Senin, 09 September 2013

Nasehat untuk Wina

“Nggak usah cemberut gitu kenapa sih. Senyum sedikit dong. Tahu nggak kata Rasulullah SAW salah satu penghuni neraka itu orang yang bermuka masam” Ujarku pada Wina yang semenjak pagi hingga sore ini hanya manyun saja.



 Aku udah nggak ngerti lagi dengan ekspresi sahabatku yang over lebai ini. Oke aku tahu saat ini masalah yang dihadapinya memang lumayan”berat” bagi dia. Tapi kalau bagiku sih biasa saja. Mungkin memang karena aku tak merasakan apa yang dia rasakan. Tapi posisiku di sini lumayan sulit. Aku harus berusaha mengembalikan moodnya ke keadaan semula. Seperti sedia kala. Kau tahu kenapa? Ya karena dia sahabatku dan aku adalah sahabatnya.

          “Nih gue senyum” Ujar Wina lagi sambil memperlihatkan deret giginya yang berkawat. Aku hanya bisa geleng-geleng kepala saja. Bukan senyum terpaksa yang kumaksud. Tapi sepertinya saat ini dia tak mau paham.

          “Yaudahlah daripada kehadiran gue di sini tak memberikan efek apa-apa lebih tepatnya tidak bermanfaat mendingan gue pulang.” Jelasku setengah mengancam. Sudah lebih dari sembilan jam aku menemani Wina merenung di kamarya. Dia sih yang yang merenung sementara aku sesekali sibuk membaca majalah politik dan ekonomi yang menjadi lumatan mata Wina sehari-hari. Aku salut dengan sahabatku ini. Ia selalu kejar mimpinya dengan tekad dan semangat. Tapi kesalutanku saat ini padanya sedikit luntur. Apalagi coba kalau bukan terkait mimpinya yang tiba-tiba ingin dihapuskan begitu saja. Seperti bukan dia saja.

          “Jangan pulang. Temenin Gue! Nasehatin gue! Lo nggak tahu sih. Gue tuh udah patah hati. Topik tesis gue disuruh ganti tiba-tiba. Semua numpuk! SEBEL banget sama dosen-dosen gila! Udah nggak ngerti lagi mereka maunya apa sih? Mau ngancurin hidup gue? Gila!” Wina mulai berapi-api kembali.

          “Istgihfar Win. Lu kaya orang nggak berTuhan aja!” Ketusku sekenanya. Sudah berkali-kali Wina mengeluhkan apa yang tengah dihadapinya kini. Wina seketika menutup muka dengan kedua tangannya. Tak berapa lama ia merepalkan kedua tangannya. Meninju bantal di sekitarnya.

          “Gue pulang ah. Temen gue lagi dirasuki syaitan!” Aku meninggikan suara. Kakiku mulai melangkah ke luar dari kamarnya. Namun tangan Wina erat menariku. Menahan agak aku tak melanjutkan langkah ke luar kamar.

          “Gue mau Lo dengerin gue ngomong. Terus nanti Lo nasehatin Gue. Gue akan denger semua nasehat Lo!” Wina merajuk sementara aku tetap menggeleng. Aku sudah hapal dengan cara dan sikapnya. Tetap saja percuma jika aku memberinya nasihat. Tak satu pun nasihatku yang dilakukan atau sekadar diingat. Semuanya hanya masuk lewat telinga kanan dan keluar di telinga kiri.

          “Gue janji…Demi Tuhan gue akan ngelakuin apa yang lo nasehatin. Tentu selama nasehat dari Lo bener-bener bisa balikin mood gue dan gue yakin dengan nasihat Lo gue akan jadi lebih baik” Ujar Wina lagi sembari mengacungkan jari telunjuk dan tengahnya secara bersamaan. Aku menghela napas perlahan. Aku tak suka jika Wina sudah membawa-bawa nama Tuhan. Sebenarnya… tanpa menyebut nama Tuhan saja jika dia sudah berjanji harus menepati.

          Aku terdiam menatapnya yang kini mulai kusut seperti benang tanpa jalan keluar. Kalau saja dia bukan sahabatku mungkin saat ini aku sedang beristirahat di rumah bersama Ibu dan adikku.

          “Ya udah… Lo cerita yang belum lo certain ke Gue. Uneg-uneg sekalian biar plong.” Ujarku pada akhirnya.

          “Kenapa sih laki-laki itu brengsek. Dan kenapa dosen-dosen gue ikut-ikutan brengsek. Gue patah hati sepatah-patahnya. Sakit Ra… sakit banget. Giliran gue lagi patah hati tahu-tahu dosen pembimbing gue ikut-ikutan berulah.  Lo tahukan udah sejak lama gue mengajukan topik tesis. Awal-awal dia bilang oke. Eh… tahu-tahu kemarin dia nyuruh gue ganti topik. Dipikir nyari topik baru itu gampang apa? Padahal gue udah ngumpulin referensi dari mana-mana. Gue mau udahan kuliah aja.” Wina kembali berapi-api sembari menangis.

          Aku hanya membelai rambutnya yang sudah tak tersisir semenjak pagi tadi. Ia menangis tersedu. Aku mendiamkannya. Sebelumnya Wina sudah cerita terkait kisah cintanya yang kandas begitu saja. Entah bagaimana cerita detailnya yang aku tahu Wina diputus begitu saja sama pacarnya. Ah pacar ya? Seenaknya saja manusia memproklamirkan hubungan antar manusia lalu dengan mudahnya dia bilang kisah sudah usai. Andai cinta dan hubungannya senantiasa melibatkan Tuhan pasti tak akan begini ceritanya. Wina mengelap air matanya yang tumpah lalu ia mulai berbicara lagi.

          “Okelah kalau masalah Dito gue termasuk kategori tolol setolol-tololnya. Padahal jelas-jelas Lo udah berulang kali nasehatin gue untuk nggak pacaran. Tapi emang dasar guenya aja yang gila! Tapi kenapa itu para dosen ikut-ikutan Ra? Gue kemarin pede banget dan yakin sama topik yang gue ajuin. Eh tahu-tahu kemaren dosen gue bilang topik gue terlalu ketinggian. Disuruh ganti gitu aja. Gue langsung ciut kaya bantalan rel di malam hari Ra denger omongan dosen gue. Seenaknya aja dia bilang ganti! Gue sebel Ra. Numpuk semua!” Wina menangis lagi. Aku tetap saja diam. Biar Wina menyelesaikan semua uneg-unegnya di kepala lewat kata-kata. Hampir sekitar lima belas menit Wina menangis.

          “Udah semuanya dikeluarin?” Tanyaku dan Wina mengangguk. Kini ia menatapku penuh harap. Aku ini hanya seorang sahabat yang mampu menjadi pendengar dan pemberi nasehat sesuai apa yang aku pikirkan. Jika kata-kataku berterima di hatinya bersyukurlah aku. Jika tidak? Aku tetap akan bersyukur setidaknya ada usaha dariku untuk menyemangati sahabat kuliahku di S1 dulu.

          “Win… kalau terkait Dito… Ya Lo tahulah pandangan gue yang emang dari awal udah nggak setuju dengan jalan pacaran yang Lo pilih. Jadi itu adalah risiko yang memang seharusnya udah siap untuk Lo terima. Tapi kalau kata gue Win… Tuhan itu yang ciptain hati Lo. Dan gue rasa Tuhan juga nggak akan ciptain hati yang mudah patah untuk umatnya. Hati lo tuh kuat. Percaya deh. Gue aja percaya” Jelasku bersemangat. Wina menatapku tajam. Ia mengangguk perlahan. Membenarkan apa yang baru saja aku ucapkan.

          “Lo sakit hati sekali kan Win?” Tanyaku lagi dan Wina mengangguk mantap. “Untung Lo sakit hatinya sekali. Jangan sampa Lo sakit hati untuk yang kedua atau ketiga kali.” Jelasku. Semoga Wina paham dengan ucapanku yang menyiratkan bahwa jangan sampai dia mengulang kesalahan yang sama dengan cara pacaran lagi. Wina terdiam merenungkan setiap kataku.

          “Kalau terkait lo mau keluar dari kuliah ataupun udahan gue sih cuma bisa bilang “sayang dan kasihan”. Bukannya itu mimpi Lo ya? Ibarat kata nih ya… Lo udah rancang terus udah lo olah tinggal lo poles-poles dikit eh malah mau lo tinggalin gitu aja. Itu baru yang namanya BEGO!” Aku keceplosan berkata kasar karena sudah mulai ketularan dirinya. Bergegas aku beristigfar! Wina tersenyum melihat tingkahku.

          “Nggak usah ketawa dulu. Gue belum selesai ngomong! Lo bilang diri lo kaya bantalan rel yang menciut di malam hari. Bukannya bantalan rel itu kuat ya? Bukannya hampir setiap hari ratusan kali comutterline mondar mandir lewat di atasnya?” Jelasku mengembalikan perumpamaan yang diambilnya.

          “Tapi kan bantalan rel di malam hari menciut Ra. Kalau pagi atau siang baru dia memuai” Wina tak mau kalah dengan pendapat terhadap posisi yang dirasakannya saat ini.

          “Heh… Lo pikir comutterline lewatnya Cuma pagi atau siang doang? Malam juga lewat kali. Buktinya dia kuat-kuat ajau tuh dihajar atau dilewatin ratusan comutterline yang lalu lalang.” Aku membungkam argument Wina. Dia terdiam tak menyerang balik pendapatku.

          “Harusnya lo juga bisa sekuat bantalan rel itu. Mau pagi mau siang. Nggak peduli deh pagi atau siang. Lo harus kuat dihajar. Selama lo yakin bahwa yang Lo lakukan atau topik yang Lo angkat bagus. Maju terus. Mau dibilang ketinggian atau enggak sekarang gini deh. Berapa orang yang bilang ketinggian? Satu? Dua? Tiga? Lo udah konsul sama dosen-dosen yang lain? Coba terus bicarakan topik Lo dengan serangkaian argumentasi kuat yang biasa Lo lakuin. Gue curiga kayanya itu dosen cuma ngetes Lo doang. Dia kayanya mau tahu seberapa kuat lo memperjuangkan itu semua. WAKE UP Dear!” Aku telanjur bersemangat sampai-sampai menggenggam kedua bahu Wina. Wina tersentak. Gantian aku yang over lebai. Aaaakkkk

          “Istighfar Lo Ra!” Wina mengingatkan dan aku bergegas beristighfar. Astagfirullahhaladzim…

          “Tuhan itu percaya bahwa Lo bisa melalui ini semua. Selama Lo inget kalau Lo masih punya Dia. Kadang Lo nggak inget aja Tuhan masih sayang sama Lo. Lo perjuangin apa yang memang layak Lo perjuangin. Dan Lo harus nangisin apa yang emang layak Lo tangisin. Semua ada pada tempatnya! Jalan mewujudkan impian itu emang nggak mudah dan nggak gampang. Tapi asal lo masih terus mau usaha dan yakin pasti Tuhan akan kabulkan.” Aku kembali membuka suara. Semoga Wina paham maksud dan tujuan dari kata-kataku. Semoga…

Wina tersenyum pun halnya dengan diriku. Kemudian ia memeluku erat. Sebuah senyuman lebar dan tulus kini menghiasi wajahnya.

Thank you Rara! Love You so much Dear!” Ujar Wina
Suasana kamar tiba-tiba sepi. Sayup-sayup azan Magrib berkumandang. Hangat!


Tidak ada komentar:

Posting Komentar