Kamis, 26 Desember 2013

Keluarga Malaikat

Selamat Pagi!!!!!!
Lebai deh pagi-pagi gini semangat memuncak. Biarin daripada pagi-pagi malas-malasan. Hihihihihihihi.
Kali ini aku akan menceritakan seklumit kisah perjalanan di Medan. Sebenarnya ceritanya banyak sekali tapi untuk kali ini aku mau cerita tentang keluarga Malaikat.

Siapa sih sebenarnya keluarga malaikat? Mari simak ceritanya sebagai berikut!

Selama belajar di Medan hingga 10 hari aku banyak bertemu dengan manusia dari segala lini. Mulai dari pengajar yang berasal dari Riau, seorang staf TU dari universitas Panca Budi, Ibu Rumah Tangga, gadis lulusan SMA dari Aceh bahkan seorang pengusaha pempek dari Makasar. 


Selama di Medan jadwalku berada di sana sekitar 13 hari. 10 hari kupergunakan untuk belajar sisanya tiga hari kuniatkan untuk jalan-jalan. Jujur aku tak memiliki saudara di sana. Jadi aku meniatkan diriku bersama Kak Eti dan juga mama yang menjadi teman seperjalanan untuk tinggal di Surau. Namun apa yang terjadi? jeng... jeng...

Sebelum hari belajar usai, tetiba seorang kakak cantik menawari kak eti untuk singgah di rumahnya. Lalu bergantian ia menawariku dan juga mama. Amboi... Di sana aku memang tak punya saudara sedarah atau kandung. Namun Tuhan memastikan dan meyakinkan bahwa aku memiliki saudara seiman!

Menimbang dan memustukan pada akhirnya sebagai ketua rombongan, mama setuju untuk menerima tawaran dan ajakan dari kak Wina. Jadilah kami saat tanggal 21 Desember 2013 mengikuti Kak Wina untuk singgah di rumahnya. Kak Wina dijemput oleh keluarganya kebetulan ia juga belajar seperti yang tengah kulakukan di Medan. Aku mengenalnya tak lebih dari 10 hari. Namun kebaikannya tak kupungkiri bahwa beliau dan keluarganya seperti malaikat yang dikirim Tuhan untukku, mamaku, dan juga Kak Eti.

Rumah Kak Wina di daerah Asahan. Ternyata setelah kami menjejak ke rumahnya, kami baru mengetahui bahwa beliau dan suami bekerja sebagai seorang pedagang. Yap! mereka memiliki kafe di depan rumah yang berada tepat di pinggir jalan raya. Selaian kafe mereka pun memiliki sebuah toko gypsum yang selalu ramai. 
rumah kak wina dari depan. Barang dagangan gypsum menghiasi ruang depan


Kak Wina dan Aku saat berada di kapal menuju Pulau Samosir


Satu hal yang kudapati dari keluarga malaikat tersebut.... mereka benar-benar berakhlakul karimah! Memuliakan tamu dengan begitu ramah. Bayangkan... kami diberikan tempat di kamar utama. Kamar mereka... sementara mereka (diam-diam aku cari tahu) tidur hanya beralaskan tikar di kamar lain. Ada kamar lain juga tapi itu dipergunakan untuk kamar para pegawainya. Masha Allah.... 

Tanggal 22 Desember 2013
Keluarga Malaikat ini secara heboh mengajak kami berjalan-jalan ke Danau Toba. Amboi... kata mereka kalau belum ke sana belum bisa di sebut ke Medan. Padahal jarak dari rumah ke danau toba lumayan cukup jauh. Tapi mereka benar-benar bersemangat mengajak kami berputar-putar.

Sepasang malaikat (Kak Wina dan suami)
Foto ini diambil saat mereka mengajak kami jalan-jalan ke pantai citra


Aku tak ingin menceritakan secara lengkap tentang keluarga malaikat ini. Nanti aku menangis karena rindu mereka! Mereka baik sekali... seperti malaikat! Dan mereka bagiku memang malaikat yang dikirim Allah dalam bentuk manusia. Apapun mereka berikan, mereka selalu menyenangkan hati orang lain. Aku sangat percaya bahwa Allah lah yang akan menyenangkan hati mereka!

Allahuma aamiin. Ternyata Medan memberikan banyak pelajaran. Aku punya banyak puisi untuk keluarga malaikat ini. Tak semuanya bisa kutuliskan di sini. Kenapa? Aku punya buku harian. Semua sudah kutuliskan di sana. Lebih lengkap dan lebih padat.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar