku dan erat memeluk mereka.

Mama yang menyaksikan momen tersebut di ruang tengah bergegas ikut-ikutan nimbrung memeluk.

"Ih Tante... ikut-ikut aja deh." Ledek Kak Selvi sembari mencium pipi mamaku.

"Sini Bude aku cium." Ujar Kak Ria tak mau kalah ikut mencium pipi mamaku.

"Tante dan budemu ini seneng kalau ada acara peluk-pelukan. Apalagi sama mama-mama kalian. Ternyata nurun sama semua anaknya" Jelas mama terkekeh lalu mendorong kursi rodaku perlahan.

"Dindanya biar istirahat dulu ya. Ini udah setengah satu pagi. Kalian ke kamar sana nanti dicariin suami sama anak-anak. Udah dulu diskusinya" Jelas Mama mengingatkan dan kakak-kakak sepupuku nyengir perlahan karena memang kami berdiskusi sampai lupa waktu.

Mendengar ucapan mama barusan membuatku tertegun sendirian. Beruntungnya mereka yang sudah memiliki keluarga kecil berbahagia. Astgfirullah menyingkirlah syaitan yang senantiasa memunculkan rasa iri dan tipu daya. Aku segera menutup kedua wajahku dengan tangan.

"Kamu kenapa Sayang?" Mama bertanya melihat kelakuanku barusan.

"Eh... itu mah... ngantuk" Ujarku terpaksa berbohong. Mama kemudian mencium ke dua pipiku setelah mengantarku sampai kamar. Dengan sekuat tenaga aku memindahkan badanku pada kasur.

"Mimpi indah ya Cantik" Ujar Mama lalu menutup pintu.

Bismika Allahuma ahyana wa bismika wa amut. Dear Allah... lindungi hambamu ini.

*** 


***= bersambung


Tidak ada komentar:

Posting Komentar