Jumat, 06 Desember 2013

Sepasang Kambing di Sebrang Ratu Plaza

Teduh

Siang itu jam di tanganku menunjukkan pukul 11.30. Matahari sedang asyik merambah lebih tinggi untuk menyinari Jakarta secara terbuka. Usai sudah tugasku di siang itu menghadapi keangkuhan Jakarta yang memang tak pernah kusuka!

Kalau saja bukan karena rasa cinta dan kasih aku tak mungkin berada di tempat itu lebih lama. Ya... cinta telah membuatku lupa bahwa aku tak suka dengan keramaian dan hingar bingar kendaraan. Aliran darah yang bersumber dari seorang yang sama pada akhirnya membuat cinta kasih itu tumbuh dan membuat diri ini (terpaksa) bergerak dan berinteraksi dengan Jakarta secara lebih lama daripada biasanya. 

Aku meninggalkan sebuah bangunan tua tempat manusia menyelesaikan urusan dunia. Tugasku sudah usai sehingga tak salah jika aku memutuskan untuk segera meninggalkan bangunan tersebut dan kembali membersamai jalanku di setiap waktu.

Lalu-lalang kendaraan berwarna-warni seolah menjadi pemandangan menjemukan bagi mata. Tak ada yang indah dan berfaedah! Semua sama saja… sama-sama mengeluarkan asap tebal yang membuat Jakarta semakin suram!

Untung aku tak pernah meninggalkan cadar sederhana berwarna biru dengan hiasan kartun panda yang senantiasa melekat di wajahku. Jalanku dipercepat karena aku tak ingin siang mengejar secara garang. Sampailah aku di beberapa anak tangga yang mengantarkan diri untuk berjalan lebih tinggi di antara lalu-lalang kendaraan. Selama berjalan di atas aku semakin merasa risih karena bangunan-bangunan yang berdiri di hamparan tampak begitu kuasa memiliki keangkuhan. Tak ubahnya dengan beberapa bangunan baru yang merasa akan menjadi pesaing utama dengan cita rasa bentuk berbeda dari yang lalu.

Kakiku melangkah lagi tapi kali ini aku menuruni anak tangga. Ada keteduhan yang dapat mata rasakan saat melihat sepasang kambing yang sedang asyik bercengkrama secara sederhana. Mereka duduk berbaring berdua di bawah naungan bayangan pohon rindang. Mata ini merasa lebih nyaman melihat makhluk ciptaan Tuhan yang begitu “sederhana” di tengah keangkuhan bangunan tinggi menjulang.

Sepasang kambing itu mengawasi mataku… perlahan tapi pasti segera kukeluarkan alat komunikasi yang dapat mengambil gambar dengan resolusi rendah tapi bernilai istimewa! Aku mengambil gambarnya dan sepertinya sepasang kambing itu pasrah ketika secara sadar kuambil gambar mereka.

Dalam hati aku bergumam sendiri… mungkinkah mereka ingin berpose lebih ekstra. Aku melempar senyum kepada sepasang kambing sebagai bentuk ucapan terima kasihku karena telah diperkenankan mengambil gambarnya.

Sepasang kambing di sebrang ratu plaza
Cantik!



Tidak ada komentar:

Posting Komentar