Senin, 02 September 2013

Kisah Dinda

Tulisan ini spesial untuk kamu...

Seandainya kamu tahu bahwa ada yang meletup setiap kali pesanmu datang menghampiri
Seandainya kamu tahu bahwa ada yang meletup setiap kali kamu bertanya tentang kabar diri
Seandainya kamu tahu bahwa ada yang meletup setiap kali ajakan untuk bertemu itu mampu mengikis rindu.

Syukurnya kamu tidak tahu
Jika saat kamu datang menemuiku ada sepenggal hati yang bersorak
Jika saat kamu datang dengan sesungging senyum dan kepolosan ada jiwa yang berteriak
Jika saat kamu datang dengan segudang pertanyaan ada ribuan jawaban yang siap tersedia.

Kita berteman cukuplah lama. Lebih lama dari jam pelajaran di kelas. Lebih lama dari waktu bermain saat istirahat di sekolah. Lebih lama dari waktu berlarimu saat pertandingan olahraga.

Menjaga rapat rasa suka padamu tak semudah menyampaikan kebohongan setiap kali kau tanya siapa yang aku suka.
Menjaga rapat rasa sayang padamu tak semudah menyampaikan kemarahan setiap kali kau janji namun  kerap kali kau ingkari.

Seandainya kau tahu. Namun lebih baik tidak tahu. Tulisan ini hanya terdapat pada akhir pemikiranku. Sebelum pada akhirnya memutuskan untuk menyimpan ini semua secara dalam dan rapat melalui DIAM.



Aku membaca kembali buku harian yang kutulis saat duduk di kelas tiga SMP. Membaca tulisanku sendiri membuat mukaku merah dan tak pernah menyangka bahwa aku pernah jatuh cinta dengan temanku sedemikian dalamnya. Aku mengakui bahwa saat duduk di kelas tiga SMP dulu aku pernah mengalami cinta monyet. Dasar remaja... selalu saja tak akan luput dari virus merah jambu.

"Din... kamu ngapain? Lagi nostalgia sama kamarmu ya?" Ujar Mama menghampiriku di kamar. Aku mengangguk dan buru-buru menutup buku tersebut lalu menyelipkannya di antara tumpukan buku lainnya.

"Waktu itu cepet berlalu ya Ma. Dulu Dinda tinggal di rumah ini sedari kecil sampai kelas tiga SMP. Lalu setelah itu Dinda ikut tinggal sama ayah dari SMA sampai sekarang Dinda sudah lulus kuliah." Ungkapku jujur dan mama mengangguk tersenyum mantap.

"Perjalanan hidup seseorang memang tidak pernah ada yang tahu ke depannya akan seperti apa. Tapi yang pasti mama senang sekali karena sekarang kamu kembali ke rumah ini." Ujar Mama sambil memelukku erat. Pelukan erat mama sudah mendarat di tubuhku sejak roda-roda penyangga  menjejak kembali di bandara sore tadi. 

Ayah dan mama sudah berpisah semenjak aku duduk di bangku SD. Saat itu mama mempertahankan diriku sebagai pemegang hak asuh anak secara total. Namun peradilan berkata lain. Ayah mendapatkan kesempatan yang lebih besar untuk memegang penuh hak asuhku. Sehingga jadilah setelah lulus SMP ayah menarikku ke negeri kincir angin tempatnya berasal.

"Ma... Dandra masih tinggal di sebelah?" Tanyaku ragu sembari memastikan keberadaan teman sepermainanku dulu yang mampu membuat diriku berjatuhan rasa. Mama mengangguk tersenyum.

"Dia sekarang sudah jadi dosen lho. Dulu kamu naksir dia ya?" Mama mencoba menerka. Dalam senyum malu aku mengangguk perlahan. Mengiyakan dan membenarkan bahwa rasa sukaku padanya memang ada dan dulu terpendam.

"Itu kan dulu Ma... masa-masa remaja yang tak pernah tahu cinta sesungguhnya itu apa. Sekarang sudah berbeda." Ujarku yakin bahwa sebenarnya rasa itu telah memudar dan menghilang karena pada akhirnya aku sudah tahu siapa cinta sejatiku yang harus kukejar dan senantiasa kuharapkan. Allah!

"Dinda yang dulu sama Dinda yang sekarang sudah banyak berubah. Dulu Dinda tomboi. Sukanya main PS, mobil-mobilan. Sekarang... sudah jadi pengacara andal. Anggun dengan jilbabnya..."

Aku tersenyum mendengar pujian dari mamamku sendiri.

"Oh iya... Dandra udah tahu lho kamu datang hari ini. Soalnya kemarin dia tanya ke mama. Jadi mama kasih tahu." Ujar mama lagi lalu aku mengangguk tersenyum.

Meski sudah lebih dari tujuh tahun tidak saling bertatap muka namun tetap saja kami menjalin komunikasi sederhana lewat kiriman email dengannya. Hanya saja email-email kami sekadar sebuah formalitas bahwasannya kami adalah teman saat kecil dulu.

"Terakhir aku kirim email ke dia pas ngucapin lebaran tahun lalu Ma." Akuku jujur 
"Ya udah besok kita ke rumahnya aja. Sekalian kamu anter oleh-oleh yang kamu bawa. Nggak habis kalau kita makan semua cuma berdua." Jelas mama dan akupun  mengangguk setuju.
                                                                  ***


Tidak ada komentar:

Posting Komentar